“Mas tidak percaya sama aku?” tanyaku, setelah melihat Mas Dandi yang tak kunjung terbuka padaku. “Bukannya tidak percaya, Yang. Namun, aku hanya tidak ingin menyiksa batinmu lagi setelah mengetahui segalanya. Ini dosa-dosaku, aku tidak ingin menyiksamu,” ujarnya, lirih. “Baiklah kalau begitu. Aku tidak bisa memaksa. Sepertinya aku cukup mengatakan bahwa hasil korupsi Mas gunakan untuk bersenang-senang dengan wanita lain,” ucapku. Wajah Mas Dandi menegang, sekilas tampak ada rasa takut dari kilat di matanya. “Bukan itu maksudku, Yang,” sanggahnya. “Baiklah. Sebenarnya aku tidak ingin melibatkan Nola. Namun, apa boleh buat kalau begitu. Aku akan maju sebagai saksi utama, kemudian menceritakan semua yang kuketahui. Bisa jadi, Nola akan dijadikan saksi juga nantinya,” ucapku, setengah me

