Menerima

1376 Words
Akhirnya Erlangga sampai di rumah. Ekspresinya begitu suram, tampilannya juga agak berantakan. Ia melanjutkan amukannya saat kembali ke hotel tadi. Tanpa membuang waktu, ia langsung menyuruh sekretarisnya untuk membelikannya tiket kembali ke Jakarta hari itu juga. Erlangga berjalan mendekati Laras yang sedang sibuk memotong kuku kucingnya, Kiko, di teras belakang rumahnya yang menghadap kolam. Kado untuk Natasha tadi dibawanya, lalu ia serahkan kepada Laras. "Nih, untuk Lo," ucapnya kepada Laras. Laras yang sedang duduk menengadahkan kepalanya, "apaan nih? Perasaan gue nggak ulang tahun? Lo lupa ya sama tanggal ulang tahun adek Lo sendiri? Wah, parah Lo!" Tuduh Laras. "Udah, nggak usah banyak bacot. Buka aja," omel Erlangga. "Iya... Iya... Galak banget," gadis dengan rambut panjang bergelombang itu akhirnya memutuskan untuk membiarkan Kiko pergi dan beralih ke kado yang diberi Erlangga. Sementara Erlangga mengambil kucing Laras itu yang memanfaatkan waktu untuk kabur agar kukunya tidak dipotong, namun gagal karena Erlangga keburu menggendongnya. Erlangga lalu duduk di samping Laras sambil mengelus-elus Kiko, berusaha menenangkannya agar tidak kabur, sekaligus agar hati Erlangga sedikit lebih tenang karena membelai bulu halus milik Kiko. "Hah? Tas Chanel? Lo kerasukan malaikat apa sampai-sampai ngasih tas mahal ke gue?" Tanya Laras penuh selidik setelah membuka bungkus kado dari Erlangga. Erlangga hanya menanggapi dengan tatapan sinis. "Pasti ini sebenarnya mau Lo kasih ke pacar Lo yang sok-sokan selebgram itu kan?" Tanya Laras lagi. "Apaan sih? Kalau nggak mau ya udah! Balikin!" "Eh, enggak... Enggak... Mau kok. Hehe..." Laras menjauhkan Chanel Classic Flap berwarna beige itu dari Erlangga yang sudah mengulurkan tangannya untuk merebut tas itu dari Laras. Ia memberikan cengiran bak kuda. "Eh tapi Lo darimana sih? Papa ngamuk noh," ucap Laras kemudian sambil meneliti tas pemberian dari Erlangga. Ia tersenyum puas karena akhirnya punya tas baru yang bisa ia banggakan kepada teman-temannya. "Dari Bali," jawab Erlangga singkat, sebenarnya sedang malas ditanya-tanya. "Ih, nggak ngajak-ngajak!" Erlangga hanya diam, tidak menghiraukan rengekan Laras. Ia memilih menatap kolam renang di rumahnya itu. Tapi ia malah jadi kesal karena jadi teringat Natasha yang berciuman dengan Steve di pinggir kolam. Rupanya rengekan Laras terdengar oleh orang tuanya. Pak Damar dan Bu Mirna segera menghampiri Laras, dan menemukan buronan mereka di samping Laras. "Ini dia si pembuat masalah udah pulang. Darimana aja kamu, hah?! Kerjaan di kantor ditinggal begitu saja. Gimana papa mau angkat kamu jadi direktur kalau kamu tidak bertanggung jawab begini?!" Pak Damar tak menunggu waktu lebih lama lagi untuk mengomeli Erlangga. Dadanya naik turun demi menahan diri untuk tidak menggeplak kepala Erlangga. Sementara Erlangga hanya diam sambil menunjukkan wajah sinis. "Mama sama Papa tadi jenguk pak Brata. Dia nanyain kamu lho tadi. Mama sama Papa sampai harus ngarang-ngarang cerita, tahu?" Bu Mirna ikut mengutarakan hal yang membuatnya gedeg dengan Erlangga. Erlangga masih tidak merespon orang tuanya. Ia