Akya mematut dirinya di depan cermin, matanya sembab, rambutnya kusut yang lebih tepat dikatakan semerawut. Penampilannya acak-acakan. Jauh dari kata rapi saat awal berbahagia akan bertemu Asyam. Akya memaksakan kedua ujung bibirnya untuk naik ke atas. Akya tersenyum, Namun bukan senyum kebahagiaan seperti sore tadi melainkan senyum kepedihan. Apa Sang penulis takdir sedang memberikan Akya hukuman? Hukuman atas keegoisan Akya dahulu? Ya. Akya egois. Dulu, Akya yang selalu berusaha membuat cara dan langkah apapun agar dirinya dan Asyam Pak jadi dijodohkan. Tapi kini, saat Harapan Akya sudah berubah sang penulis takdir se akan mengabulkan doa Akya sebelumnya. Doa yang Jika boleh Akya katakan Akya menyesal pernah mengucapkannya "Dek?" Akya menatap kakaknya dari cermin meja rias nya masi

