Jasmine telah berpakaian rapi dan wangi setelah kumandikan. Kuajak dia duduk bersama neneknya di ruang tengah. Haydar yang masih lemas juga ikut duduk menemani sang nenek. Aku meninggalkan mereka bertiga di ruang keluarga untuk menyiapkan makan malam.
“Hanum, tolong ambilkan ibu air putih.” Suara ibu memanggil dari depan. Aku segera menghampirinya setelah menuangkan air putih di dalam mug besar untuk ibu.
“Ini, Bu.” Aku membalikkan badanku akan melanjutkan pekerjaanku lagi di dapur.
“Kamu kok selalu sibuk sendiri sih kalau ibu datang berkunjung, Hanum? Cobalah kalau ada tamu biasakan diajak ngobrol. Bukan di diamkan saja. Kalau Dandi ada di rumah baru kamu bisa sibuk sendiri. Lha ini Dandi tidak ada di rumah. Kamu kudunya menemani ibu.” Ibu berbicara dengan nada pelan namun menusuk ke dalam hatiku.
“Hanum mau mempersiapkan makanan untuk makan malam, Bu. Nanti kalau sudah selesai Hanum segera menemani ibu. Biarlah Haydar dan Jasmine menemani ibu dulu untuk sementara.”
“Kamu itu selalu saja ada alasannya untuk menjawab omongan ibu. Bukannya ibu yang sudah jauh-jauh datang diperlakukan dengan baik, diajak bicara, tapi kok malah di cuekin. Maumu itu apa sih?” ibu mulai berbicara dengan nada tinggi. Aku masih berusaha bersabar dengan tetap diam saja. Padahal sesak rasanya d**a ini.
“Bukan begitu, Bu. Justru Hanum mau memberikan yang terbaik untuk ibu. Makanya Hanum masak dulu, biar nanti ibu bisa segera makan terus istirahat. Karena pasti ibu sangat lelah dari perjalanan yang tidaklah dekat.” Jawabku masih menahan.
“Tuh, kan. Mulai lagi. Menjawab saja omongan orangtua. Siapa yang mengajarimu berlaku seperti itu? Bukankah ibu sudah sering mengingatkanmu, Hanum? Jadilah istri yang patuh, yang taat. Sama ibu saja kamu berani membantah, apalagi dengan Dandi.” Runtuhlah pertahananku kali ini. Mataku terasa panas, titik-titik air mata serasa ingin membobol keluar namun kucoba menahannya.
Haydar dan Jasmine kutarik, mau kubawa kekamar mereka. Aku hanya tidak ingin mereka mendengar suara keras yang di keluarkan oleh neneknya. Lagipula, aku ingin mereka tetap menghargai nenek mereka. Aku takut mereka akan menilai negatif terhadap neneknya bila melihat beliau memarahiku.
“Eh, diajak ngomong malah menyingkir. Mau di bawa kemana anak-anak itu. Hanum! Ibu masih belum selesai bicara!” Ibu masih dengan segala ocehannya saat Haydar dan Jasmine telah berhasil kugiring menuju kamar belakang.
“Abang, Adik. Disini dulu sebentar ya, Nak. Ibu sama nenek mau mengobrol dulu. Jangan keluar sampai ibu menyuruh kalian keluar dari sini ya.” Pesanku pada mereka berdua.
“Nenek kenapa kok marah-marah, Bu?” Haydar yang masih lemas bertanya padaku.
“Nenek tidak marah kok. Memang nada bicara nenek seperti itu. Tunggu disini, ya.” Ucapku lagi. Mereka berdua menganggukkan kepala. Akupun menutup pintu kamar itu meninggalkan mereka berdua bermain di dalamnya.
Air mataku menitik. Rasanya sesak nafasku menahan emosi yang kucoba kupendam. Aku akan mengajak ibu berbicara di ruang keluarga, yang ternyata ibu malah menyusulku di ruang makan, bersebelahan dengan kamar belakang tempat Haydar dan Jasmine berada.
“Lho, kan. Malah tambah kurang ajar, ibu datang anak-anak malah dikurung di dalam. Neneknya datang ini karena kangen sama cucu-cucunya malah tidak boleh di ajak kumpul. Kamu itu keterlaluan, Hanum. Kamu cuma menganggur dirumah saja berani kurang ajar sama ibu. Apalagi kalau kamu sudah bisa mencari uang sendiri? Sombong kamu, ya.”
“IBU, SAYA MOHON IBU DIAM!” aku berteriak kepada ibu mertuaku. Entah kekuatan dari mana yang membuatku begitu berani dengan beliau. Dadaku semakin sesak, airmata sudah tidak dapat kubendung lagi. Ibu yang mendapat teriakan dariku langsung terdiam.
“Tolong ibu mengerti sedikit saja. Apa yang saya lakukan tidak akan merugikan ibu ataupun Mas Dandi. Ibu mau saya kembali lagi seperti dulu? Salah saya itu dimana, Bu. Saya ingin melakukan yang terbaik buat suami, anak-anak dan keluarga saya. Tapi saya juga punya kapasitas, Bu. Saya bukan malaikat. Saya manusia biasa, yang pastinya tak luput dari khilaf. Tapi tolong, jangan dikte saya. Jangan pernah mencari kesalahan saya. Saya mohon kepada ibu. Kalau ibu tetap seperti ini, mohon maaf. Saya tidak akan membiarkan anak-anak saya bersama ibu walaupun hanya sebentar. Saya tidak mau pikiran mereka dikotori dengan cara ibu yang tidak masuk akal bagi saya.” Aku meluapkan kekesalan pada ibu mertuaku.
Ibu masih terdiam melihat aku begitu murkanya. Aku merasa menyesal dengan perbuatanku yang berani membentak dan melawan ibu mertuaku. Tapi, aku sudah tidak sanggup lagi. Beban yang kupikul hari ini sangatlah berat dan menyesakkan d**a.
Aku meninggalkan ibu di ruang makan. Dengan derai air mata aku berlari menuju kamarku. Kutumpahkan semua kekesalanku dengan menangis. Aku sungguh merasa seolah tidak berguna sebagai seorang menantu. Aku merasa lelah. Lelah segalanya.
****
Aku terbangun saat mendengar ketukan dipintu kamarku. Bukan ketukan, namun digedor kasar. Kepalaku terasa pusing. Setelah pertengkaran kecil dengan ibu mertua, aku menangis di kamar hingga tertidur. Kulihat jam dinding di atas pintu kamar, menunjukkan pukul 09 malam.
“Hanum, buka pintunya. Hanum! Cepat buka pintunya!” suara Mas Dandi terdengar. Aku segera turun dari tempat tidur dan membukakan pintu untuknya. Baru saja kubukan kuncinya, Mas Dandi telah menerobos masuk kedalam kamar.
“Kamu apa-apaan sih, Yang. Sudah jam berapa ini, Hah? Ibu jauh-jauh datang mengunjungi kita malah tidak diperlakukan dengan baik. Kamu tidak menyiapkan makan malan apa. Malah enak-enakan tidur. Anak ga diurus. Kamu memang istri yang ga beres!” mas Dandi berbicara tanpa henti. Aku hanya diam dengan kepala tertunduk. Kubiarkan dia meluapkan emosinya. Aku pasrah. Aku tidak berani menjawab perkataannya. Apalagi saat dia sedang marah begini.
“Kamu mau membunuh anak-anakmu ya. Sampai-sampai tidak memberi mereka makan?” semula aku tidak menghiraukan perkataannya. Namun saat dia berkata begitu membuat kepalaku sakit dan emosi.
“Mas, bilang apa? Membunuh? Bagian mana yang menunjukkan kalau aku hendak membunuh mereka. Mereka anak-anakku, darah dagingku. Aku yang paling tahu kondisi anak-anakku. Mas tidak punya hak bicara begitu. Memangnya selama ini mas sudah melakukan apa untuk mereka?” aku murka. Mas Dandi terkesiap melihat kemurkaanku. Aku seolah tidak mengenali diriku sendiri. Selama ini aku selalu sabar, mengerti dan mengalah. Tapi kali ini entah apa yang terjadi pada diriku.
“Aku sudah tidak sanggup lagi kamu perlakukan begini, Mas. Aku bukan babu! Kamu selama ini memperlakukan aku layaknya babu. Tanpa pamrih telah kulakukan semua kewajibanku sebagai istri, namun kamu tidak pernah menghargaiku. Sekarang kamu malah menuduhku yang tidak-tidak. Salahku dimana, Mas. Dimana? Tidak bisakah mas lebih manusiawi terhadapku? MAS MAU AKU MENJADI GILA???” aku berteriak lagi seolah kesurupan. Aku sudah tak tahan lagi. Air mata bahkan sudah tidak mampu mengalir lagi. Mungkin telah mengering, yang tak dapat kurasakan lagi. Mas Dandi yang terkejut dengan reaksiku membelalakkan matanya.
“Berani kamu membentak suamimu, Hah? Sudah pandai melawan rupanya kamu. Sudah merasa hebat? Kamu sudah berbuat salah bukannya meminta maaf malah berani-beraninya berkata kasar begitu. Kamu kutalak saat ini juga!” mas Dandi yang berang menjatuhkan talak padaku. Aku terdiam, tak tahu harus bagaimana. Aku terduduk di tempat tidur setelah Mas Dandi keluar dari kamar. Aku menangis lagi. Apakah semua menjadi kesalahanku? Apakah aku tak layak mendapatkan surga?
****