"Jillian! Jillian! Please come back!" Jillian mendengar suara kakaknya Julian, namun suara itu semakin lama semakin menjauh dan menghilang. Dan Jillian merasa berada dalam sebuah kegelapan yang tak berujung. Sebuah tangan meraih Jillian dengan kuat. Tubuh Jillian menjadi sangat berat akibat gaunnya yang berhiaskan banyak manik-manik. Ditambah dengan bahan dari gaun pengantin yang menjadi berat jika direndam dalam air, membuat pria itu semakin kesulitan untuk menarik Jillian keluar dari kedalaman laut. Tangan itu menarik Jillian dengan paksa dan berusaha membawanya ke permukaan laut. Pria itu menyimpan banyak kekuatan yang membuat Jillian berangsur-angsur naik ke permukaan. Jillian berhasil dibawa ke pantai namun Jillian tetap memejamkan matanya dengan tubuh yang terkulai lemas. Semua orang berkerumun dan melihat Jillian yang seperti sudah tak bernyawa itu. "Is she still a live?" tanya seseorang "Give her an artificial respiration, Cruise!" Seorang gadis berkata kepada pria yang baru saja menolong Jillian. Pria itu dengan cepat melakukan tindakan itu. Ia memberi Jillian pertolongan dengan memberinya pernafasan buatan lalu menekan d**a Jillian berkali-kali. "Hey, Girl! Wake up!!" Pria itu menepuk-nepuk pipi Jillian namun Jillian tidak bergerak. Lalu pria itu kembali melakukan hal yang tadi berulang-ulang sampai akhirnya Jillian terbatuk dan dari mulutnya mengeluarkan air. Pria yang dipanggil Cruise itu terlihat lega. Semua menatap Jillian dengan khawatir. Gadis yang tadi menyarankan Cruise untuk memberikan pernafasan buatan kepada Jillian berjongkok di dekat Jillian. "Hey, are you okay?" tanya gadis itu sambil meraih tangan Jillian yang masih terlihat lemas. "Ehm!! Where am I ?" Jillian mengerjapkan matanya karena silau dengan sinar matahari yang menerpa wajahnya. Pria yang tadi dipanggil Cruise itu segera menarik tangan Jillian untuk duduk. "Are you okay?" Pria itu menatap Jillian dengan tatapan cemas dan khawatir. "Yeah, I'm okay, thanks for saved me," kata Jillian sambil menatap Cruise. Pria inilah yang tadi mencekal tangannya ketika ia hendak menerjang ombak. Dan sekarang, pria ini jugalah yang menjadi penyelamat nyawanya. Jillian duduk sementara Cruise beserta gadis itu memperhatikan Jillian yang baru saja kembali dari kematian. Semua orang yang melihat Jillian sudah sadar, satu persatu meninggalkan Jillian dengan banyak gumaman. Ada yang memuji aksi Jillian namun banyak juga yang mengatakan bahwa tindakan itu sangat bodoh dan gila. Namun Jillian sama sekali tidak mempedulikan ocehan orang-orang di sekitarnya. "What's your name?" tanya gadis itu sambil berjongkok di sisi Jillian. "Jillian," jawab Jillian sambil mengulurkan tangannya. "My name is Selena and this is my brother, Cruise. He saved you at the right time," Selena memperkenalkan dirinya dan juga kakaknya yang tadi menyelamatkan Jillian. Jillian pun mengulurkan tangannya kepada Cruise yang juga berjongkok di dekat Selena. "Thanks, Cruise," kata Jillian dengan tulus. Dan Cruise pun menyambut ucapan Jillian dengan wajah datar. "You're amazing and also insane! What makes you do that things?" Cruise menatap Jillian dengan tatapan heran. "Maybe, I just lose my mind!" jawab Jillian sambil menunjuk ke arah