Pukul 20.00 terdengar suara mobil memasuki pekarangan rumah. Pasti Mas Dandi pulang, batinku. Anak-anak masih asyik menikmati kue yang kubelikan sambil menonton TV. Sebelum membukakan pintu untuknya, aku masuk kedalam kamar dan menyemprotkan parfum di bagian belakang telingaku. Jilbab yang biasanya menutupi kepala kini telah kulepaskan sedari tadi. Kuputuskan, jika akan bepergian atau keluar dari rumah saja baru kupakai. Aku ingin menjadi sosok yang berbeda di hadapan Mas Dandi. Kugunakan dress berukuran sebatas lutut bergaris leher rendah tanpa lengan yang kubeli tadi siang. Kubukakan pintu untuknya, dengan senyum dibibirku. Meskipun pahit dan terasa begitu palsu, tetap kupaksakan. Ada yang harus kudapatkan darinya malam ini. Mas Dandi terkejut melihat penampilanku di depan pintu men

