Chapter 7

632 Words
Anna duduk sambil sesekali mengaduk-aduk cappucinonya. Matanya bergerilya mencari seseorang yang sudah sedari tadi ia tunggu. "Kau sudah lama menunggu?" Tanya seseorang yg membuat Anna menatap kearahnya. "Tidak terlalu lama. Silahkan duduk," ucap Anna. Orang itupun langsung mengambil posisi duduk dihadapannya. "Aku masih tak mengerti denganmu. Apa maksudmu sebenarnya? Dan kenapa sekarang kau malah mengajakku untuk bicara dicafe ini," tanya orang itu. "Bukankah kau merasa sakit hati dengan Daniel Farez, terlebih karena kejadian kemarin, Gerald?" Tanya Anna. Ya! Orang yg berada dihadapan Anna ini adalah Gerald. "Menurutmu? Kekasihmu itu benar-benar mempermalukanku," balas Gerald geram saat mengingat kejadian kemarin. Anna tersenyum melihat kemarahan Gerald. "Oleh karna itu aku mengajakmu kesini. Apa kau ingin bekerja sama denganku untuk menghancurkannya?" Tanya Anna membuat dahi Gerald berkerut. "Aku makin tak paham denganmu. Kenapa kau malah ingin menghancurkan kekasihmu sendiri?" Tanya Gerald. "Dia bukan kekasihku. Malam itu dia hanya memintaku untuk pura-pura menjadi kekasihnya. Kau tak perlu tau apa alasanku ingin menghancurkannya. Yang penting dengan adanya aku yang notabennya adalah sekretarisnya pasti memudahkan kau untuk menghancurkannya," jelas Anna. Senyum sinis penuh kemanangan mengembang dari sudut bibir Gerald. Wanita ini akan benar-benar mempermudahnya untuk menghancurkan Daniel Farez. "Baiklah. Aku setuju bekerja sama denganmu," ucap Gerald. "Bagus. Tapi jangan sampai ada yang tau tentang ini. Bersikaplah seolah-olah kita tak pernah kenal," ucap Anna yang dibalas anggukan oleh Gerald. *** Setelah bertemu Gerald, Anna langsung bergegas kembali menuju kantornya.  "Kau sudah selesai makan siang Anna?" Tanya siska teman kantor Anna. "Sudah siska. Bagaimana denganmu?" Tanya Anna pula. "Ya, akupun begitu..oh iya kau tau, perusahaan kita akan mendapat proyek besar. Oleh karna itu sepertinya tuan Farez hari ini sangat sibuk," ucap Siska yang membuat Anna mengerinyitkan dahi. "Proyek baru? Benarkah? Kenapa aku tidak tahu?" Tanya Anna heran. "Mungkin sebentar lagi kau akan tau. Kau kan sekretasinya," balas Siksa. "Wow, sepertinya aku diberi peluang emas untuk menghancurkanmu secara perlahan Tuan Farez." batin Anna. Tiba-tiba ada seseorang menghampiri mereka. "Anna kau dipanggil tuan Farez keruangannya," ucap orang itu. "Nah apa kubilang. Dia akan membicarakan ini padamu," sahut Siska. "Baiklah, aku kesana dulu," ucap Anna lalu meninggalkan mereka. Anna langsung bergegas keruangan atasannya. Dengan hati-hati Anna mengetuk pintu besar itu. "Masuk," terdengar sahutan dari dalam yang membuat Anna membuka knop pintunya. "Anda memanggil saya Tuan?" Tanya Anna. "Ya. Silahkan duduk." Anna kemudian mengambil posisi duduk di depan Daniel. "Sekarang aku sedang menangani proyek besar. Untungnya triliunan rupiah. Aku harap kau bisa membantuku dengan baik untuk mensukseskan proyek ini. Dan jangan sampai bocor ke kolega-kolega bisnis ku yang lain," jelas Daniel. "Baik Tuan," balas Anna pula. "Ini berkas-berkasnya. Kau pelajari kemudian buat laporan peningkatannya. Kutunggu besok sudah ada di mejaku karena itu akan kita bawa saat meeting perebutan tender nanti," ucap Daniel sambil memberikan setumpukan berkas. "Kau yakin ingin memberikan tugas ini padaku Tuan? Kau tau kalau aku belum lama menjadi sekretaris. Tapi aku rasa pekerjaan ini belum pantas untukku. Aku hanya tidak ingin merusak proyekmu," ucap Anna. Daniel tampak memikirkan ucapan Anna sejenak. "Baiklah, minta tolong pada Randy untuk mengerjakannya," ucap Daniel menunjuk salah satu karyawan terbaiknya. "Baiklah tuan. Apa ada lagi?" Tanya Daniel. "Ada.” “Apa Tuan?” “Kancing kemejamu dengan benar. Aku sedang banyak kerjaan, meskipun kau menggiurkan, aku tak sempat meladenimu.” Seketika pipi Anna rasanya panas. Ia tertunduk malu. Ah benar saja, kancing kemejanya terlalu banyak terbuka hingga buah dadanya terlihat ingin menyembul keluar dari balik kemeja biru tua yang sempit itu. "Permisi tuan." Dengan cepat Anna langsung keluar dari ruangan Daniel. Daniel tersenyum sembari menggigit bibir bawahnya. Ah kenapa semakin hari sekretarisnya itu membuatnya semakin bingung. Ah pasti ini hanya hasrat lelakinya saja yang sudah cukup lama tak tersentuh. Apalagi belakangan ini ia terlalu sibuk bekerja sampai tak sempat bermain-main dengan w***********g manapun. Anna pun keluar dari ruangan Daniel. "Ini waktunya Tuan Farez," batin Anna puas.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD