Rencana Kejam Sean

1006 Words
"Apakah aku sudah meninggal?" Suara Liana terdengar lirih, hampir tenggelam oleh dengung alat medis yang ada di dalam ruang VIVIP itu. Sean menggenggam erat tangan Liana. Tatapannya penuh kekhawatiran yang bahkan tak pernah dia tunjukkan untuk Luna, istrinya. “Kau tidak boleh meninggal, Sayang." ucap Sean lembut. "Aku akan melakukan apa pun untuk menyembuhkanmu. Setelah ini selesai, kita akan hidup bersama dan bahagia. Aku janji.” Di pergelangan tangan Marliana, infus berisi darah menetes perlahan. Darah yang beberapa jam lalu diambil dari tubuh Luna. Meskipun tubuhnya tampak rapuh, senyum tipis Marliana terlihat sempurna. Matanya yang gelap, sangat mirip dengan mata Luna, memandang Sean dengan manja. Ia membalas genggaman tangan Sean, seolah mencari seluruh kekuatan hidup dari sentuhan pria itu. “Apa aku masih ada harapan untuk hidup?” tanya Liana, dengan nada yang dibuat selemah mungkin. Nada yang dia rancang untuk memancing perhatian Sean. Sean mencondongkan tubuhnya, mencium kening Liana lama, mengabaikan selang-selang yang menempel di tubuh rapuh itu. “Tentu saja," bisiknya penuh gairah yang selama ini ia tekan. "Kau harus hidup, Sayang. Jangan pernah berpikir untuk meninggalkanku, Liana. Kau adalah satu-satunya tujuan hidupku. Semua yang kulakukan, semua kerja keras yang kumiliki, ini semua untuk memastikan kau bisa keluar dari kamar terkutuk ini dan menikmati dunia bersamaku." Tak hanya uang yang dia korbankan, tapi juga koneksi dokter, prinsip ... bahkan istrinya sendiri, wanita yang kebetulan memiliki darah dan organ yang cocok demi wanita yang ada di hadapannya ini. Liana menghela napas panjang, memasang mimik pura-pura sedih. “Lalu ... bagaimana dengan Luna, Sean?" tanyanya lembut. "Kalian sudah menikah, bukan? Apalagi, kudengar ... saat ini dia sedang hamil.” Pertanyaan itu, bukannya membuatnya menyesal, tetapi justru memicu ekspresi jengkel di wajah tampan Sean. Ia melepaskan sentuhan di kening Liana, sedikit menjauh, seolah nama Luna adalah hama yang harus dia jauhi. “Jangan sebut namanya,” tukas Sean dingin. “Pernikahan ini hanya sandiwara yang kuciptakan untuk mempercepat proses penyembuhanmu. Dia mudah dikendalikan. Hanya dengan memberinya sedikit rayuan, kalung dan juga perhatian, dia akan memberikan segalanya untukku.” Liana pura-pura menghela napas prihatin, memainkan peran saudari yang berhati lembut. “Kasihan dia, Sean," gumamnya. "Bagaimana dia akan menjalani kehidupannya setelah ini? Hidup dengan satu ginjal ... dan harus membesarkan anaknya sendirian?” Sean tertawa kecil, tawa yang kejam tanpa rasa bersalah. Ia kembali mendekat, mengikis jarak, memandang Liana penuh damba. “Aku akan menceraikannya setelah donor ginjalmu selesai," jawabnya tenang. "Aku tidak mungkin membuangnya sebelum apa yang kita butuhkan ada di tubuhmu. Begitu ginjal itu telah berpindah ... dia tidak lagi berguna." Liana menatap Sean dengan mata berkaca-kaca, bukan karena sedih, melainkan karena puas semua keinginannya telah tercapai. “Anak itu anakku,” lanjut Sean, suara rendahnya kini terdengar sangat posesif. “Aku akan meminta hak asuhnya sehingga dia akan menjadi anak kita. Jadi, kamu tidak perlu capek-capek hamil, Sayang. Cukup hidup berdua dan bahagia bersamaku. Kita akan membangun keluarga dengan anak itu, setelah semua penderitaanmu berakhir.” Liana tersenyum miring. "Sempurna, Aku telah mendapatkan semuanya: darah, sumsum, ginjal yang sebentar lagi, aku akan mendapatkan anak, tanpa harus