Cahaya matahari Sabtu pagi yang biasanya hangat dan mengundang, kali ini terasa pucat menembus kaca jendela ruang makan. Udara di dalam rumah mewah itu berat, seolah oksigen telah diganti dengan timah cair. Tidak ada suara denting sendok beradu dengan piring keramik. Tidak ada obrolan ringan tentang rencana akhir pekan. Adrian duduk di ujung meja panjang, menatap cangkir kopinya yang sudah dingin sejak sepuluh menit lalu. Rahangnya mengeras, otot-otot di lehernya menegang setiap kali ia menelan ludah. Di seberangnya, Karla hanya menggerak-gerakkan roti panggang di piringnya, nafsu makannya hilang total sejak bangun tidur. Bayangan surat panggilan audit dari Paman Hendra masih melayang di kepala mereka seperti awan hitam yang enggan pergi. "Kamu harus makan," ucap Adrian tiba-tiba. Suaran

