Bab 7

1796 Words
Ginny tanpa perlu disuruh langsung berlari kearah stand makanan, Asyira dan Renee sudah membaur dengan sekitar. Kini tinggal aku dan Megan yang tidak tahu harus berbuat apa, kami berjalan kepinggir ruangan, hampir bersandar dengan dinding. Bisa kulihat semua yang disini berusaha menampilkan yang terbaik dalam segi penampilan, para cewek nampak cantik dan para cowok bisa dibilang lebih dari tampan. Tidak butuh waktu lama sampai seorang cowok menghampiri kami, menghampiri Megan lebih tepatnya. Mereka berdua pergi, dan tinggal aku yang tampak bodoh disini. Aku berusaha tampak menikmati pestanya, mengangguk-ngangguk sedikit seperti menikmati musik. Dari kejauhan aku bisa melihat Sam, dia nampak seperti ratu pesta. Dengan gaun merahnya yang menyala, dan rambut pirang ikalnya yang digerai sempurna. Dia nampak seperti model majalah yang terdampar disini. Tidak ketinggalan dengan para dayangnya, yang selalu mengikutinya seperti anjing setia. Dan  para penggemarnya tentu saja, cowok-cowok yang rela melakukan apapun hanya untuk bisa mendapatkan ciuman dari bibir Sam. "Kau tampak murung." Suara seseorang mengejutkanku. Aku menoleh untuk melihat siapa itu, ternyata hanya Noah. "Tidak, aku cukup menikmati ini." Bohongku. "Bagus sekali, mata-mata memang harus pandai berbohong." Katanya, masih dengan senyum lebarnya yang khas. "Tapi aku tidak begitu bagus, kau mengetahuinya." Kataku. Noah tertawa. "Aku memang calon mata-mata yang hebat." Katanya, dengan nada bangga yang dibuat-dibuat. Aku terkekeh, sulit rasanya menahan tawa kalau melihat senyum Noah. Seakan senyumnya membuat orang lain ingin ikut tersenyum juga, dan tawanya juga menarik seseorang untuk ikut tertawa bersamanya. "Kau butuh minum, akan kuambilkan." Katanya. "Thanks." Kataku, sebelum dia pergi. Aku kembali sendirian, tapi ternyata tidak untuk waktu yang lama. Seorang cowok bertubuh atletis, lengan kemeja birunya digulung sehingga memperlihatkan otot lengannya yang besar, rambut pirangnya di sisir berantakan dengan sengaja, dan sorot matanya jahil. Dia berjalan kearahku, semakin dekat hingga akhirnya jarak kami cukup dekat untuk bisa berbincang-bincang. "Pacarmu?" Tanyanya dengan logat yang aneh. "Siapa?" Tanyaku balik. "Cowok yang sedang mengambilkanmu minum." Katanya, dengan nada santainya. "Noah? Tidak. Kami baru bertemu." Jawabku. "Kalau begitu aku bisa menemanimu malam ini?" Tanyanya, dan instingku sebagai wanita tahu dia sedang menggodaku. "Entahlah, aku tidak yakin dengan hal itu." Jawabku. Dia mengulurkan tangannya, "Anzor." "Liz." Balasku. "Nama yang lucu." Katanya, sambil berlama-lama menjabat tanganku. "Nama yang aneh." Kataku. "Darimana asalmu?" Tanyaku. "Rusia, disanalah tempatnya cowok-cowok seksi berada." Katanya, mengusap-ngusap punggung tanganku dengan ibu jarinya. Aku segera menarik tanganku. "Kalau begitu, kurasa karena itu mereka mengusirmu." Anzor menaikan sebelah alisnya. "Menarik sekali." "Permisi." Suara Noah tiba-tiba muncul, dia memberikanku segelas minuman berwarna hijau. "Thanks." Kataku. Noah berdeham cukup keras, cukup keras untuk didengar Anzor dan membuatnya pergi. "Tidak perlu kasar begitu." Kataku. "Apa dia menganggumu?" Tanya Noah. "Sama sekali tidak." Jawabku, nada suaraku sedikit meninggi karena kesal. "Kalau begitu maafkan aku." Katanya, bahunya menurun. Aku menghembuskan napas. "Tidak perlu, kau tidak tahu." Aku menepuk bahunya, menceriakannya. "Dansa?" Tanyanya, sambil tersenyum lebar khas Noah. Tanpa sadar aku ikut tersenyum. "Ide yang bagus." Noah mengambil minuman di tanganku dan menaruhnya di meja terdekat, setelah itu dia menarik lembut tanganku ketengah lantai dansa. Kami hanya berputar-putar membentuk lingkaran kecil sambil diiringi alunan musik yang lembut. "Apa kau murid baru atau lanjutan?" Tanyanya ditengah-tengah dansa kecil kami. "Baru. Dan kau?" "Ini semua sama-sama hal baru untuk kita." Jawabnya. "Apa kau sudah siap dengan tesnya? Kudengar tes itu cukup berat." Tanyanya. "Mau ti-" kata-kataku terpotong karena suara bisik-bisik yang ramai dan jeritan tertahan dari para cewek. Aku menoleh kesana kemari untuk melihat apa biang keributannya, ternyata hanya Aldo. Aldo datang dengan kemeja hitam polos, rambutnya berantakan seperti orang habis bangun tidur. Atau memang benar, karena itulah dia baru datang. Beberapa cewek terlihat sedang merapihkan dandannya, beberapa sedang menurunkan pakaiannya agar dadanya semakin terlihat. Satu kata, menjijikan. Dan hal yang menyedihkannya adalah, Aldo hanya melewati mereka, sama sekali menghiraukan mereka, melirik sedikitpun tidak. Tapi dia melirikku, bukan, dia menatapku. Gilanya lagi, dia berjalan melewati cewek-cewek bak model itu tapi dia malah berjalan kearahku. Dia menyebrangi lantai dansa, lalu berhenti didepanku. "Apa yang kau lakukan?" Tanyaku, aku berbicara sepelan mungkin dan berusaha tidak terlalu membuka mulutku. "Ada yang ingin kukatakan padamu, ikut aku." Suruhnya. "Tunggu dulu, aku tidak bisa begitu saja pergi denganmu." Aku memperhatikan sekitar, cewek-cewek mulai banyak yang berbisik-bisik, beberapa nampak sedih, beberapa nampak kesal -sangat kesal. Tapi tanpa peringatan Aldo menarik lenganku, menyeretku keluar dari lantai dansa, meninggalkan Noah yang melihatku dengan terbingung-bingung. Aldo membawaku keluar dari aula, keujung lorong yang sepi dimana suara musik sudah tidak bisa terdengar. "Ada apa?" Tanyaku kesal, melepaskan tanganku dari cengkramannya yang kuat. "Kelas apa yang kau inginkan disini?" Tanya Aldo. "Lapangan, dengan masuk kelas itu aku bisa lebih kuat." Jawabku. "Aku tahu kau akan memilih itu, walaupun sebenarnya aku ingin kau memilih kelas analis." Kata Aldo, tangannya merogoh-rogoh saku celananya. "Kenapa kau ingin aku masuk kelas analis?" Tanyaku. "Karena kau tidak akan bertahan di kelas lapangan." Jawabnya, dia menyerahkan sebuah kertas yang sudah dilipat kecil-kecil. "Apa ini?" Tanyaku, membuka kertas itu. "Pertanyaan untuk tes besok." Aku melipat kembali kertas itu dan menyelipkannya di lipatan dressku. "Kau membantuku untuk curang?" Aku terkejut dengan sikapnya, maksudku dia seorang guru! "Aku membantumu lolos tes, karena tanpa ini, kau tidak akan bisa masuk kelas lapangan. Pelajari ini, cari jawabannya. Kau tidak akan menemukannya di internet, pergilah ke perpustakaan. Akan ada dua tes, pengetahuan dan fisik. Jika ingin masuk kelas analis, kau hanya perlu lolos di tes pengetahuan. Jika ingin kelas lapangan, kau harus lolos di keduanya. Aku tidak bisa membantumu di tes fisik, hanya ini yang aku bisa. Dan jangan beritahu siapapun tentang ini, itu bisa membawa masalah padaku" Jelas Aldo panjang lebar. "Aku harus berterimakasi untuk ini, jadi thanks." Aldo mengangguk. "Sekarang pergilah keperpustakaan." Desaknya. "Apa, sekarang?" "Iya, aku harus kembali ke pesta, kalau tidak mereka akan curiga. " "Mereka juga akan curiga kalau aku tidak kembali kesana. Dan perbuatanmu didalam sana sudah sangat menarik perhatian dan membuatku mendapat masalah. Apa kau sadar berapa cewek yang cemburu padaku didalam sana? Hampir semua." Aku hampir berteriak padanya, kalau saja aku tidak ingat dia baru saja membantuku. "Kenapa mereka cemburu?" Tanya Aldo dengan polosnya. "Kau bercanda? Kau bahkan tidak menyadarinya?" Aku sedikit malas mengatakan ini, tapi aku mengatakannya. "Mereka tergila-gila denganmu. Kau seperti guru tampan favorit yang selalu muncul di imajinasi mereka." Aldo hanya menggeleng. "Tapi kau tetap harus ke perpustakaan sekarang, butuh waktu yang lama untuk mencari jawabannya." "Oke." Kataku, pergi meninggalkan Aldo. Tapi aku bisa mendengar suara langkah sepatu Aldo dibelakangku. Aku berjalan dengan langkah lebih cepat, namun sebelum melewati pintu aula, aku berbelok dan masuk kembali kedalam pesta. Mataku mencari-cari seseorang yang sangat ingin kutemui sekarang. Aku mencari Noah didalam pesta, tapi yang aku lihat adalah tatapan kesal para cewek disini. Dan saat Aldo  masuk kedalam ruangan dan melewatiku, tatapan nanar semakin menjadi-jadi terarah padaku. Aku kembali memfokuskan mataku mencari Noah, dan menemukannya sedang bersandar di pojok ruangan. Aku dengan langkah besar-besar dan cepat segera menghampirinya. Melihatku yang datang kearahnya, dia nampak sangat terkejut. "Apa yang terjadi?" Tanya Noah. Aku mencoba untuk tampak setengang mungkin. "Tidak ada." "Kalau kau tidak mau jujur padaku, tidak apa." Noah tampak kesal. "Bukan seperti itu, aku hanya mencoba menenangkan diriku sendiri." "Berarti memang benar ada yang terjadi kan Liz." Kata Noah. "Ya, aku ingin membagi sesuatu padamu. Sesuatu yang akan sangat menolong kita dalam tes besok." Kataku. "Apa itu?" Tanya Noah. "Sebelumnya, kelas apa yang kau inginkan?" Tanyaku. "Kelas lapangan, kenapa memangnya?" Jawab Noah, sambil terus memberikanku pertanyaan balik. Aku berpikir harus membantu Noah juga, karena kami adalah murid baru. Aku sama sekali tidak tahu apa-apa tentang mata-mata, dan kupikir dia juga. Dan kami sama-sama ingin masuk ingin masuk kelas lapangan, itu artinya kami harus lolos di kedua tesnya. Aku berpikir akan memberi tahu Megan tentang ini juga, tapi dia ingin masuk kelas analis, jadi kupikir dia tidak terlalu membutuhkan ini. "Aku memiliki bocoran pertanyaan." Jawabku sambil berbisik. Mata Noah membelalak. "Mr. Masen yang memberikannya?" Aku mengangguk. "Itu bisa membawa masalah padamu." Katanya, entah mengapa dia terdengar kesal. "Ini juga bisa membuat dia dalam masalah." "Tapi, kenapa dia melakukan ini? Ini melanggar peraturan. Atau ini sebuah jebakan Liz, ini sebuah tes. Jangan percaya padanya." Kata Noah. Noah ada benarnya juga. "Tapi kalau ternyata ini benar, ini bisa membuka kesempatan kita. Aku harus masuk kedalam lapangan, dan cara ini benar-benar bisa membantuku. Ini juga bisa membantumu, kalau kau mau." Noah diam. "Terserah kau ingin ikut apa tidak, yang jelas aku akan tetap pergi untuk mencari jawabannya." Kataku, berbalik badan hendak meninggalkan Noah, tapi dia menarik lenganku. "Aku ikut. Tapi kita tidak bisa keluar begitu saja dari pesta. Beberapa anak mulai membicarakanmu Liz, kau baru saja ditarik oleh seorang guru. Kita harus membuat sandiwara yang tidak dicurigai." Kata Noah. "Bagaimana, ada ide?" Tanyaku. Noah mendorongku ke tembok, "Jangan berpikiran buruk padaku." Katanya, lalu dia mendekatkan bibirnya di tengkukku. Aku bisa merasakan hangat napasnya menjalar disepanjang leherku, tapi aku tidak bisa merasakan bibirnya. Dia tidak sedang menciumiku, dia hanya berpura-pura menciumiku. Lalu sedetik kemudian, Noah mengangkat tubuhku dengan mudah, dia berjalan dengan cepat lalu keluar dari Aula. Setelah merasa cukup jauh dan aman, dia menurunkanku. "Kenapa kau lakukan itu?" Tanyaku. "Mereka akan berpikir aku membawamu kekamarku." Jawabnya. "Apa? Tapi aku tidak mau mereka berpikiran seperti itu." Kataku marah. "Kau tidak mau?" "Tentu saja tidak. Aku tidak mau mereka menganggapku cewek gampangan!" Bentakku. "Tenang Liz, mereka tidak akan menganggapmu seperti itu. Mereka semua sesungguhnya jauh lebih gampangan, percayalah." Kata Noah meyakinkan. "Sekarang kita harus kemana?" Tanyanya. "Perpustakaan." Jawabku, menarik lengannya untuk berlari bersamaku. Kami berlari menuju perpustakaan, aku menenteng highheelsku sehingga aku berlarian dengan telanjang kaki. Noah yang melihat hal itu tidak bisa berhenti tertawa. Ketika kami sampai, Noah yang lebih dulu masuk. Perpustakaan nampak sepi, tidak ada orang sama sekali, semuanya pergi kepesta. Saat malam hari seperti ini, perpustakaan tampak menyeramkan. Kami mencari meja di paling pojok dan paling belakang. "Sekarang mana pertanyaannya?" Tanya Noah. Aku mengeluarkan kertasnya dan membukanya diatas meja. Kami membacanya dengan seksama. Dilihat dari tulisannya, aku tahu betul ini asli tulisan tangan Aldo. "Pertanyaan apa ini? 'Alat apa yang digunakan untuk membuat sebuah proyeksi bayangan palsu?'" Noah sudah bingung sejak pertanyaan pertama. Kami membaca semua pertanyaan yang berjumlah 100 bulir itu, dan tidak satupun yang dapat kami jawab. Kami mulai mencari-cari buku yang mungkin ada jawaban dari semua pertanyaan ini, kami membaca satu persatu buku yang tebalnya lebih dari seribu halaman. Dan hasilnya, satu persatu pertanyaan itu mulai terjawab, walau dengan waktu yang lama. Aku melihat jam dinding, sudah menunjukan jam empat pagi dan tinggal satu pertanyaan lagi yang harus kami jawab. Kepalaku sudah sangat pusing, tapi Noah masih terlihat kuat. Matanya masih terus bergerak-gerak membaca tulisan didalam buku. Dan ketika Noah menuliskan jawaban yang terakhir, dia menguap. "Sekarang kita tinggal menghafalnya saja." Kata Noah. Kami menghafal jawabannya bersama-sama, sambil terkantuk-kantuk. Jam lima pagi akhirnya kami benar-benar selesai dan keluar dari perpustakaan. Dengan langkah lunglai dan mengantuk, kami berjalan menuju asrama. Ketika sampai di.perbatasan antara asrama cowok dan cewek, kami berpisah. "Semoga berhasil untuk hari ini Liz." Kata Noah. Dia memberikanku kertas pertanyaan yang sudah di jawab padaku. "Kau juga." Kataku, dan akhirnya kami berpisah. Aku berjalan perlahan menuju kamar asramaku, berusaha setenang mungkin agar tidak menganggu yang lainnya. Aku memutar kenop pintu asramaku, terkunci. Aku mengetuk pelan, "Renee, Ginny, siapapun tolong buka pintunya." Aku mengetuk lagi, kali ini lebih keras. Pintu akhirnya terbuka, wajah Asyira yang mengantuk muncul dari balik pintu. Aku menerobos masuk dan meninggalkan Asyira yang masih berdiri dibelakang pintu dengan mulut mengaga. Aku berjalan ke ranjangku, melemparkan tubuhku keatasnya. Dan dalam beberapa detik saja, aku terlelap.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD