Kamila termenung, pikirannya mendadak dipenuhi Jeno. Mengingat bagaimana senyumnya saja, sudah bisa membuat wajahnya memerah. Ia berdecak, kemudian memukul-mukul pelan keningnya dengan kepalan tangan.
“Ya ampun, kok jadi mikirin cowok gini sih? Gak boleh Mill, zina pikiran ini namanya,” gumam Kamila.
Kamila mengusap wajahnya, kemudian menepuk-nepuk kedua pipinya, untuk menyadarkan dirinya, agar berhenti memikirkan Jeno. Ia melirik jam tangan tangannya, empat puluh lagi waktunya ashar, para pegawai sudah harus siap-siap salat tiga puluh menit sebelum azan.
Kamila sengaja membuat peraturan seperti itu, agar waktu tiga puluh menit itu, bisa dipakai untuk shalawat, menyiapkan tempat salat, juga menyuruh barisan dengan baik dan benar. Agar bisa langsung salat, begitu azan selesai.
Kamila beranjak dari kursi kerjanya, kemudian keluar dari ruangannya untuk bergegas mengambil wudhu. Meskipun masih empat puluh menit lagi waktu asharnya, ia dan para pegawai yang lain, harus ambil wudhu duluan sebelum tepat tiga puluh menit, karena pegawai banyak, jadi wudhunya perlu antri.
Selama para pegawai salat, toko roti dijaga pegawai non-muslim dan wanita yang sedang datang bulan.
Namun peraturan harus siap salat tiga puluh menit sebelum azan, menjadi hal yang berat bagi Jeno. Ia harus duduk manis di atas sajadah, sambil bershalawat selama tiga puluh menit! Jeno merasa bosan dan pegal harus melakukan itu.
Kenapa juga mereka harus begitu? Padahal kan waktu tiga puluh menit itu, bisa digunakan untuk mengerjakan pekerjaan lain, pikir Jeno.
"Kenapa sih? Kita harus siap-siap salat sebelum azan? sepuluh menit sebelum azan aja kek, bahkan lima menit sebelum juga bisa kan?" gerutu Jeno pada Miqdad, salah satu pegawai yang sedAri tadi berdiri di samping Jeno.
Jeno menggerutu, karena melihat pegawai secara bergantian pergi ke kamar mandi untuk mengambil wudhu, setelah melihat Kamila ke kamar mandi sebelumnya.
"Awalnya gue juga males kayak gini, tapi nyiapin tempat salat dan barisannya itu ternyata makan waktu cukup lama, karena kita salatnya berjama’ah, gak sendirian. Jadi kadang salatnya gak tepat waktu, meskipun cuman telat beberapa menit, rasanya kan tetep gimana gitu. Lagian Lo tahu gak? Kalau kita shalawat sekali, sama Rasul dibalesnya sepuluh kali. Insya Allah urusan kita jadi lancar, dan kita bisa dapet syafa'at di akhirat," ujar Miqdad panjang lebar.
"Apa hubungannya urusan jadi lancar sama tiga puluh menit siap sebelum azan, terus kenapa tempat salat dan barisan harus rapih?" tanya Jeno dengan nada ketus.
“Yah apa salahnya banyak-banyak ibadah? Kata mbak Kamila, insya Allah urusan kita jadi dilancarkan, dengan semakin banyaknya kita ibadah. Yah, meskipun kalau ibadahnya gak bener dan bukan karena Allah dan Rasul, percuma sih. Tapi ya masak gak diusahain sih buat itu? Udah gitu, salat itu kan menghadap Allah langsung, kita mau menghadap Tuhan loh, masak gak takut? Jadi semuanya harus beres, bahkan hal-hal kecil sekalipun harus diperhatiin. Kayak tempatnya, baju yang kita pake buat salat, semuanya harus bersih, wangi, dan rapi. Kalau kita ketemu pelanggan aja, harus kayak gitu kan? Apa lagi mau menghadap Tuhan,”
Jeno seketika terdiam, mendengar ceramah panjang lebar Miqdad.
Miqdad menepuk bahu Jeno, “Gak berat kok buat lakuin itu semua, yang bikin kita ngerasa berat itu kan, syaitan, dan nafsu. Syaitan harus dilawan, nafsu harus dididik. Semua ini buat diri kita sendiri. Lo tahu kan? Tuhan itu zat yang maha agung, mau kita gak ibadah sekalipun, Tuhan gak rugi. Tapi malah kita yang rugi. Semangat bro, Lo pasti lama-lama bisa terbiasa,” papar Miqdad, yang membuat Jeno termenung.
•••
Kamila tanpa sadar melamun selama shawalat, dia kembali memikirkan Jeno. Meskipun Kamila sudah mencoba menepisnya, tapi ia kembali memikirkannya lagi. Alasan Kamila tidak mau jatuh cinta, ya karena ini. Itu sebabnya Kamila masih enggan untuk menikah, ia takut fokus malah kemana-mana.
Lamunannya mendadak buyar, karena mendengar suara Jeno yang mendominasi shawalat. Tak lama kemudian Jeno mendapat protes, karena bacaannya salah.
"Gue lagi semangat ini!" seru Jeno, membalas orang yang sudah memprotesnya.
"Tapi Lu salah bacaan! Gimana sih?!"
"Kan emang belum hafal,”
"Kalau gitu gak usah teriak-teriak,"
"Jeno tuh lucu ya?" Kamila seketika menolehkan kepalanya ke sumber suara, saat mendengar gadis-gadis di belakangnya, menyebut nama Jeno.
Seorang wanita paruh baya pun memperingati mereka, agar tidak mengobrol.
Kamila mendengus sembari menatap lurus ke depan, menatap tirai yang jadi pembatas untuk laki-laki dan perempuan.
‘Ya Tuhan, jauhkan saya dari zina.’ Pinta Kamila di dalam hatinya.
•••
Toko sudah tutup, para pegawai pun mulai sibuk beres-beres, termasuk Jeno. Kamila pun ikut membantu.
Saat Kamila sedang sibuk mengelap meja, seorang pegawai mendekatinya, untuk memberitahukan sesuatu.
"Mbak Kamila, hari ini banyak roti nyisa, kayaknya kalau dibesokin gak bagus deh, udah dua hari soalnya,"
"Ya udah dikumpulin aja yang masih bagus, terus kalau ada yang mau bawa pulang, bawa aja. Kalau enggak kasih ke orang-orang yang lewat atau anak jalanan,"
Jeno yang sedang mengepel lantai, seketika menghentikan sejenak kegiatannya, ia mengernyit keheranan mendengar pembicaraan Kamila dengan pegawai itu. Ia yang berdiri tak jauh dari mereka, akhirnya nimbrung.
"Rugi dong kalau dibagiin gratis ke orang, entar mereka jadinya sering nunggu gratisan bukannya beli,” ujar Jeno.
"Kalau dibuang entar mubazir, jadi dosa, terus akhirnya jadi rezeki gak lancar, karena kita udah buang-buang pemberian Allah,” balas Kamila, yang membuat Jeno seketika bungkam.
Ayahnya itu pebisnis, dan beliau sering mengajarkan pada Jeno, kalau ada barang yang tidak laku dimusnahkan saja atau dijual dengan harga murah. Kalau dibagikan secara gratis, nanti orang-orang jadi tidak beli dan memilih menunggu barang dibagikan secara gratis.
"Gak rugi kok dibagi-bagi gratis ke orang, malah seneng, bisa liat orang seneng sama pemberian kita. Lagian yang namanya rezeki mah pasti bakal ada aja, kan rezeki kita itu udah ditentuin sama Allah, seberapa dan dari mana asalnya. Malah dengan ngasih ke orang, insya Allah, rezeki malah berkali lipat datengnya," papar Kamila sembari tersenyum simpul pada Jeno.
“Ah, gitu yaa...,” gumam Jeno.
“Kalau dipikir secara logika, emang bakal rugi, cuman yang saya percaya gimana firman Tuhan aja,”
•••
"Banyak banget hal yang bikin gue berubah pikiran selama kerja di toko kue Kamila," ujar Jeno, yang membuat Tora dan Bayu, sontak menoleh ke arahnya.
Malam ini, sepulang kerja, Jeno mengajak Tora dan Bayu ke rumahnya, untuk makan roti yang ia bawa dari toko kue Kamila. Tora dan Bayu pun saat ini tengah duduk di karpet, sembari menikmati roti, sementara Jeno duduk di atas kasur, dan hanya memperhatikan keduanya makan.
"Berubah gimana?" tanya Tora, sembari menelan roti yang sudah selesai ia kunyah.
"Ya gituuu...," balas Jeno sembari merebahkan tubuhnya di kasur. Ia kemudian menatap langit-langit kamarnya. Tora mengernyit, jawaban Jeno sama sekali tidak menjawab pertanyaannya.
