Leah kembali ke rumah keluarganya karena dia harus mengambil barang-barangnya yang tersisa. Dia sudah tidak akan tinggal di rumah itu lagi mulai sekarang. Dia pun tahu jika dia tidak akan diterima lagi.
Ketika dia kembali, kakaknya berada di rumah. Seperti biasa. Dia selalu mendapatkan tatapan sinis dan kepulangannya sangat tidak disukai oleh kakaknya.
“Kenapa kamu kembali? Apa kamu telah diusir karena kamu telah memberi kesialan pada suamimu?” Kemungkinan besar hal itu terjadi karena semua orang yang berada di dekat Leah, pasti akan mendapatkan kesialannya.
“Jangan berbicara seperti itu, Kakak. Aku pulang untuk mengambil barang-barang milikku yang tersisa.”
“Oh, aku kira kamu telah diusir oleh suamimu. Aku jadi penasaran, berapa lama dia dapat bertahan hidup bersama denganmu? Aku berani bertaruh, kemungkinan besar dia hanya akan bertahan selama satu minggu saja!”
“Kakak, kenapa kau selalu mengucapkan perkataan kejam seperti itu? Apa aku pernah mengganggumu sebelumnya? Meski Kakak tidak pernah menyukai aku, tapi aku selalu menyayangi dirimu sebagai Kakakku,” tidak satu kali pun dia membenci keluarganya meskipun dia begitu dibenci.
“Aku tidak butuh kasih sayang darimu, Leah. Bagiku kamu tidak ada dan bagiku, kamu bukanlah saudaraku!” ucapan itu bagaikan sebuah belati yang menghujam jantungnya.
“Gara-gara dirimu, masa kecilku tidak menyenangkan!” Dia begitu membenci Leah karena keberadaan adiknya itu membuat dirinya dijauhi oleh teman-temannya.
“Maaf,” Leah menunduk. Kedua matanya sudah berkaca-kaca.
“Aku minta maaf, Kakak. Aku tidak bermaksud memberikan kenangan buruk pada dirimu. Aku pun tidak meminta dilahirkan dalam keadaan seperti ini. Maaf jika Kakak terbebani karena memiliki saudara seperti aku,” air mata mengalir, dia tak dapat lagi menahannya.
“Selalu saja menangis. Apa kamu pikir dengan kamu menangis seperti ini, kamu dapat mengubah apa yang telah terjadi? Aku tegaskan padamu. Sekalipun kamu menangis darah, apa yang telah terjadi tidak akan dapat kamu perbaiki. Sekarang ambil semua barangmu lalu pergi. Jangan pernah menginjakkan kakimu di rumah ini lagi karena mulai sekarang kamu bukan lagi bagian dari kami!” Setelah mengucapkan perkataan kejam itu, kakaknya pergi.
Leah memandangi kakaknya dengan air mata berderai. Dia begitu menyayangi kakaknya. Dia juga menyayangi seluruh keluarganya. Namun, kasih sayang yang dia miliki rupanya tak berarti bagi mereka.
Mereka justru menyukai dirinya yang tidak ada. Jika begitu, pilihannya menikah dengan Jayden mungkin tidak terlalu buruk meskipun tidak ada kebahagiaan di dalamnya.
Tak ingin semakin dibenci oleh kakaknya. Leah bergegas mengambil barang-barangnya yang tersisa. Dia membereskan semua itu, dengan air mata yang mengalir tiada henti.
Perasaan sedihnya melanda karena mulai sekarang, rumah itu bukanlah rumahnya lagi. Dia tidak lagi memiliki tempat untuk pulang. Leah menarik sebuah koper, turun dari anak tangga. Tatapan matanya tertuju pada kamar ibunya.
Dia tahu ibunya ada di dalam sana. Dia sangat ingin berpamitan tapi dia takut, dia harus mendengar kebencian ibunya. Sekarang, dia harus kembali ke rumah pria yang tidak menerima dirinya.
***
Jayden telah kembali bersama dengan Maria. Mereka berdua bermesraan di ruang tamu dan ketika melihat apa yang sedang mereka lakukan, langkah Leah terhenti.
Dia begitu terkejut mendapati pemandangan yang tidak seharusnya dia lihat. Gagang koper dicengkram begitu erat, dia tahu tidak seharusnya dia marah ataupun sakit hati. Namun, bisakah mereka tidak melakukan hal itu?
Leah melangkah melewati mereka. Dia tidak sudi melihat hal menjijikkan itu begitu lama. Akan tetapi, Jayden menyadari kehadirannya.
“Berhenti di sana!” Permintaan Jayden membuat Leah menghentikan langkahnya.
“Aku tidak mengganggu kalian. Untuk apa kau meminta aku berhenti?” Leah melirik mereka dari balik bahu. Entah mereka memiliki rasa malu atau tidak. Padahal para pelayan dapat melihat apa yang mereka lakukan.
“Sekalipun kamu mengganggu, kami tidak akan menghentikan apa yang sedang kami lakukan!” Maria beranjak, dia menghampiri Leah. Ini adalah pertemuan pertama mereka jadi dia akan memperkenalkan diri kepada Leah agar wanita itu tahu bahwa dia adalah kekasih Jayden.
“Rupanya kau adalah istri Jayden,” Maria mengulurkan tangannya, “Perkenalkan, aku Maria. Dan aku adalah kekasih suamimu,” dia tersenyum, dengan angkuh. Sekarang gadis aneh itu sudah tahu jika Jayden adalah miliknya.
“Aku rasa aku tidak perlu berkenalan dengan selingkuhan suamiku!” Leah menolak, menjabat tangan Maria. Walau dia bukan istri yang diinginkan, setidaknya dia memiliki harga diri.
“Jangan asal bicara. Aku bukan selingkuhan. Kaulah yang tiba-tiba datang dan mengganggu hubungan kami berdua. Seharusnya kau malu karena kau telah merebut kekasih orang lain. Bukankah itu berarti kau adalah w************n?” Maria memandanginya dengan sinis. Tidak akan dia biarkan wanita itu menghina dirinya.
“Terserah kamu mau berkata apa. Yang pasti di sini posisiku lebih baik daripada dirimu meskipun dia tidak mencintai aku dan tak pernah menginginkan aku. Namun, Aku adalah istri sahnya dan kau?” Leah pun memandangi Maria dengan sinis.
“Jaga ucapanmu. Apa kau ingin berkata jika aku adalah w************n?” Maria mulai tersulut emosi. Sejak awal Jayden adalah miliknya. Gadis itu justru bertingkah seolah-olah dialah yang yang merebut Jayden padahal nyatanya, gadis itulah yang mengambil Jayden darinya.
“Kau yang mengucapkan perkataan itu, bukan aku!”
“Kurang ajar kau!” Maria berteriak marah. Dia hendak melangkah maju. Akan tetapi, Jayden menahan tangannya.
“Cukup, Jangan bertengkar!”
“Dia yang memulainya terlebih dahulu, Jayden!”
“Jangan terpancing, Maria. Terserah dia mau berkata apa yang pasti kau adalah wanita yang aku cintai, bukan dirinya. Statusnya itu tidak berarti sama sekali jadi kau tidak perlu membuang tenaga untuk berdebat dengannya!”
“Jika begitu jangan mencegat langkahku. Lanjutkan saja adegan memalukan kalian berdua!” Leah memutar langkahnya.
Seharusnya Jayden membiarkan dirinya masuk ke dalam kamar dan tidak membuat keributan seperti itu.
“Jangan keterlaluan dan jaga ucapanmu. Aku memanggilmu karena ada yang hendak aku bicarakan,” sebuah amplop dikeluarkan, lalu benda itu dilemparkan tepat ke wajah Leah.
Leah berpaling. Lemparan yang didapatkan tidak seberapa. Namun, rasa sakit di hati yang sedang dia tahan saat ini. Apakah Jayden tidak bisa memperlakukan dirinya dengan sedikit baik?
“Kakek telah merencanakan bulan madu, bukankah itu yang kamu inginkan?”
“Apa maksud perkataanmu?”
“Aku tahu kamu telah menghasut kakek supaya perjalanan bulan madu kita tetap terjadi. Kau sungguh licik, Leah. Jangan harap aku akan terpedaya dengan tipu muslihatmu. Sekarang ambil itu. Aku rasa kamu tahu apa yang harus kamu lakukan dan satu hal lagi, kita akan pergi bertiga.
Awas jika kamu berani mengadu. Ketika kamu melakukannya, maka perusahaan Ayahmu akan aku habisi!” Jayden merangkul pinggang Maria, dan mengajaknya pergi.
Maria mengangkat wajah. Dia tersenyum dengan begitu angkuh.
Leah tidak memperdulikan mereka. Amplop coklat yang ada di atas lantai diambil. Padahal bukan dirinya yang menginginkan bulan madu itu. Tapi kenapa lagi-lagi dia yang disalahkan?