Sudah dua minggu sejak Erlangga putus dari Natasha. Entah kenapa hatinya masih juga belum pulih. Ia masih berharap jika pengkhianatan Natasha hanyalah mimpi buruknya, dan ia bisa cepat terbangun. Tapi hal itu tidak akan mungkin terjadi.
Sekarang Erlangga sedang berada di sebuah cafe bersama tiga temannya, Dito, Panji dan Gilang. Mereka adalah sahabat Erlangga sejak SMA, yang masih sering nongkrong bareng dengan Erlangga hingga sekarang.
"Angga, udah lah. Lo nggak usah galau mulu. Lupain Natasha. Cowok kayak Lo mah pasti bakal dapat pengganti Natasha dengan cepat," ucap Panji yang duduk di hadapan Erlangga saat ia menyadari bahwa Erlangga masih juga tidak bersemangat pasca putus dari Natasha.
"Iya Ngga. Untuk apa sedih. Harusnya Lo senang karena sebelum kalian benar-benar menikah, Lo udah tahu kalau Natasha bukan orang yang tepat untuk dijadiin istri Lo. Kalau Lo tahunya pas kalian udah nikah kan ribet. Ntar cerai, terus Lo malah jadi duda," tambah Gilang yang ada di samping Erlangga. Ia mengangkat cangkir kopinya, siap menyeruput kopi itu.
"Angga mah jadi duda tetap aja ada cewek cantik yang mau," timpal Dito yang duduk di hadapan Gilang.
Gilang kembali meletakkan kopinya, "iya juga ya," katanya baru sadar.
"Gue udah punya rencana untuk balas dendam ke Natasha," Erlangga yang daritadi diam akhirnya buka suara. Ketiga temannya pun menatap Erlangga heran.
"Bukannya move on malah mau balas dendam," Panji geleng-geleng kepala. Ia juga akhirnya meminum kopinya yang daritadi diangguri begitu saja. Dito pun demikian.
"Kelihatan banget belum bisa move on-nya," kata Gilang.
"Kalian nggak tahu, gimana keterlaluannya Natasha yang udah mempermainkan keseriusan gue. Tentu aja gue berhak untuk balas dendam!" Kata Erlangga berapi-api. Ia bahkan sampai menggebrak meja yang ada di hadapannya, membuat pengunjung cafe yang lain jadi mengarahkan pandangan mereka ke meja Erlangga dan kawan-kawan. Dito terkekeh, sementara Panji dan Gilang nyengir malu-malu kepada para pengunjung cafe sampai para pengunjung cafe tidak lagi mengarah pandangan kepada mereka.
"Sabar Ngga. Jangan emosi. Tenang dulu, santai," Gilang berusaha menenangkan Erlangga.
"Emang Lo mau balas dendam gimana Ngga?" Tanya Dito penasaran tanpa ikut berusaha untuk menenangkan Erlangga.
"Gue udah terima tawaran orang tua gue untuk dijodohin sama Maudy."
"Apa?!" Panji, Gilang dan Dito terperangah kaget. Padahal kemarin-kemarin Erlangga sangat kesal karena orangtuanya dengan seenaknya menjodohkannya dengan orang yang tidak dikenal Erlangga dan tidak mau merestui hubungan Erlangga dengan Natasha. Sekarang Erlangga malah tiba-tiba menyetujui perjodohan itu.
"Lo gila ya Ngga? Jadiin pernikahan untuk jalan balas dendam?" kata Panji, "nikah itu seumur hidup tahu," lanjutnya.
"Gue nggak peduli ke depannya gimana. Yang jelas gue harus nikah secepatnya dengan perempuan lain biar Natasha ngerasain sakit kayak yang gue rasain!"
Panji menepuk jidatnya, Gilang menggaruk-garuk kepalanya, sedangkan Dito tertawa terbahak.
"Gokil memang Lo man!" Kata Dito di tengah tawanya.
"Lo serius mau mempermainkan masa depan Lo demi balas dendam ke Natasha?" Tanya Panji.
"Mempermainkan apanya? Coba lihat dulu ceweknya. Kalau cantik mah ya Angga beruntung," kata Dito. Ia mengangkat burgernya yang baru saja diantar oleh pelayan cafe dan langsung melahap burger itu.
"Lihat aja di i********:-nya Laras," ujar Erlangga.
"Coba buka Lang," Dito menyuruh Gilang karena tangannya masih sibuk memegang burger. Gilang pun menuruti Dito karena penasaran. Panji ikut menantikan Gilang menemukan foto jodoh Erlangga di i********: Laras.
"Anj*r.... Cakep banget!" Kata Gilang terpana. Ia kemudian memperlihatkan layar HP-nya ke Panji dan Dito. Tampak foto Maudy berdiri berdampingan dengan Laras disana sambil tersenyum anggun.
"Buset, bidadari ini mau Lo jadiin alat buat balas dendam? Tega banget Lo Ngga," kata Panji tak percaya.
"Tapi nih cewek memang oke banget untuk bikin Natasha cemburu sih," kata Dito yang langsung dihadiahi pelototan dari Panji. Panji tidak mau Erlangga tidak berpikir jernih hanya karena ingin balas dendam. Kalaupun memang ia ingin menerima perjodohan dengan Maudy, seharusnya alasannya bukan karena ingin balas dendam dengan Natasha.
"Kalau Lo nggak cinta sama dia, mending Maudy buat gue aja Ngga. Gue udah jatuh cinta pada pandangan pertama sama dia. Lo cari aja cewek lain untuk dijadiin alat balas dendam," kata Gilang.
"Emang Maudy mau sama Lo Lang? Bersihin dulu tuh bekas jerawat Lo!" Ejek Dito sambil tertawa.
"Ya mana tahu dia orang yang nggak ngelihat tampang dan mau sama orang yang tulus sama dia," kata Gilang percaya diri.
"Udah... Udah... Ngaco deh kalian semua! Ngga, saran gue mending Lo tenangin pikiran Lo dulu. Lo yakinin diri Lo dulu tentang perjodohan ini. Kasihan Maudy tahu nggak kalau Lo cuma manfaatin dia aja," ucap Panji, masih berusaha menyadarkan Erlangga.
"Gue sama dia sama kok. Sama-sama saling memanfaatkan. Dia pasti mau nikah sama gue biar perusahaan papanya punya kekuatan lagi untuk bangkit. Jadi gue sambil balas dendam juga sekalian bantuin Maudy," jelas Erlangga enteng.
"Betulin lagi lah niat Lo Ngga. Nanti kenapa-kenapa sama pernikahan Lo malah galau lagi entar," Panji masih tak menyerah menceramahi Erlangga.
"Eh... Gila si Natasha," kata Dito tiba-tiba yang sekarang sudah memegang HP-nya.
"Kenapa dia?" Tanya Gilang penasaran.
"Masa dia posting foto mesra bareng selingkuhannya?"
"Hah? Yang bener Lo?" Tanya Gilang lagi. Sementara Erlangga yang ada di sampingnya tiba-tiba naik darah. Ia kembali menggebrak meja mereka, beberapa urat nampak muncul di dahi kiri dan kanannya. Wajahnya memerah karena marah.
"Gue nggak bisa diam gini aja. Hari ini, gue bakal lamar Maudy!" Ucap Erlangga di tengah emosinya. Lalu tanpa mengucapkan selamat tinggal, Erlangga segera pergi meninggalkan teman-temannya.
"Eh Ngga, serius Lo?" Tanya Panji sedikit panik. Lagi-lagi Erlangga mengambil keputusan tanpa berpikir jernih. Tapi percuma saja perkataannya karena Erlangga sudah pergi dari sana.
"Lo sih Dit!" Panji mengomeli Dito. Yang diomeli malah terkekeh.
"Padahal gue bercanda lho."
"Anj**g! Bercandaan Lo nggak lucu!" Gilang ikut memarahi Dito.
"Ye biar aja. Kan asyik jadinya si Angga langsung tancap gas ngelamar Maudy," Dito tidak merasa bersalah sama sekali.
"Tapi kan kecepatan Dit," kata Panji.
"Apa bedanya dia ngelamar sekarang sama nanti? Kan ujung-ujungnya dia tetap dijodohin juga sama Maudy. Udah, biar ajalah si Angga ngejalanin rencananya. Biar dia sekalian jadi anak berbakti ke orang tua, karena udah nurutin perintah orang tuanya untuk nikah sama Maudy."
"Hmm... Tumben omongan Lo ada benarnya Dit," kata Panji sambil manggut-manggut.
"Hahaha.... Nanti kalau Angga udah nikah sama Maudy, gue bakal nikung selingkuhannya Natasha dan bakal bikin Natasha jadi milik gue!" Kata Dito lagi dengan penuh percaya diri.
"Sialan. Ternyata Lo dari tadi ngedukung rencana Erlangga karena ada maksud busuknya?" Tanya Gilang tak percaya.
"Sekalian Lang. Lagian Natasha nggak baik buat Angga. Mending Natasha sama gue, gue pasti bisa bikin Natasha jadi cewek yang baik," kata Dito sambil terkekeh.
"Natasha mana mau sama cowok kere kayak Lo!" Sambar Panji.
"Ya kita coba dulu," ujar Dito santai. Ia kembali mengambil burgernya yang baru dimakan setengah dan segera menghabiskannya. Panji dan Gilang hanya geleng-geleng kepala, lalu ikut menyantap makanan pesanan mereka.
***
"ERRRRR!!!!"
Maudy berteriak di ujung HP-nya saat Erina baru saja mengangkat telepon dari Maudy. Erina langsung menjauhkan kupingnya dari HP-nya, lalu menggosok-gosoknya, berharap kupingnya masih bisa berfungsi dengan baik setelah mendengar Maudy yang meneriakkan namanya.
"Kenapa sih Mod? Nelpon kok teriak-teriak gitu? Sakit nih kuping gue!" Omel Erina kesal.
"Iya... Iya... Sorry. Tapi ini gue lagi excited banget. Gue nggak bisa tahan untuk nggak teriak!" Kata Maudy yang sedang duduk di atas ranjangnya dengan bersemangat.
"Excited kenapa?" Tanya Erina penasaran.
"Mas Angga bakal ngelamar gue hari ini!"
"Hah?!" Erina kaget bukan main, "bukannya kalian baru ketemu sekali, seminggu yang lalu? Kok tiba-tiba Lo udah mau dilamar aja? Ini gimana ceritanya?"
"Gue nggak ngerti juga Er. Tadi Om Damar tiba-tiba nelpon bokap gue bilang kalau dia sekeluarga mau ke rumah gue hari ini karena mas Angga mau ngelamar gue!"
"Wah, gila. Sat set sat set aja nih! Nggak sia-sia Lo tampil total waktu acara makan malam. Kan gue bilang juga apa? Nggak mungkin ada cowok yang mau nolak Lo Maudy!"
"Hahaha... Apaan sih Er. Kan gue jadi malu," wajah Maudy memerah.
"Hahaha... Nggak usah sok malu Lo! Eh, gue kesana ya? Gue penasaran banget sama si mas Angga itu bentuknya kayak gimana," pinta Erina.
"Eh, jangan lah. Malu gue kalau Lo lihat Er!" Maudy berusaha menghalang-halangi niat Erina.
"Bodo amat pokoknya gue bakal kesana! Gue ngintip dari luar aja kok! Oke? See you!"
"Eh Er, jangan! Yah, dimatiin lagi," gerutu Maudy. Erina malah membuatnya semakin deg-degan.
"Maudy, udah siap-siap belum?" Tanya Bu Ranti dari luar kamar Maudy.
"Iya Ma, ini lagi siap-siap kok!" Teriak Maudy. Ia segera meletakkan HP-nya dan segera membuka lemari, mencari baju terbaik untuk acara lamaran kali ini. Kalau keluarga Erlangga tidak secara mendadak memberitahukan kedatangan mereka, Maudy pasti akan membeli baju baru.
Sebuah dress retro vintage berwarna biru muda menarik perhatian Maudy. Ia memutuskan memilih baju itu karena terlihat tidak berlebihan namun tetap anggun.
