“Sekarang kamu upayakan tidur. Tarik nafas panjang-panjang, kamu istighfar, dan kamu yakinkan anakmu tidak terluka oleh ucapanmu. Dia malah sangat bangga padamu. Infokan itu ke otakmu. Anakmu sangat bangga kamu membelanya mati-matian. Sekarang tidurlah. Abang tunggu di sini sampai kamu lelap,” perintah Langit sambil memberi afirmasi agar Bulan tenang. “Nanti malam Abang nggak usah ke sinilah. Abang pulang saja istirahat. Aku sama Ririn bisa kok,” Bulan ‘mengusir’ Langit. Dia tak enak merepotkan dokter itu. “Tak apa. Nanti biar habis makan malam atau saat makan malam Ririn dan Elang di sini. Sesudah itu biarkan Ririn menemani Elang sebentar. Nanti Abang tidur sama Elang kalau kamu nggak mau Abang tidur di sini. Kalau Ririn kan pasti tidur sama Mentari.” “Kalau di sini Abang bisa tidur di