"Ngomong-ngomong lo pada mau tahu gak, kenapa orang tua gue gak gencar nyuruh gue kerja?" Jeno malah tiba-tiba mengalihkan pembicaraan.
"Emang kenapa tuh?" tanya Bayu.
"Karena perusahaan bokap mau diwarisin ke gue, padahal dulu bilangnya mau diwarisin ke adeknya. Jadi mulai besok gue bakal berhenti kerja di tempat Kamila, dan kemungkinan besar, gue bakal pindah ke Korea,"
•••
Semuanya terjadi secara mendadak, saat Jeno baru pulang kerja, ayahnya langsung menggiring Jeno ke ruang kerjanya untuk membahas tentang perusahaannya. Jeno selama ini tidak pernah diberitahu, kalau ia yang akan mewarisi perusahaan, ayahnya dulu selalu bilang, kalau perusahaan akan diwariskan ke adiknya. Namun malam ini, secara tiba-tiba ayah bilang, kalau perusahaan akan dipegang olehnya.
Reaksi Tora dan Bayu, tentu terkejut, namun mereka tidak bisa mengatakan apapun.
Jeno jadi tidak bisa tidur, padahal sekarang sudah larut. Tora dan Bayu sendiri sudah pulang sejak beberapa jam yang lalu.
Karena tidak kunjung bisa tidur, ia akhirnya bangkit dari ranjangnya, dan pergi ke balkon untuk mencari udara segar. Begitu sampai di sana, ia tersentak kaget, karena rupanya Kamila sedang berada di balkon kamarnya. Kamila sendiri juga terkejut melihat Jeno tiba-tiba keluar dari balkonnya.
Kebetulan atau memang jodoh? Pikir Jeno ngawur.
Jeno tersenyum pada Kamila, begitu juga dengan Kamila. Gadis itu mengenakan jaket hoodie berukuran besar, celana piyama, serta kerudung instan, yang entah kenapa terlihat lucu di mata Jeno.
Jeno termenung, melihatnya, membuat Jeno tidak bisa membayangkan dirinya harus meninggalkan gadis yang baru saja ia kenal, suka, dan juga sudah berhasil merubah jalan pikirnya. Terutama soal agama. Ia juga berhasil membuat Jeno sadar, betapa sia-sia hidupnya selama ini.
Meskipun kemungkinan Kamila membalas perasaannya, sangatlah minim, mengingat bagaimana buruk dirinya.
Setelah saling terdiam untuk beberapa saat, Jeno pun memberanikan diri untuk mengajaknya bicara duluan.
“Kok belum tidur?” tanya Jeno dengan nada tinggi, agar dapat didengar Kamila.
"Gak bisa tidur,” balas Kamila dengan nada tinggi juga, namun tersirat dari nada suaranya, kalau ia sedang lelah.
"Jangan kelamaan di luar, gak baik," nasihat Jeno.
"Kamu juga,” timpal Kamila sembari tersenyum samar.
Suasana kemudian hening kembali seperti sebelumnya. Namun tak berselang lama, Jeno mengingat masalahnya, yang membuatnya tidak bisa tidur, hingga berada di balkon saat ini. Karena melihat wajah Kamila, sesaat ia lupa dengan masalahnya.
"Kamila!" panggil Jeno, yang membuat Kamila sontak menoleh ke arahnya, setelah sebelumnya melihat ke arah lain.
"Kenapa?" tanya Kamila.
"Besok...,” Jeno menggantungkan kalimatnya sejenak, merasa tidak siap untuk mengatakan apa yang ingin ia katakan. Tapi ia harus mengatakannya sekarang, dari pada membuat Kamila terkejut besok.
Setelah menarik napas dalam, dan menghembuskannya, Jeno pun melanjutkan kalimatnya. “Be-besok... aku mau resign,”
Mata Kamila sontak melebar mendengarnya. Jeno jadi berharap, apa mungkin Kamila jadi merasa kehilangan dirinya? Atau hanya terkejut.
"Kok gitu? Kenapa? Kamu udah dapet kerjaan baru?" tanya Kamila dengan d**a yang tiba-tiba merasa sesak.
Jeno mengangguk sebagai jawaban, “Eum, dan... dan kemungkinan aku bakal tugas di Korea,”
Kamila jadi lebih terkejut lagi mendengar, bola matanya bergulir kemana-mana, berusaha untuk tidak menatap wajah Jeno terlalu lama, dan juga agar Jeno tidak menyadari bagaimana raut wajahnya sekarang, yang pasti kacau sesuai bagaimana perasaannya saat ini.
