Awan mendung, seperti cuaca mengerti suasana hati Niel. Mata sembab, hidung merah dengan tatapan datar membuat ia seperti zombie. Sudah lama ia menangis, disana sudah ada jasad sang adik dan kedua orang tua nya. Kakeknya Widyo menyuruh agar pemakaman di laksanakan bersama, dan Niel hanya bisa mengangguk pasrah. Nian masih koma, ia tidak mengurus dan tak tau menahu untuk orang sebrengsek dia. "Niel, giliran Ara yang akan dimakan kan. Kau ingin membantu?"tanya Zain sang nenek yang diangguki Niel. Disana sudah banyak orang yang mengerubungi jasad sang adik, dengan tangan gemetar Niel membantu mengangkat jasad sang adik hingga Keliang lahat. Ara ditidurkan menyamping tak lupa semua dibuka. Tangisan Niel semakin menjadi saat melihat wajah sang adik, ia segera menjauh. Ia tak mau menangisi

