itu "Apa yang harus aku lakukan, Tuhan? Haruskah aku menyerah dan melihat dia bahagia diatas penderitaanku?" tangis Luna sambil memeluk lututnya.
Hampir satu hari Luna dikurung di dalam kamar. Aroma makanan mewah di nampan yang dibawa pelayan tidak sanggup meredam kepedihan dan ketakutan yang menggerogoti jiwanya. Wajahnya sembab bukan hanya karena air mata tetapi juga rasa takut akan ajal yang menjeputnya di meja operasi.
Pelayan yang bertugas hanya berani masuk untuk menukar nampan dan kemudian segera keluar, takut berurusan dengan Tuan-nya yang tak hanya gila tapi juga kejam itu.
Luna menangis tanpa suara. Kenangan manis pernikahan mereka yang singkat kini terasa seperti ilusi kejam. Kata-kata Frans, yang tadinya ia anggap bualan, ternyata menjadi kebenaran mutlak.
"Apa memang semua perkataan lelaki itu benar? Bahwa Sean tidak pernah mencintaiku. Aku hanya dijadikan alat untuk menyembuhkan kekasihnya sejak awal."
Ia mengusap air matanya, menatap cincin berlian yang berkilauan di jarinya. Cincin itu bukan lagi hadiah cinta, melainkan harga dari satu ginjalnya, harga dari pengkhianatan terbesar dalam hidupnya.
Waktu berganti malam. Tepat saat jam menunjukkan pukul sepuluh malam, kunci kamar berputar, dan pintu terbuka dengan deritan pelan. Sean masuk, membawa nampan makanan yang baru dan segar.
Wajah Sean yang biasanya tenang, kini terlihat geram saat melihat piring-piring makanan yang dibawa pelayan dari tadi pagi dan siang masih utuh, bahkan belum tersentuh sama sekali.
“Makanlah!” perintah Sean, suaranya tajam dan tidak sabar. Ia meletakkan nampan itu dengan kasar di meja, menyodorkan piring di hadapan Luna.
Wanita itu menggeleng, tatapan matanya kosong dan penuh luka. Ia menarik lututnya lebih dekat ke d**a, menyembunyikan kepalanya diantara kedua lutut.
“Aku tidak mau,” jawab Luna dengan suara parau. “Lebih baik aku mati daripada aku harus mendonorkan ginjalku untuk kekasih sekaratmu itu!”
Mendengar ucapan itu, Sean justru tertawa terbahak-bahak. Suaranya menggelegar ke seluruh ruangan seolah mengejek Luna.
“Justru lebih bagus kalau kamu mati!” seru Sean, ia mencondongkan tubuhnya ke arah Luna, tatapan matanya mengkilat seperti orang gila. “Aku bisa langsung mengambil ginjalmu tepat sebelum kamu menemui ajalmu! Darah dan organmu akan tetap segar untuk Liana.”
Luna bergidik ngeri mendengarnya. Rupanya Sean serius dengan ancamannya. Dan sepertinya, dia sudah merencanakan semuanya dengan matang. Ia mundur, menjauh dari wajah Sean yang kini terlihat asing dan mengerikan.
“Kau jahat, Sean! Kau bukan manusia! Kau iblis!” teriak Luna dengan air mata yang kembali membanjiri pipinya.
Tawa Sean justru semakin keras mendengar umpatan Luna. Bukannya marah, Sean justru menikmati semua umpatan Luna.
“Terserah apa katamu!” Sean mengangkat bahu, sikapnya kembali tenang, tetapi jauh lebih dingin dari sebelumnya. “Yang jelas, kau hidup atau matipun, ginjalmu akan aku ambil untuk Liana. Jadi pilihan ada di tanganmu! Mendonorkan secara sukarela dan anakmu selamat, atau melawan dan mati sia-sia.”
Sean bangkit, meninggalkan makanan yang sama sekali tidak tersentuh itu. Ia melangkah keluar tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Pintu itu kembali terkunci, meninggalkan Luna dalam kesendirian. Luna tahu, dia tak punya pilihan selain menyerah pada takdir yang mungkin akan membawanya pada kematian.
Di luar kamar itu, Sean tidak lagi tenang. Ia mengambil kunci mobil dan melajukannya dengan cepat menuju Rumah Sakit.
“Bagaimana kondisi Liana?” tanyanya tanpa basa-basi kepada perawat kepercayaannya, yang sudah menunggu dengan wajah tegang.
Perawat itu berbisik, “Tuan, kondisi Nona Liana tidak stabil. Setelah transfusi darah tadi pagi, tekanan darahnya kembali menurun drastis. Dia sudah mengalami penurunan kesadaran.”
Sean menghentikan langkahnya. Matanya seketika menyala penuh kepanikan. “Apa maksudmu? Bukankah seharusnya dia sudah stabil setelah transfusi dari Luna?”
“Dokter Nico mengatakan bahwa kondisi tubuh Liana sudah terlalu lemah. Kami harus segera melakukan pencangkokan ginjal. Dokter Nico menyarankan paling cepat seminggu lagi setelah stabilisasi organ, tetapi dengan kondisi ini… sepertinya jadwalnya harus dipercepat.”
Sean menghempaskan pintu kantor Direktur hingga bergetar. Ia segera memanggil Dokter Nico, kepala tim transplantasi.
“Lakukan operasi pencangkokan besok pagi!” perintah Sean tanpa sedikit pun keraguan.
Dokter Nico menggelengkan kepalanya dengan tegas. Wajahnya menunjukkan kekhawatiran yang mendalam.
“Saya tidak bisa, Tuan Sean! Kondisi Liana sangat buruk untuk dioperasi besok. Dan yang lebih penting, Nyonya Luna baru saja mendonorkan darah, dan sebagai wanita hamil, ia butuh beberapa hari untuk recovery sebelum menjalani operasi besar seperti transplantasi ginjal!”
Dokter Nico tahu, permintaan Sean ini adalah malapraktik. Ia tidak tega mengorbankan dua nyawa sekaligus demi tuntutan seorang pemilik rumah sakit yang kejam.
Akan tetapi, Sean tak peduli pada etika atau keselamatan Luna. Ia adalah pemilik rumah sakit, dan Liana adalah cintanya.
“Jika dokter tidak mau melakukannya, aku akan membawa Luna ke tempat lain untuk melakukan operasi pencangkokan ginjal,” ancam Sean. “Aku akan membawanya ke mana pun, dimana ada dokter yang mau melakukannya. Kau tahu konsekuensinya, Nico.”
Dokter Nico menundukkan kepala, kekalahan terpampang jelas di wajahnya. Ia adalah dokter terbaik, tetapi ia tidak memiliki kekuatan untuk melawan kekuasaan Sean yang merupakan pemilik rumah sakit dan salah satu konglomerat terbesar di kota itu.
Satu-satunya harapan Dokter Nico kini adalah Frans. Mengingat ancaman yang pernah dilontarkan Frans kemarin di lobi, Nico berharap Frans memiliki solusi untuk membantu Luna. Karena dia sendiri tidak tega tapi tak mampu melawan kekuasaan Sean. Setelah memastikan tidak ada siapapun di ruangan itu, Nico mengambil gawainya.
"Operasi akan dilaksanakan besok pukul 9."
"Baik, pastikan semua yang aku minta sudah ada begitu aku datang," sahut seseorang disana.
"Siap."
***
Waktu bergerak begitu cepat. Ketakutan dan kelaparan selama sehari penuh membuat Luna semakin lemah, baik fisik maupun mental. Ia telah mencoba segala cara untuk keluar, tetapi jendela kamar itu terkunci rapat, dan pintu baja itu tidak bisa ditembus.
Hingga akhirnya, hari operasi pun tiba.
Pagi-pagi sekali, pintu kamar terbuka. Dua perawat berbadan besar masuk, dibuntuti Sean yang mengenakan setelan jas paling rapi. Sean tidak lagi menawarkan kata-kata manis atau berlian. Wajahnya dingin, memancarkan aura yang kejam.
Luna yang sudah terlalu lemas untuk melawan, hanya bisa pasrah saat perawat membantunya berganti pakaian operasi. Ia pasrah, demi menyelamatkan bayinya yang kini menjadi satu-satunya harta berharga di hidupnya.
Sean menunggunya di koridor, di depan ruangan operasi. Saat pintu ruang operasi dibuka, Sean meraih bahu Luna dengan kasar. Ia mendorong tubuh Luna yang lemah masuk ke dalam.
“Cepatlah masuk … dia tidak bisa menunggu lagi,” kata Sean tanpa peduli ringisan Luna saat lelaki itu mendorongnya.
Luna mengangguk tenang, matanya sembab akibat menangis terlalu lama semalam. Ia tahu, setelah ini, hidupnya akan berubah total. Ia menoleh ke belakang, menatap Sean untuk terakhir kalinya. Pria yang dia cintai tetapi juga menjadi orang yang telah menghancurkannya.
Sebelum pintu kamar operasi tertutup rapat, Luna berbisik dengan suara lemah.
“Sean, jika aku mati, apa kamu akan mengingatku?”