Kamila berusaha menenangkan diri, dan meredam rasa terkejut serta sedihnya yang bercampur aduk jadi satu. Ia kemudian menghela napas, sebelum akhirnya kembali menatap Jeno, dengan raut wajah berusaha setenang mungkin.
“Jangan lupa salat ya? Bacaannya dibenerin lagi, terus mudah-mudahan kamu bisa berhenti ngerokok, itu kan gak sehat. Dan semoga kamu sukses, bisa nyaman dan suka sama pekerjaan baru kamu,” papar Kamila, sembari tersenyum, yang entah kenapa membuat Jeno merasa sesak melihatnya.
“Kalau gitu saya masuk dulu ya? Udah mulai ngantuk. Kamu juga, jangan lama-lama di luar, terus cepet tidur. Assalamualaikum,” setelah berkata demikian, Kamila bergegas masuk ke kamarnya.
Jeno menghela napas entah untuk yang keberapa kali malam ini, ia lalu mengusap kasar wajahnya. Seandainya Kamila bukan tetangganya, seandainya ia tidak menyukai Kamila, ia mungkin saat ini malah senang bisa mewarisi perusahaan ayahnya, dan pindah ke Korea.
Mungkin tidak, kalau perasaan ini hanya seperti cinta monyet? Ia juga suka Kamila dalam pandangan pertama, bisa saja ia bisa cepat melupakannya. Harap Jeno.
•••
Hari ini Jeno datang ke toko kue untuk memberikan surat pengunduran diri. Sebenarnya Jeno tidak tahu perlu atau tidak, karena untuk masuk kerja di sini saja sangat mudah, tidak perlu ijazah dan lain-lain.
Jeno datang dengan pakaian rapi, karena setelah ini ia akan ke kantor ayahnya. Ia mengenakan setelah jas berwarna hitam, kemeja hitam, dan dasi berwarna navi yang mengkilap. Rambutnya juga ia tata ke belakang, hingga menampakan keningnya.
Kedatangannya dengan penampilan seperti itu, sukses membuatnya jadi pusat perhatian para pegawai. Jeno pun menyapa mereka hanya dengan senyuman, karena ia juga buru-buru, tidak bisa berlama-lama di sini.
Sesampainya di ruangan Kamila, Jeno langsung mengetuk pintu ruangannya. Suara Kamila yang menyuruhnya masuk tak lama terdengar.
Jeno pun langsung masuk, dan Kamila terlihat terkejut saat melihatnya. Entah karena kehadiran Jeno, atau karena penampilannya, yang sangat berbeda dAri biasanya.
“Eh, Jeno,” gumam Kamila sembari tersenyum. “Kamu udah dapet pekerjaan yang lebih bagus ya? Penampilan kamu rapi banget, kerja kantoran?” ujar Kamila.
“Iya,” balas Jeno singkat, karena tidak tahu harus menjawab apa. Ia jadi merasa tidak enak mendengar pertanyaan Kamila. Bekerja di sini sebagai pelayan, bukanlah pekerjaan yang buruk, atau tidak sebagus pekerjaannya yang saat ini akan mulai ia jalani.
“Ayo duduk dulu,” ajakan Kamila untuk duduk, sukses menyadarkan Jeno dari lamunannya.
Jeno pun segera duduk pada sofa single yang letaknya berada di depan sofa panjang yang diduduki Kamila, serta meja kaca yang berada di tengah-tengah.
“Eum, aku ke sini karena mau ngasih surat pengunduran diri,” tutur Jeno sembari berdehem pelan, dan menyerahkan surat yang ia bawa pada Kamila.
Kamila tersentak kaget, ia lalu meraih surat yang Jeno sodorkan sembari bergumam. “Padahal gak usah,”
Kamila hanya memandang surat tersebut, dan tidak membukanya sama sekali. Raut wajahnya terlihat sendu, entah ia sedih karena Jeno mengundurkan diri, atau karena ada masalah lain. Karena sebelum ia tahu kalau Jeno hendak mengundurkan diri, Kamila juga sudah terlihat murung.
“Keliatan sedih banget, bukannya gak suka sama yang manis-manis?” ujar Jeno, berusaha mencairkan suasana yang mendadak sunyi dan canggung.