melepaskan Kiko yang menggunakan kesempatan itu untuk pergi jauh karena tidak ingin terseret ke dalam keributan keluarga itu. Erlangga lalu berdiri dan berjalan menuju ke dalam rumah. Hatinya sedang kesal, malah diomeli oleh orang tuanya. "Heh, orang tua ngomong malah nyelonong aja kamu?!" Pak Damar hampir kehabisan kesabaran. Ia bertekad untuk benar-benar menggeplak kepala anak sulungnya itu, tak peduli walaupun Erlangga sudah terlalu tua untuk diperlakukan seperti itu. Tapi lagi-lagi niatnya itu tidak bisa diwujudkan karena Erlangga mengatakan sesuatu yang mengejutkan. "Aku bakal nikah dengan anak Om Brata." Erlangga berlalu begitu saja setelah mengucapkan hal itu. Sementara kedua orangtuanya serta Laras terlihat begitu kaget dengan perkataan Erlangga tadi. Mulut mereka sampai menganga saking tidak menyangkanya kalau Erlangga akan secara random dan tiba-tiba setuju dengan perjodohannya dengan Maudy. "Itu... Itu dia tadi serius?" Tanya Bu Mirna. "Nggak tahu Ma. Daritadi Mas Angga aneh. Lihat nih, tiba-tiba ngasih aku tas Chanel masa?" Ucap Laras sambil menunjukkan tas pemberian Erlangga, "biasanya kan dia beli barang mahal cuma buat pacarnya yang mata duitan itu. Apa jangan-jangan, mereka udah putus ya?" Bu Mirna dan Pak Damar saling pandang. Kedua mata mereka menyipit licik dan bibir mereka melengkung lebar. "Ma, kita harus atur acara makan bersama dengan keluarga Pak Brata lagi," kata pak Damar. Bu Mirna pun mengangguk. Akhirnya keinginan mereka untuk menjodohkan Erlangga dengan Maudy sebentar lagi akan terwujud. *** "Erinaaaaaa!!!!!" Maudy berteriak sambil mengguncang-guncangkan tubuh Erina dengan penuh semangat sesampainya di kelas. Erina kelabakan karena HP yang tadi dipegangnya hampir saja jatuh karena ulah Maudy tersebut. "Maudy, stop!!!" Erina meminta sahabatnya itu untuk menghentikan aksinya. Kepalanya sudah mulai pusing, perutnya juga sedikit bergejolak. Maudy benar-benar mengguncang tubuhnya sekuat tenaga. Padahal Maudy yang lemah lembut itu tidak kelihatan punya tenaga sebesar itu. Maudy akhirnya berhenti mengguncang tubuh Erina. Ia menyeringai senang, lalu duduk di samping Erina. Sementara Erina merapikan rambut dan bajunya yang berantakan karena ulah Maudy tadi, lalu melirik Maudy bete. "Iya gue tahu Lo seneng karena bokap Lo udah keluar dari rumah sakit. Tapi nggak gitu juga dong! Bisa-bisa gantian gue yang masuk rumah sakit," omel Erina. "Tapi ini gue senengnya bukan cuma karena papa udah keluar dari rumah sakit, Erin!" "Terus?" Tanya Erina penasaran. "Keluarga gue bakal makan malam bareng keluarga mas Angga! Dan kali ini mas Angga beneran bakal datang!" Ucap Maudy dengan mata berbinar. Erina tidak tahu harus bereaksi senang atau tidak. Karena sebenarnya ia kasihan dengan Maudy yang harus dijodohkan dengan orang yang belum dikenalnya. Tapi keluarga Maudy membutuhkan perjodohan itu demi perusahaannya agar bisa bertahan. Maudy yang polos ini jadi terima-terima saja dijodohkan, bahkan terlihat senang. Ia seperti tidak memikirkan apa yang akan terjadi ke depannya. Malah Erina yang merasa cemas. Ia takut calon suami Maudy akan memperlakukan Maudy dengan semena-mena karena Maudy adalah orang yang terlalu baik hati dan penurut. "Lo nggak seneng ya gue akhirnya bakal bisa ketemu sama mas Angga?" Tanya Maudy karena Erina masih belum juga memberikan reaksi. "Bukan... Bukannya gitu. Gue seneng kok karena kayaknya sebentar lagi masalah perusahaan Lo bakal teratasi. Gue cuma takut nanti malah setelah nikah Lo jadi punya masalah baru." "Maksudnya? Memangnya kalau nikah kita bakal langsung dapat masalah?" Tanya Maudy tak mengerti. "Ya enggak juga sih. Tergantung orang yang ngejalaninnya deh kayaknya," jawab Erina sambil menggaruk kepalanya. Ia pun juga tidak terlalu mengerti tentang pernikahan. Jadi rasanya memberikan nasihat tentang pernikahan bukanlah ranahnya. "Ah gimana sih Lo? Nggak usah khawatir berlebihan gitu," ucap Maudy santai. Erina sampai tak bisa berkata-kata karena sikap Maudy yang seperti tidak takut dengan apapun yang akan ia hadapi. Ia pun akhirnya memilih untuk ikut berbahagia dengan Maudy. "Oke... Oke... Kalau gitu, kita mulai kulik dandanan sama baju yang harus Lo pakai untuk acara makan malam itu. Pokoknya Lo harus cantik maksimal biar mas Angga kepincut sama Lo dan kalian bakal beneran nikah!" Ucap Erina bersemangat. "Oke... " Maudy mulai mengeluarkan HP nya untuk mencari referensi di internet. Erina pun demikian. "Nah ini lucu nih," ucap Erina sambil menunjukkan layar HP-nya kepada Maudy. "Yang ini juga cantik, lho," Maudy balik memperlihatkan layar HP nya kepada Erina. "Wah iya, aduh Maudy ku pasti pakai apa aja cantik sih!" Ujar Erina dengan suara lucu yang dibuat-buat, tak sadar suaranya terlalu besar hingga membuat seisi kelas mendengarnya. "Woy duo alay culun. Ribut banget sih daritadi?! Nih dosen juga, mana coba daritadi nggak datang-datang?" Tiba-tiba seseorang yang duduk tak jauh dari Maudy dan Erina berbicara dengan sewot. Erina mengalihkan pandangannya ke orang itu, Gladys, sambil memberikan tatapan tak suka. Gladys pasti kesal karena mendengar pujian Erina untuk Maudy. Gladys memang iri dengan Maudy karena kalah cantik sehingga dulu cowok yang ditaksir Gladys malah mengejar-ngejar Maudy. Padahal Maudy tidak pernah menerima cinta dari cowok itu, tapi tetap saja Galdys membenci Maudy karena ia beranggapan bahwa cowok yang ia sukai itu jadi tidak mau melihatnya gara-gara tergoda oleh Maudy. "Ngapain Lo ngeliatin gue kayak gitu? Lo berani sama gue?!" Tanya Gladys kepada Erina. Erina ingin balik menjudesi Galdys, namun Maudy menahannya. "Udah ah Er, nggak usah kepancing emosi. Nanti jadi ribut," ucap Maudy hampir berbisik. Ia memegang lengan Erina, takut cewek itu akan menghampiri Gladys dan jadi berkelahi. Untung saja setelah itu dosen yang akan mengajar di kelas mereka datang. Maudy menghela napas lega. "Nanti kita shopping ya!" Bisik Maudy kepada Erina sambil mengedipkan sebelah matanya, berharap Erina tidak perlu lagi memikirkan perkataan Gladys karena Maudy masih menangkap ekspresi jengkel di wajah Erina. Dan ternyata usaha Maudy itu berhasil. Wajah Erina berubah menjadi bersemangat lagi seperti tadi, ia tersenyum lebar dan mengangguk. "Oke!" *** Bersambung... Jangan lupa comment ya ?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD