Jam dinding di ruang kerja utama Wijaya Group menunjukkan pukul 18.30, namun langit di luar jendela sudah gelap gulita, seolah menelan cahaya sore lebih cepat dari biasanya. Di dalam ruangan ber-AC dingin itu, udara terasa padat oleh tumpukan berkas audit dan aroma kopi yang sudah dingin. Adrian berdiri di depan papan tulis putih, dasinya sudah longgar, kemeja lengan panjangnya digulung hingga siku menampilkan urat-urat tangan yang menegang. Matanya menyapu deretan angka proyeksi keuangan yang baru saja masuk—angka-angka yang menuntut perhatian segera. "Ini tidak masuk akal," gumam Adrian, suaranya parau. Ia memijat pelipisnya yang berdenyut. "Audit mendadak di tengah kuartal? Dari kantor pusat London? Damien bilang ini prosedur standar untuk ekspansi baru, tapi rasanya terlalu... dipaks