Kamila hanya tersemur samar sebagai jawaban, matanya mengerjap. Ia rupanya tidak sadar kalau sedari tadi melamun.
“Ekhem, kerja di mana sekarang kalau boleh tahu? Jadi apa?” tanya Kamila, sembari menatap Jeno sekilas. Ia berusaha memasang ekspresi seperti biasanya.
Jeno terdiam sejenak, ia bingung harus jujur atau tidak. Karena entah kenapa Jeno merasa malu untuk bilang kalau ia akan jadi direktur serta pewaris perusahaan. Perbedaannya juga terlalu jomplang dengan pekerjaannya di sini, takut kalau Kamila jadi merasa tidak enak dan sungkan dengannya.
"Cuman jadi pegawai kantoran biasa kok,” Jeno akhirnya terpaksa berbohong.
Kamila merespon dengan anggukan, “Oh gitu ya, semoga sukses. Dan jangan lupain ibadah ya?”
Jeno membalas dengan anggukan sembari tersenyum. Ia kemudian terdiam sebentar, sembari mengulum kedua belah bibirnya.
"Eumm... kita bisa jadi temen gak? Soalnya hubungan kita awalnya cuman tetangga yang kenal sebatas nama aja, terus berlanjut jadi hubungan sebatas bos dan karyawan, padahal kita seumuran, harusnya bisa... temenan kan ya? Hehe,” ujar Jeno.
Belum sempat Kamila menjawab pertanyaan Jeno, tiba-tiba ada yang membuka pintu ruangannya tanpa permisi, bahkan sambil berteriak. Dan rupanya, pelakunya adalah Lino.
“Salam dong Kak, kok ini malah teriak-teriak?” protes Kamila.
“Lagi kepengen teriak,” balas Lino, yang membuat Kamila mendengus. “Ya udah assalamulaikum, udah kamu jangan ngambek, bales dong!”
“Waalaikumsallam,” ucap Kamila dan Jeno secara bersamaan.
Mata Lino kemudian membola, saat menyadari keberadaan Jeno di sini.
"Eh ada hidung Himalaya! Rapih bener lu, mau ke kondangan atau gimana?” ujar Lino.
“Aku mau kerja Kak, habis dari sini,” balas Jeno sambil berusaha tersenyum. Ia bukan kesal dengan tingkah Lino yang unik, ia memaklumi hal itu, hanya masih suka terkejut saja dengan tingkah ajaibnya.
"Dih Kakak, emang gue Kakak Lo? Panggil abang aja," kata Lino.
"Bukannya itu sama aja ya?" respon Jeno, yang membuat Lino terdiam, dengan ekspresi yang seolah-olah sedang berpikir.
Kamila hanya bisa mendengus, melihat tingkah kakaknya, “Kakak ada apa ke sini?” tanya Kamila kemudian.
"Kakak mau nikah,” jawab Lino dengan tampang watados, berbanding terbalik dengan reaksi Jeno dan Kamila yang sangat terkejut, mata mereka membelalak, seolah akan keluar dari tempatnya. Mereka saling bertatap sejenak, sebelum akhirnya kembali melihat ke arah Lino.
Jeno sebenarnya heran kenapa Kamila terkejut, ia pikir Kamila sudah tahu tentang ini. Tapi sepertinya tidak, berarti Lino benar-benar dadakan bilang mau nikah.
"Kok tiba-tiba sih?" tanya Kamila.
"Kok kaget sih?” bukannya menjawab, Lino malah balik bertanya.
“Ya kaget lah, gak ada angin, gak ada hujan, tiba-tiba dateng ke sini bilang mau nikah,” ujar Kamila.
“Kemaren sore hujan kok,” jawaban Lino, sukses membuat Kamila rasanya ingin menjambak rambut Lino.
“Kakak ke sini juga mau minta bantuan kamu, kamu tolong bantuin Kakak nyiap-nyiapin nikahannya ya? Nah terus mumpung ada Jeno juga di sini, gue juga mau minta bantuan Lo dong, kita kan tetangga,”
“Kak, apa-apaan sih? Gak sopan banget tiba-tiba minta Jeno bantuin juga,” protes Kamila.
"Buat menekan biaya, Mil," balas Lino.
“Ya tapi gak gitu juga dong, aku sendiri juga bisa,” kata Kamila.
“Gak papa kok kalau aku bantuin,” celetuk Jeno.
Kamila dan Lino sontak menatapnya, Kamila dengan pandangan terkejut serta merasa sungkan, sementara Lino dengan tatapan bahagia. Sementara Jeno hanya tersenyum. Sebenarnya ia setuju untuk membantu Lino, karena ia pikir momen ini bisa jadi kesempatan baginya untuk menghabiskan waktu bersama Kamila, sebelum nanti ia pindah ke Korea.
“Kamu yakin Jen? Kak Lino tuh gak akan bayar kamu, dia tuh pelit,” tutur Kamila jujur, yang membuat Lino mengerucutkan bibir mendengarnya.
“Gak masalah kok, sebentar lagi aku kan juga mau pindah, jadi sebelum pindah, gak papa lah aku bantu-bantu,”
Raut wajah Kamila seketika berubah sendu lagi, ia hanya menjawab dengan gumaman. Jeno jadi merasa bersalah, apa benar Kamila memang sesedih itu karena ia mau pindah.
“Lo mau pindah Jen?” tanya Lino.
“Iya Ka-, eh Bang maksudnya. Soalnya aku kerjanya emang bukan di sini, kerja di sininya cuman sementara aja,” balas Jeno.
“Ahh, ya ampun,” gumam Lino dengan alis bertahut.
“Oh iya Kak, aku punya kenalan orang yang punya butik khusus baju-baju buat wedding, dia selalu ngasih harga temen ke orang-orang yang dia kenal atau deket, sama... aku juga kenal orang yang bisa dekorasi ruangan, terutama buat nikahan. Dia temen aku sendiri, jadi pasti gak akan kasih harga tinggi,”
Lino menjentikan jarinya, “Wahh, makasih banyak Jen, gue jadi ngerasa bersalah karena udah mandang Lo sebelah mat sebelumnya, makasih loh Jen, gue jadi lebih bisa menekan biaya, hehe,”
“Makanya Kak, jangan suka asal nilai orang,” cibir Kamila.
“Ya udah sih, Kakak kan udah minta maaf. Ya udah ya, Kakak harus balik ke sekolah, mau ngajarin anak-anak nari buat pentas, dadaahhh...,” Lino berkata sambil keluar dari ruangan Kamila.
Kamila mendengus, “Gak salam lagi,” gumam Kamila.
“Kakak kamu ajaib banget ya,” kekeh Jeno.
“Haha, iya, bikin elus d**a,” balas Kamila dengan tawa terpaksa. “Tapi makasih banyak udah mau bantuin Kakak aku,”
Jeno mengangguk, “Gak masalah, jangan sungkan gitu, kita kan... temen kan?”
“Saya belum nyetujuin ajakan berteman kamu,” kata Kamila.
“Ah, jadi ajakan saya ditolak?”
Kamila tergelak, melihat reaksi terkejut sekaligus panik Jeno. Jeno mengerjap, kemudian menatap Kamila yang masih tertawa meskipun tidak sekeras sebelumnya.
“Kamu maunya lebih dari temen?” kali ini giliran Kamila yang dibuat terdiam oleh Jeno.
Jeno tersenyum, saat Kamila langsung diam, dan menatapnya dengan mata membola. Ia bisa melihat rona merah yang samar perlahan menjalar di pipinya.
“Hahaha, bercanda, habis kamu juga ngeselin,” kata Jeno sambil tertawa.
Kamila mendengus kesal, “Ahh, kamu nih! Saya juga cuman bercanda tadi,”
Kamila kemudian mengusap dadanya sejenak, jantungnya hampir saja lompat keluar tadi.
“Iya, tapi bercandanya bikin kesel,”
“Emang bercandaan kamu gak bikin kesel?”
“Ya udah kita impas, tapi kita jadinya temenan gak?”
“Hah, iya kita temanan, emang mau apa lagi? Mau musuhan?”
“Kali aja kamu maunya jadi istri aku, hahaha,”
“Mulai lagi ya kamu,”
Jeno terkekeh, ia kemudian melirik jam tangannya, ia sudah hampir telat ke kantor.
“Kamila, saya harus berangkat ke kantor sekarang,” ucap Jeno sembari bangkit berdiri dari sofa.
“Oh, oke, hati-hati ya?”
Jeno mengangguk, ia menatap sejenak wajah Kamila, yang juga tengah melihatnya saat ini. Ia kemudian mengucapkan salam, sebelum akhirnya keluar dari ruangan Kamila dengan perasaan campur aduk. Tidak hanya Jeno, Kamila pun merasakan hal yang sama seperti yang Jeno rasakan.