otaknya. Selena tertawa mendengar jawaban asal Jillian sementara Cruise menggelengkan kepalanya. "Okay! Don't do it again! Or I won't save you next time!" ancam Cruise sambil bangkit berdiri. Ia hendak melanjutkan acara selancarnya yang tadi tertunda gara-gara aksi heroiknya menyelamatkan Jillian. Jillian hanya tersenyum datar mendengar ancaman Cruise yang terlihat serius itu. Cruise berdiri dan membawa papan selancarnya berjalan menuju ke arah laut lepas. "Dia tidak serius ketika mengatakannya, tenang saja. Dia memang begitu orangnya!" kata Selena melihat Jillian memandangi kakaknya yang pergi. "Eh! Tidak! Bukan itu yang kupikirkan," kata Jillian sambil menggelengkan kepalanya. "Lalu apa?" tanya Selena. "Ia tadi sudah memberi peringatan padaku, tapi aku malah membentaknya. Dan ternyata ia juga yang menjadi penyelamatku. Cruise mengingatkanku pada kakakku. Suka marah namun sebenarnya ia baik," gumam Jillian. "Kau benar! Cruise memang seperti itu. Dan aku yakin, jika kamu dalam bahaya lagi, ia pun akan menyelamatkanmu lagi, jadi tenang saja ... haha," sahut Selena sambil menepuk bahu Jillian. "Oh ya, tadi kamu bilang ada kakakmu? Dimana dia? Apakah dia juga ber-selancar di sini?" tanya Selena. "Tidak! Kakakku tidak ada di sini." Jillian bangkit dan ia seperti mencari sesuatu sambil melayangkan pandangannya ke seluruh pantai. "Dimana papan selancarku?" Jillian berjalan sambil mengangkat gaun pengantinnya yang berat. "Papan selancar? Apa kamu ingin ber-selancar lagi?" tanya Selena sambil mengikuti Jillian yang berjalan dengan susah payah. "Sebaiknya kamu berganti pakaian dulu. Gaunmu itu keliatannya sangat mengganggumu." Selena mengejar langkah Jillian. "Tidak, ini tidak seberapa," sahut Jillian sambil terus berjalan. Cuaca pantai yang sangat panas itu sama sekali tidak mengganggu kondisi Jillian. Entah kenapa ia merasa hatinya sangat siap untuk menghadapi apapun. Sekali lagi ia melayangkan pandangannya ke seluruh pantai dan setelah melihat bahwa apa yang dicarinya tidak ada, Jillian kembali duduk di pasir pantai sambil menatap laut lepas. “Jillian, apakah kamu baik-baik saja?" Selena menatap Jillian yang terlihat sedang banyak pikiran. "Yah! Begitulah," jawab Jillian dengan tatapan kosong ke arah laut. Selena menangkap adanya sorot mata frustasi dari tatapan Jillian. "Kamu ber-selancar dengan mengenakan gaun pengantin. Apakah itu sebuah kesengajaan atau sebuah keinginan untuk mengakhiri hidup dengan cara yang dramatis?" tanya Selena lagi. Jillian menatap Selena yang terlihat sangat penasaran. "Hm?" Jillian menyunggingkan sebuah senyuman pahit di wajahnya. "Sangat sulit untuk ber-selancar dengan mengenakan gaun seperti ini. Dan dengan keberhasilanku menaklukkan tantangan ini, aku berharap aku pun sanggup melewati masa-masa sulit di hidupku," gumam Jillian dengan suara tertahan. Ia kembali memalingkan wajahnya menghadap laut lepas. “Apakah kamu sudah gila? Kamu terlihat sangat frustrasi, Jillian. Setiap orang yang melihatmu beraksi tadi, semuanya memiliki pemikiran yang sama. Kamu sedang membuat content video kematianmu sendiri yang akan viral seketika," ujar Selena. Jillian tertawa kecil. "Benarkah? Apakah tadi aksiku terlihat hebat?" tanya Jillian seolah bangga. "I think you're totally lose your mind, Jillian," Sahut Selena sambil menggelengkan kepalanya. "Haha! Yes I am!" sahut Jillian mengamini. "Jadi kamu kesini dengan siapa?" tanya Selena lagi. "Sendirian," jawab Jillian. "Pacar? Suami? Kakak?" Jillian menarik nafas panjang mendengar pertanyaan Selena. "I have nobody beside me, Selena!" Sahut Jillian dengan suara lirih. Selena menatap Jillian dengan tatapan bingung. Jillian sedang mengenakan gaun pengantin. Dan ia tidak bersama dengan siapapun, lalu apa yang terjadi sebenarnya? "Tapi gaun ini ..." "Aku meninggalkan pesta pernikahanku hari ini," potong Jillian tanpa menatap Selena. Selena menutup mulutnya mendengar ungkapan Jillian. Jadi Jillian sedang dalam masalah. Meninggalkan pesta pernikahannya sendiri adalah hal yang buruk. Pasti ada alasan kuat dibalik semuanya itu. Selena memberanikan diri memeluk Jillian. “I'm sorry for that," katanya lirih. Jillian membalas peluk kepedulian dari Selena. "I'm okay, Selena," bisik Jillian. Mengingat hal yang terjadi hari ini membuat Jillian merasa rapuh kembali. "You have me now, Jill. I'm here for you, and you can tell me everything," kata Selena berusaha memberi semangat. Jillian semakin mengeratkan pelukannya ke Selena, hatinya seperti belum siap untuk percaya kepada siapapun. Bahkan sahabat baiknya pun menikamnya dari belakang. Dan untuk saat ini, ia hanya butuh sesuatu untuk melampiaskan perasaan frustrasinya. "Apa yang sebenarnya terjadi? Kamu bisa mengatakannya padaku." Selena melepaskan pelukannya dan menatap Jillian yang terlihat frustrasi. Jillian masih terlihat ragu, menceritakan kegagalannya kepada orang lain terdengar sangat memalukan. Namun ia dan Selena hanyalah turis asing yang kebetulan berada di lokasi yang sama. Sebentar lagi, mereka toh tidak akan bertemu lagi. Jadi mungkin bercerita padanya tidak akan jadi masalah. “Today is my wedding day," kata Jillian tanpa menatap Selena. Selena tanpa sadar meremas tangan Jillian yang digenggamnya. "Jadi, apakah kamu melarikan diri dari pesta pernikahanmu?" tanya Selena dengan hati-hati. "Tidak juga. Aku menyerahkan calon suamiku kepada sahabat yang menjadi pengapitku," kata Jillian sambil menatap Selena. "What? But why? Did he cheat on you?" tanya Selena dengan tatapan terkejut. Jillian lagi-lagi tidak menjawab. Tapi dari tatapan kosong Jillian, Selena bisa menebak jawaban dari pertanyaannya sendiri. "Oh, I'm sorry," Selena seketika langsung meminta maaf. Ia pun sangat mengerti bahwa dikhianati seperti itu bukanlah hal yang mudah untuk dilalui. Apalagi dikhianati oleh sahabatnya sendiri. Sementara hari pernikahan sudah digelar dan undangan sudah disebar. Jika saja itu adalah dirinya, mungkin ia akan langsung melarikan diri dari pesta pernikahan itu. Dan dalam hal ini, ia salut kepada Jillian yang masih mau menghadiri pesta itu walaupun akhirnya dia tidak bersedia menikah dengan kekasihnya. "Kamu termasuk wanita yang tegar, Jillian. Aku kagum padamu," kata Selena dengan tulus. Jillian hanya tersenyum kecut mendengar pujian dari Selena. Ketegaran yang tampak di wajahnya adalah ketegaran yang dipaksakan. Ia tau bahwa ia tidak setegar itu. Keinginan untuk mengakhiri hidupnya sempat membayang di kepalanya hari ini sehingga ia nekad ber-selancar menggunakan gaun pengantin ini. Namun tadi saat ia hampir meregang nyawa, ia pun baru tau bahwa ternyata ia tidak siap. Seketika ia menyesal telah melakukan kebodohan untuk membuktikan kepada dirinya sendiri bahwa ia sanggup menaklukkan kesulitan apapun. Alam bawah sadarnya sempat berteriak memohon agar ia memperoleh satu kesempatan lagi untuk hidup walaupun tidak mungkin ada cinta yang akan berlabuh di hatinya. Dan teriakannya ternyata didengar oleh Tuhan. "Jadi kamu mau sampai kapan memakai gaun itu?" tanya Selena lagi. Jillian tersenyum mendengar pertanyaan Selena. "Aku akan mengganti pakaianku sekarang," kata Jillian sambil bangkit berdiri. Lalu ia pun pergi ke ruang ganti yang ada disana. Setelahnya ia kembali dengan pakaian casualnya, celana pendek jeans dengan kaos berwarna kuning yang memperlihatkan perutnya yang ramping. "Kamu memang cantik, Jillian," puji Selena sambil menatap Jillian penuh kekaguman. "Jadi kamu menginap di mana?" tanya Selena lagi. "Di Hidden Valley Resort," kata Jillian. "Oh! Itu resort yang bagus. Apa aku bole menemanimu?" tanya Selena sambil mengikuti langkah Jillian. "Tentu saja, seperti yang kamu lihat, aku tidak memiliki seorang teman pun, bukan?" tanya Jillian retoris sambil tersenyum kepada Selena. "Okay! Tunggu! Aku akan pamit kepada Cruise dulu!" kata Selena sambil berlari ke arah Cruise yang baru saja mendarat di pantai. Jillian kembali memandang laut lepas. Terlihat seorang pria menghampirinya sambil membawa papan selancar miliknya yang tadi terseret ombak. "Halo? Ini milikmu, bukan?" tanya pria itu sambil menunjuk papan selancar berwarna pink kombinasi biru di tangannya. “Ah, ya! Terimakasih," kata Jillian sambil tersenyum. “Oh ya? Siapa namamu? Aku Charlie," kata pria itu sambil mengulurkan tangannya. "Aku Jillian," sambut Jillian. "Aksimu sangat heroik. Semua orang menatapmu dengan kagum," kata Charlie sambil menatap Jillian dengan tatapan memuja. "Oh ya? Temanku tadi bilang tindakanku sangat gila," balas Jillian sambil membalas tatapan pria itu. "Yah! Sedikit! Dan kuakui kamu tadi sangat berani. Apakah kamu sedang frustasi?" tanya Charlie to the point. "Haha! Apakah terlihat seperti itu?" tanya Jillian sambil menggelengkan kepalanya dengan ekspresi bodoh. "Dengan pakaianmu dan aksimu yang seperti itu, aku rasa seluruh dunia juga tau bahwa kamu sedang merindukan malaikat maut," kata Charlie lagi sambil tersenyum. "Haha! Ya kamu benar. Dan aku hampir bertemu dengannya tadi," balas Jillian sambil tertawa. “Yah! Aku harap kamu tidak mengulanginya lagi kapan-kapan. Semua yang melihatmu benar-benar menahan nafas," jelas Charlie lagi. Jillian hanya tersenyum menanggapi Charlie. Selena datang bersama dengan Cruise. "Sudah menemukan teman baru?" sapa Cruise. "Hem!" Jillian mengangkat bahunya. "C'mon Jill," Selena menepuk bahu Jillian. "Sebentar!" Jillian kembali menatap laut lepas. "Jill! Aku rasa sudah cukup untuk hari ini!" Selena seperti sudah mengerti apa yang akan dilakukan oleh Jillian. "Just one more time, Selena!" Jillian kembali berjalan ke arah laut lepas. **** next chapter : "Oh! Jadi ternyata kamu pura-pura menyerahkan Elton padaku karena kamu pun memiliki kekasih gelap! Ya 'kan?!"