Kilatan lampu blitz menyambar seperti petir buatan, memecah kabut pagi yang masih menyelimuti lobi kantor notaris pusat. Suara rana kamera bertalu-talu, bersaing dengan teriakan wartawan yang saling berebut posisi. "Bu Karla! Apakah benar pernikahan ini hanya syarat warisan?" "Pak Adrian! Ada kabar Anda memanipulasi wasiat ayah Anda sejak tiga bulan lalu!" "Apakah Anda merasa dijadikan alat, Bu Karla?" Adrian dan Karla melangkah keluar dari mobil hitam mereka. Tidak ada payung, tidak ada pelindung. Mereka berjalan menembus badai pertanyaan itu berdua. Adrian menggenggam tangan Karla erat, bukan karena takut lepas, tapi sebagai pernyataan perang. Wajah Adrian datar, rahangnya mengeras, matanya menatap lurus ke depan seolah kerumunan itu hanyalah hantu yang tak terlihat. Karla berjalan