melalui proses kehamilan yang melelahkan," ujarnya dalam hati. Dia mendapatkan semuanya dari kebodohan saudara kembarnya. “Kau jahat, Sean,” bisik Liana, dengan nada genit dan provokatif. “Setidaknya ... berbaiklah sedikit padanya. Dia itu saudara kembarku. Aku rela berbagi suami dengannya,” usul Liana, sengaja menguji sedalam apa cinta Sean padanya. Mendengar kata ‘berbagi’, rahang Sean mengeras. Ia menggeleng tegas, menarik Liana lebih dekat, menatapnya tajam. “Aku tidak mau berbagi,” tegasnya, suaranya kini dalam dan serak. “Aku hanya ingin kau yang memiliki tubuhku, cintaku, dan waktuku. Aku hanya ingin kau yang menjadi ibu dari anakku. Kau satu-satunya wanita yang pernah dan akan menyentuhku. Kalau bukan karena aku menginginkan anak, tak sudi aku menyentuhnya.” Senyum puas kini tidak bisa disembunyikan lagi dari wajah Liana. Ia telah memenangkan permainan ini. Dia telah mendapatkan cinta Sean, dan kesehatannya kembali di atas sisa-sisa pengorbanan Luna. “Aku mencintaimu, Sean,” bisik Liana, dan kali ini, kata-kata itu tulus keluar dari bibir pucatnya. Sean memejamkan mata, merasakan lega karena Liana menerima keputusannya. Lelaki itu melepaskan genggaman tangan Liana. Ia berdiri, memandang ke luar jendela, pikirannya sudah beralih pada perceraian yang sebentar lagi akan dia jalani, dan yang paling penting, bagaimana dia harus bisa meyakinkan Luna agar mau melakukan donor ginjal. “Aku harus pergi." katanya. "Dokter sebentar lagi akan datang untuk memantau kondisimu. Aku akan kembali sebelum malam. Istirahatlah, Sayang." Saat Sean melangkah keluar, ia tak menyadari bahwa pintu kamar VVIP itu tidak tertutup sempurna. Frans membeku di tempat, saat mendengar rencana jahat yang akan Sean lakukan pada Luna. Tadinya, dia hanya berniat melihat bagaimana mesranya Sean dan Liana, Namun, bisikan Liana dan tawa kejam Sean merambat keluar dari celah pintu yang tidak tertutup sempurna itu membuatnya menghentikan langkahnya. Tangannya mengepal hingga buku-buku jarinya memutih. Dadanya bergejolak menahan amarah yang telah berkobar di dadanya. "Bagaimana bisa ada seorang suami yang begitu kejam pada istrinya? Sean tidak hanya memanfaatkan Luna. Pria itu berniat membunuhnya perlahan." Frans menatap tubuh ringkih Luna yang kini duduk di kursi lobi. Ia pun melangkah pergi dengan segudang rencana yang sudah terukir di otaknya. Lelaki itu pun memasuki ruangan dokter yang saat ini menangani Liana. Kebetulan, dokter yang merawat Liana adalah sahabatnya. Lelaki bernama Nico itu tersenyum saat melihat Frans masuk ke ruangannya. "Halo, Frans. Angin apa yang membawamu kemari? Apa kamu ingin berkonsultasi?" Frans menaruh senjatanya diatas meja sang sahabat. "Kapan kau akan menjadwalkan operasi pencangkokan ginjal Liana?" tanyanya tanpa basa-basi. Lelaki berkacatamata itu tersenyum. Tak sedikitpun merasa takut meski Frans menaruh pistol di mejanya. "Mungkin seminggu lagi. Aku harus menunggu kondisi Luna membaik terlebih dahulu setelah donor darah tadi. Apalagi, dia sedang hamil. Meski suaminya berkeras mengatakan tidak apa-apa. Aku juga tidak boleh mengabaikan keselamatan orang lain demi menyelamatkan pasienku." Frans mengangguk. Ternyata sahabatnya tidak sekejam suami Luna yang b******k itu. "Baik, kabari aku jika kau akan melakukan transplantasi ginjal. Awas, kalau kau diam-diam melakukannya. Aku harus ada disini saat hal itu terjadi. Jika tidak ... peluru di pistol ini akan melubangi kepalamu!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD