Pagi itu, sengaja kunantikan kehadiran Hanum di sekolah. Biasanya pukul tujuh kurang dia telah sampai di sekolah mengantarkan Haydar. Sengaja berdiri di depan gerbang sambil menyambut kedatangan anak muridku. Tak lama kemudian, sosok Hanum yang kutunggu-tunggu sejak tadi muncul dari kejauhan. Motor matic berwarna hitam berbelok menuju pintu gerbang sekolah. Kuhampiri dia begitu Haydar turun dari atas motor. Anak lelakinya itu menyalami dan mencium punggung tangannya dengan takzim, kemudian berjalan menuju kearahku. "Assalamualaikum, Pak Farid," sapa Haydar kepadaku sambil mengulurkan tangannya, menyalami dan mencium punggung tanganku. "Waalaikumsalam. Sudah sampe, alhamdulillah tidak terlambat. Anak pintar, ini." pujiku pada Haydar. Senyumnya mengembang lebar mendengar pujian dariku.

