Masih dalam situasi yang sama. Areta mengatur nafas, menegakkan badan dan berjalan pelan menuju Arza yang masih berdiri bak model di depan sana. Angkuh sekali, membuat Areta ini mencabik-cabik wajah pria tampan ini. “Saya ‘kan udah bilang buat nunggu di mobil, kenapa kamu malah ke sini?!” geram Areta dengan suara pelan, berbicara di depan Arza dalam keadaan mendongak dan Arza yang menunduk. Jika di lihat dari sudut yang lain, mereka berdua terlihat seperti sedang berciuman. Sayang sekali kenyataannya tidak seberuntung itu. Untuk besentuhan tangan saja mereka tidak mau, apalgi hal intim begitu. Arza angkat sebelah alisnya. “Emangnya kenapa? Hak saya dong, kamu ‘kan tunangan saya,” ucapnya membuat Areta menutup mata kala mendengar kata-kata pertunangan itu. Terdengar bisik heboh di sekel

