Mbak Fatma merasa lega ketika akhirnya Bu Rini pergi dari rumah. Dirinya yang memang terlalu perhitungan pun, merasa sangat terbebani dengan kehadiran Bu Rini yang selama tiga bulan kurang lebih tinggal di rumahnya. Apalagi gaya hidup Bu Rini yang tinggi sehingga uang bulanan yang diberikan oleh anak-anaknya selalu kurang. Apalagi Mbak Fiska yang seolah menyerahkan Bu Rini padanya begitu saja. Bahkan tak pernah lagi menelpon untuk sekadar menanyakan kabarnya. “Akhirnya uang aku aman, Pap.” Mbak Fatma tersenyum sumringah. Dia menatap ke arah depan sambil memperhatikan lalu lalang kendaraan. “Lah memangnya selama ini gak aman kenapa?” Mas Arnold---suaminya bertanya. Tangannya masih fokus pada kemudi. “Mama tuh gak bisa lihat aku pegang uang agak banyak, langsung ada saja keinginannya.