Setelah berdandan dan memakai bajunya, Maudy keluar dari kamarnya. Ia menunggu Erlangga dan keluarga dengan harap-harap cemas di ruang tamu. Ternyata mereka benar-benar datang, tepat sesuai waktu yang mereka janjikan.
Maudy masih tidak percaya kalau momen ini nyata. Jantungnya berdebar kencang. Ia tak menyangka akan dilamar secepat ini.
"Maaf Pak Brata, kami memberikan kabar secara mendadak. Datang pun sudah sore-sore begini," ucap Pak Damar basa-basi sambil menyengir.
"Oh, tidak apa-apa dong. Malah kami senang karena niat baik Erlangga bisa Pak Damar kabulkan secepatnya," kata Pak Brata dengan senyuman yang sangat lebar, hampir saja kedua ujung bibirnya menyentuh telinganya.
"Ya begitulah Pak. Saya pun sebenarnya cukup kaget karena Angga tiba-tiba saja mengajak saya ke rumah bapak hari ini. Tapi kalau saya pikir-pikir, sebenarnya ini bukan mendadak. Kita kan sudah merencanakan ini sejak lama, dan saya juga sudah mengatakan kepada Angga kalau saya mau menjodohkan Angga dengan Maudy. Jadi pasti Angga sudah memikirkannya sejak jauh-jauh hari. Dan hari ini lah hatinya sudah mantap."
Para orang tua tertawa, Laras nyengir, sementara Erlangga dan Maudy hanya diam. Erlangga tidak peduli dengan segala macam basa-basi dari pihak orang tua. Yang jelas ia butuh rencananya agar berjalan dengan cepat. Sementara Maudy merasa begitu tegang.
"Jadi begitulah Pak. Saya akan langsung saja mengatakan tujuan kami datang kesini, yang sebelumnya sudah saya jelaskan sedikit melalui telepon. Tapi sekarang secara langsung saya akan mengatakannya di hadapan bapak sekeluarga. Anak laki-laki saya satu-satunya, Erlangga Pratama bermaksud untuk meminang putri Pak Brata, Maudy Ashalina. Apakah Maudy serta keluarga bersedia menerima lamaran Erlangga?" Tanya Pak Damar.
"Kalau saya dan istri tentu menerima. Sekarang keputusannya ada di tangan Maudy. Jadi bagaimana Maudy, kamu mau menerima Erlangga?" Tanya pak Brata kepada Maudy.
Maudy menjadi dua kali lipat lebih gugup karena semua mata tertuju padanya. Tiba-tiba lidahnya terasa kelu. Sebenarnya dari dalam lubuk hatinya ia belum siap menikah. Ia belum mencari tahu seperti apa kehidupan pernikahan itu. Tapi ia berusaha mengabaikan rasa ragunya. Karena kemarin-kemarin ia sudah mengharapkan perjodohannya dengan Erlangga berjalan mulus, dan Tuhan sudah mengabulkan harapannya itu. Jadi ia tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini. Ia harus menerima lamaran Erlangga demi orang tua dan perusahaan papanya.
"Iya, Maudy mau menerima mas Angga," ucap Maudy dengan jantung yang berdegup kencang. Akhirnya ia berhasil mengucapkannya juga.
"Alhamdulillah..." Ucap para orang tua lega. Mereka tersenyum senang, Pak Damar dan Pak Brata pun berjabat tangan dengan bahagia karena berhasil menjodohkan kedua anak mereka.
"Cieeee.... Mas Angga. Selamat ya!" Ucap Laras kepada Erlangga. Nampak Erlangga tersenyum lebar.
Maudy tak menyangka Erlangga akan tersenyum seperti itu saat Maudy menerima lamarannya. Maudy berpikir mungkin saat mereka pertama kali bertemu, Erlangga hanya tegang, makanya ia tidak tersenyum kepada Maudy. Rasanya Maudy sangat senang dengan perubahan sikap Erlangga itu.
"Berarti kita udah bisa mulai membicarakan tentang persiapan pernikahan Angga sama Maudy dong? Mumpung sebentar lagi Maudy libur kuliah. Kamu kapan selesai ujian semester ini Sayang?" Tanya Bu Ranti kepada putrinya.
"Minggu depan udah selesai Ma," jawab Maudy.
"Wah, kebetulan sekali kita bisa mulai persiapan secepatnya. Gimana Ngga?" Tanya Bu Mirna kepada Erlangga.
"Iya Ma, kita mulai aja. Lebih cepat lebih baik," jawab Erlangga. Jawaban Erlangga itu mendapat sambutan yang sangat baik dari para orang tua.
"Nah, ini baru anak papa," pak Damar tampak sangat bangga dengan Erlangga. Akhirnya Erlangga sudah satu suara dengan orang tuanya. Pak Damar dan Bu Mirna pun tidak perlu lagi pusing membujuk Erlangga. Karena sekarang Erlangga sudah mau dijodohkan dengan Maudy dengan sendirinya.
"Gimana kalau minggu depan kita buat acara lamaran yang lebih resmi? Acara tunangan gitu. Kita undang semua keluarga besar dan sanak saudara, agar mereka tahu kalau Angga sama Maudy sebentar lagi mau menikah," Bu Mirna memberi saran.
"Ide bagus itu Bu Mirna," kata Pak Brata sambil tersenyum lebar.
"Untuk acaranya biar kami saja yang urus. Maudy, kamu fokus dengan ujian kamu saja dulu ya?" Kata Pak Damar kepada Maudy.
"Iya Om," Maudy mengangguk patuh.
"Nanti saya juga bantu. Ini kan acara anak kita, jadi harus bekerjasama," Bu Ranti menawarkan.
"Siap Mbak. Besok kita mulai cari EO nya, yang kira-kira bisa mulai bekerja dengan cepat," kata Bu Mirna.
"Iya. Habis selesai acara tunangan, kita bisa langsung fokus persiapan acara pernikahan. Duh, rasanya nggak sabar," kata Bu Ranti bersemangat.
"Saya juga rasanya nggak sabar. Semoga semuanya berjalan dengan lancar ya Mbak," kata Bu Mirna tak kalah bersemangat. Para orang tua pun mengamini.
Erlangga tersenyum senang melihat semangat para orang tua. Akhirnya rencananya untuk membuat Natasha menyesal karena sudah mengkhianatinya berjalan lancar sejauh ini. Ia tidak sabar menantikan pembalasan dendamnya berhasil dan membuat Natasha hancur.
***
Erina masuk ke rumah Maudy saat keluarga Erlangga sudah meninggalkan rumah Maudy. Ia berlari menuju Maudy dan segera meraih kedua tangan Maudy.
"Yeaaaaaaay!!!! Selamat Maudy!!!!" Kata Erina penuh semangat. Ia melompat-lompat kegirangan sambil terus memegang kedua tangan Maudy, membuat tubuh Maudy terguncang. Seperti merasa belum cukup, Erina lalu memeluk sahabatnya itu.
"Lo beneran datang Er? Dari tadi Lo nunggu di luar?" Tanya Maudy tak percaya.
"Iya dong, gue ngintip dengan susah payah tahu?" Jawab Erina. Kini ia sudah melepaskan pelukannya dari Maudy.
"Eh, Erina kesini?" Tanya Bu Ranti yang baru datang dari dapur.
"Hehehe... Iya Tante," Erina segera mendekati Bu Ranti dan menyalami Bu Ranti dengan sopan.
"Kebetulan lagi banyak makanan. Kamu cobain semuanya ya? Makan sepuasnya!"
"Siap Tante! Kalau urusan makan mah nggak usah ditawarin Erina juga bakal ambil sendiri. Hehehe..." Kata Erina sambil cengengesan, "tapi Erina mau kepoin Maudy dulu Tante. Boleh kan ya?" Lanjutnya.
"Kita ngobrol di kamar aja," kata Maudy sambil menarik tangan Erina. Ia bakal malu kalau mamanya mendengar obrolannya dengan Erina, "Ma, kami ke atas dulu ya!"
"Oke! Nanti mama suruh Bik Nining bawain makanan ke kamar kamu ya?"
"Iya Ma!"
Akhirnya Maudy dan Erina sampai di kamar Maudy. Maudy menutup pintu kamarnya lalu mengajak Erina duduk di atas ranjangnya.
"Jadi abis ini gimana Mod? Bakal bikin acara apa?" Tanya Erina. Ia merebahkan tubuhnya di atas kasur Maudy sambil menopang kepalanya di atas tangannya, bak sedang berpose seperti putri duyung.
"Seminggu lagi gue sama Mas Angga bakal tunangan," jawab Maudy. Rasanya ia akan gugup selama menanti hari H.
"Hah? Cepat amat? Baru ketemu sekali udah mau tunangan aja? Terus nikahnya kapan?"
"Kata mas Angga lebih cepat lebih baik. Jadi mungkin nikahnya habis libur semester. Sebulan atau dua bulan lagi mungkin."
Mulut Erina menganga selebar-lebarnya.
"Iya gue memang pengen perjodohan gue dengan mas Angga berjalan mulus. Tapi masalahnya gue dari kemarin sibuk berharap perjodohan kami jadi, sedangkan gue nggak ada ngulik tentang apa aja yang harus disiapin kalau mau nikah. Gue nggak ngerti apa-apa tentang pernikahan Er. Gue dulu nggak pernah kepikiran bakal nikah secepat ini. Gue harus gimana dong?" Tanya Maudy panik.
"Tenang... Tenang... Tenang... Tarik napas, hembuskan."
Maudy menuruti perkataan Erina.
"Memang do'a anak sholehah itu pasti dikabulin sama Tuhan ya. Berarti ke depannya Lo nggak boleh do'a tanpa persiapan untuk menghadapi situasi dimana do'a Lo tiba-tiba dikabulin secepat itu."
"Nah iya kan? Gila sih Lo kalau ngomong pinter bener."
Erina tidak menghiraukan pujian setengah ejekan dari Maudy itu, "jadi gini aja. Do'a Lo udah dikabulin, ya Lo harusnya bersyukur. Masalah ke depannya nggak usah dipikirin. Kalau Tuhan ngabulin keinginan Lo untuk nikah, itu berarti Tuhan tahu kalau Lo pasti bisa ngejalaninnya. Lo nggak perlu buru-buru untuk mempelajari tentang pernikahan. Sekarang yang harus Lo fokusin itu persiapan pernikahannya. Karena kan waktunya mepet. Jadi harus Lo prioritasin dulu. Masalah belajar tentang pernikahan nanti bisa dilakuin sekalian waktu ngejalanin pernikahan. Toh pasti mas Angga juga belum begitu tahu tentang kehidupan pernikahan. Kalian berdua kan sama-sama belum pernah nikah."
"Beuh, mantap banget Erina petuahnya!" Maudy mengacungkan kedua jempolnya. Ia sadar perkataan Erina benar. Ia tidak perlu mengkhawatirkan hal yang belum terjadi.
"Iya dong!" Erina tersenyum sombong, "eh BTW ternyata si mas Angga itu ganteng banget ya! Gila, beruntung banget Lo dijodohin sama cowok ganteng plus kaya! Andai aja orang tua gue juga bisa jodohin gue sama orang yang kayak mas Angga," lanjut Erina sambil menerawang.
"Gue do'ain Lo cepat nyusul ya," ujar Maudy.
"Eh jangan!" Erina beralih duduk dan mengibaskan kedua telapak tangannya, "minimal tiga tahun lagi lah!"
"Hahaha... Iya... Iya... Semoga tiga tahun lagi Lo bakal nyusul gue."
Erina nyengir, "oh iya, kok gue kayak pernah lihat mas Angga ya? Dimana ya?" tanya Erina sambil meletakkan telunjuk kanannya ke bawah dagu.
Maudy menatap Erina penasaran, "masa sih? Dimana?"
"Nggak tahu. Nanti kalau gue udah ingat gue kasih tahu deh!"
"Ya udah coba Lo pikir-pikir dulu."
Tak lama kemudian suara pintu kamar Maudy di ketuk. Makanan sudah tiba. Tanpa menunggu Maudy membuka mulutnya, Erina langsung loncat dari kasur Maudy ke lantai, berlari bak ninja menuju pintu dan segera membukakan pintu untuk Bik Nining.
"Semangat bener Neng!" ujar Maudy sambil terkekeh.
***