Bab 5

1133 Words
Wajah Eliora menjadi pucat, tujuh tahun ia menyembunyikan diri, untuk menata hidupnya yang hancur. Namun kini, pria yang paling ingin dia lupakan duduk tepat disebelahnya. Disisi lain, Kael menatanya dengan senyum yang terlalu tenang untuk disebut ramah. “ Sayang..” bisiknya pelan terdengar seperti ancaman yang di bungkus rasa rindu. “ Akhirnya kita bertemu lagi “ Rasanya Eliora ingin berlari, atau berteriak, namun tubuhnya membeku. Ia tidak mungkin mengganggu khidmatnya ibadah bukan di tempat ini, bukan di hadapan Tuhan. Suara nyanyian jemaat mulai memenuhi ruangan. Namun bagi Eliora, setiap nada ia seperti terjatuh dalam ruang hampa. Ia bisa merasakan tatapan Kael dari sisi kirinya, mata biru itu terasa tajam. “ Kenapa kau diam saja, Liora ?” Bisiknya pelan “ tujuh tahun, apakah kau tidak rindu atau menjelaskan apapun?” Eliora menggenggam alkitabnya lebih erat, ia menunduk Eliora menutup matanya, gadis itu menahan air matanya agar tidak jatuh, ia berdoa dalam hatinya semoga Tuhan melindunginya sekali lagi dari pria yang ia cintai, tapi kini begitu ia takuti Kael yang melihat itu terkekeh pelan. “Kenapa, sayang?” suaranya rendah, nyaris. Ia melingkarkan tangannya ke pinggang Eliora, menariknya sedikit lebih dekat. “Kenapa tidak menjawabku?” Tubuh Eliora lemas, hampir terjatuh, tapi Kael menahannya dengan satu tangan. “Ibadah belum selesai, sayang,” ucapnya lembut namun tajam. Kemudian ia menatap ke depan, ikut bernyanyi mengikuti jemaat seolah tak terjadi apa-apa. Sementara Eliora hanya bisa diam. Air matanya jatuh tanpa suara, membasahi halaman Alkitab yang terbuka di pangkuannya. Sementara itu, di tempat lain, Catherine baru saja tiba di mansion Kael di Charlottenburg. Seperti biasa, setiap Minggu ia datang untuk menghabiskan waktu bersama pria itu. Mobil Catherine meluncur masuk ke halaman luas mansion. Mobil merah itu berhenti tepat di depan pintu besar yang berukiran mahoni. Catherine keluar dari mobilnya, ia melangkah dengan gaya centil masuk ke dalam. Menggunakan dress satin berwarna merah mudah warna kesukaannya, warna yang selalu membuat Kael menatapnya cukup lama. Namun saat memasuki ruang tengah, suasananya tidak seperti biasa. Biasanya, pria itu sudah duduk di sofa, segelas wine di tangan, televisi menyala di depan. Tapi kali ini, rumah itu sunyi. Hanya terdengar langkah pelayan yang lewat sesekali. “Helga! Helga!” panggil Catherine setengah kesal. Seorang maid paruh baya bergegas menghampiri sambil sedikit menunduk. “Iya, Nona.” “Kemana Kael?” tanya Catherine langsung, nadanya menuntut. “Maaf, Nona,” jawab Helga hati-hati, “pagi-pagi sekali Tuan Kael sudah pergi. Tidak bilang akan ke mana.” Catherine mengangkat dagunya sedikit, menyembunyikan rasa tidak senangnya di balik senyum tipis “Baiklah. Kamu boleh pergi,” ujarnya angkuh. Helga menunduk hormat, lalu berbalik dan melangkah pergi, meninggalkan Catherine yang berdiri sendiri di tengah ruang megah yang tiba-tiba merasa dingin. Wanita itu menghela napas pelan, menatap sekitar. “Pergi pagi-pagi di hari Minggu?” gumamnya, matanya menyipit penuh curiga. “Menarik sekali, Kael…” Ia berjalan menuju sofa, jemarinya menyusuri permukaan meja kaca dan berhenti ketika melihat segelas wine yang masih meninggalkan bekas bibir pria itu di tepi gelas. Senyum tipis menghiasi wajahnya. “Kau tak akan jauh dariku, sayang.” Tak lama suara mesin mobil terdengar dari luar. dengan cepat Catherine menegakkan punggungnya, jantungnya berdegup sedikit lebih cepat “ itu pasti Kael.” Ujarnya setengah puas dan lega. Ia merapikan dress-nya, mengatur rambut pirangnya dan membubuhkan bibirnya dengan lipstik berwarna merah. Namun saat pintu terbuka, bukan Kael yang muncul. Melainkan Adrian asisten pribadi Kael. Raut muka Catherine langsung berubah. “Adrian?” suaranya terdengar kecewa, “ dimana Kael?.” Ia mencoba melihat ke belakang Adrian. Adrian sedikit menunduk sopan “ Tuan Kael, ada urusan pekerjaan nona. “ “ Urusan pekerjaan? Di hari Minggu? Tanyanya curiga “ tidak biasanya.” Adrian berusaha tenang “ Tuan Kael berpesan, agar anda tidak perlu menunggunya hari ini. Sekilas mata Catherine menatap tajam, tapi ia tersenyum kecil menyembunyikan kemarahannya. “ Oh begitu ya, baiklah.” katanya pelan, melangkah mendekat hingga menyisakan beberapa jarak dari Adrian. “Kalau begitu, tolong sampaikan kepada Tuan Kael, aku tidak suka menunggu.” ia menutupi kemarahannya dengan senyum manisnya Adrian tidak menjawab, pria itu menunduk sopan lalu berbalik melangkah pergi meninggalkan mansion. Begitu pintu tertutup, senyum Catherine menghilang. Tangannya meraih gelas wine punya Kael di meja, menjenguk sisa cairan merah tua itu perlahan, matanya kosong menatap ke arah pintu besar itu. “Urusan pekerjaan, di hari Minggu?” sebuah senyum tipis kembali menghiasi wajahnya “ kita lihat Kael urusan pekerjaan yang bagaimana, yang membuatmu melupakan aku, Kael.” Sementara itu, di luar mansion, Adrian sudah kembali ke dalam mobil hitam yang menunggunya di halaman. Ia menutup pintu dengan tenang, lalu menoleh sedikit ke arah belakang. “Sudah selesai, Tuan,” ucapnya datar. “Namun… sepertinya kita harus lebih berhati-hati.” Kael yang duduk di kursi belakang mengangkat alis. “Kenapa, Adrian?” tanyanya santai, menatap keluar jendela. “Sepertinya Nona Catherine mulai menaruh curiga,” jawab Adrian hati-hati, matanya sesekali melirik ke kaca spion. Kael terdiam sejenak, lalu senyum yang sulit ditebak, “Baiklah,” katanya pelan. “Terus kumpulkan bukti perselingkuhannya, Adrian.” Adrian mengangguk singkat. “Baik, Tuan.” Mobil hitam itu pergi meninggalkan halaman mansion, dari kaca jendela, Catherine sekilas melihat bayangan mobil hitam itu menghilang ditikungan. Senyum di wajahnya mengeras “Sebenarnya apa yang sedang kamu lakukan, kael ? Bisiknya. Suasana di dalam mobil kembali sunyi. Hanya terdengar deru mesin dan napas tertahan seseorang yang kini di dalam pelukan Kael. Eliora duduk kaku disamping Kael, bahunya sedikit bergetar, tapi Kael tidak melepaskannya. Jari-jari pria itu menyusuri helaian rambut Eliora perlahan. “Tujuh tahun kamu menghilang, meninggalkanku apa kamu pikir aku akan melepaskanmu?” Tanyanya pelan namun tajam. Eliora menunduk, matanya kosong menatap jarinya yang saling menggenggam di pangkuannya. “Kael, lepaskanaku kita sudah berpisah dan sebentar lagi kamu akan menikah”. Suaranya lirih Kael tertawa kecil “ kau pikir aku setuju dengan keputusanmu?.” ia mendekatkan wajahnya “ kamu harusnya tau Liora, aku tidak pernah melepaskan milikku.” Ia mencium pipi Eliora. Eliora memejamkan matanya, tubuhnya menegang seketika. Napasnya tertahan di tenggorokan, jari-jarinya mencengkram ujung dress-nya. “Kael.. apa yang kamu lakukan..” bisiknya pelan. Kael tidak menjawab, matanya menelusuri wajah Eliora antara rindu dan benci. “ Aku kehilangan segalanya tujuh tahun yang lalu.” Ucapnya dengan suara terdengar berat namun tenang “ Dan kamu.. yang benar-benar tidak pergi dari pikiranku.” Eliora membuka matanya, terlihat genangan air di matanya. “Kael.. tolong hentikan ini.” Isaknya “ kita sudah berakhir.” Tangisnya pecah Kael menatapnya lama lalu tersenyum tipis “ Liora, dengarkan aku.” Ucapnya pelan “ Aku tidak pernah menyetujui keputusanmu.” Katanya menahan amarah Eliora tidak menjawab Kael, wanita itu menangis di dalam hatinya dia mengucapkan kalimat yang penuh harapan Tuhan… tolong selamatkan aku sekali lagi dari pria ini Di luar, langit mulai mendung. Eliora menatap keluar jendela, tak tahu apakah doanya didengar atau justru terlambat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD