"Ayolah Daniel, kau harus datang. Apa kau tidak ingin memberi pelajaran pada mantanmu itu?" Ucap seseorang. Daniel hanya diam sambil fokus menatap layar laptopnya.
"Hei Tuan Farez, aku bicara padamu! Tidakkah kau muak dengan pekerjaanmu? Dikantor kau bekerja, bahkan di rumahpun kau bekerja. Rumah kau ini terlalu luas jika kau hanya menggunakan satu ruangan yaitu ruang kerjamu ini," ucap orang itu yg sepertinya sudah kelihatan kesal.
"Revan, bisakah kau diam?" Tanya Daniel tajam namun sama sekali tak melirik orang yang dipanggilnya Revan itu.
"Kalau kau masih menganggap aku sahabatmu, tutup laptopmu sekarang!" Perintah Revan itu membuat Daniel mendengus sebal. Dengan terpaksa Daniel menutup laptopnya.
"Aku melakukan ini bukan karena aku takut padamu, tapi karena aku masih sangat membutuhkan kau sebagai sahabat dan orang kepercayaanku satu-satunya," balas Daniel yang kini sudah mengalihkan perhatiannya pada Revan.
"Ya terserah kau saja Mr.Farez," balas Revan sambil memutar bola matanya malas.
"Lalu bagaimana? Kau benar-benar harus datang ke acara pertunangan mantanmu dengan seorang pengusaha payah itu," ucap Revan.
"Kenapa jadi kau yang sangat bersemangat? Lagi pula aku tak pernah memasukkannya kedalam daftar mantanku. Dia hanya salah satu dari deretan w***********g yg sering mengejar-ngejarku," balas Daniel santai sambil memutar-mutar pulpen dikelima jarinya.
"Ya..ya.. aku tau itu. Tapi aku rasa kalau kau tau hal ini kau akan berubah fikiran," ucap Revan yang berhasil membuat tatapan Daniel yang tadinya santai menjadi tajam.
"Apa?"
"Renata, mantanmu itu datang padaku untuk mengundangmu diacara pertunangannya dengan Gerald, aku yakin kau kenal dia. Seorang CEO dari perusahaan yang tidak ada apa-apanya. Renata bilang dia hanya mengundangmu, bukan memaksamu untuk datang karna dia fikir kau tak akan kuat melihat wanitamu bersama orang lain," kata-kata Revan itu berhasil membuat rahang Daniel mengeras.
Daniel belum lama ini memang pernah menjalin hubungan dengan Renata, seorang model profesional, namun hubungan mereka menjadi retak setelah kehadiran Gerald, salah satu rekan kerja Daniel, Gerald saat itu pernah memenangkan tander bernilai milyaran rupiah, itupun ia dapat karna Daniel yang tidak dapat hadir karena ada suatu urusan penting dengan keluarganya. Hal itu pula yg membuat Renata beralih pada Gerald dan mulai menjauh dari Daniel. Sebenarnya Daniel tidak terlalu mempermasalahkan hal itu. Ia bahkan dengan sangat mudah bisa mendapatkan puluhan gadis seperti bahkan jauh lebih baik dari Renata. Namun saat harga dirinya diinjak, ia tentu tak akan diam begitu saja.
"Ternyata lelaki itu besar kepala hanya gara-gara itu," ucap Daniel sambil tersenyum sinis.
"Baiklah aku akan dating," ucap Daniel lagi.
"Good! Tapi kau harus datang dengan seseorang yang dapat membuat Renata maupun Gerald sadar bahwa selama ini mereka sama sekali tak bisa membuatmu hancur," ucap Revan.
"Maksudmu?" Tanya Daniel bingung.
"Kau harus datang dengan seorang wanita yang pastinya jauh lebih cantik dari Renata," balas Revan yang membuat Daniel mengerinyitkan dahi.
"Aku yakin kau bisa mendapatkannya Bos," ucap Revan lagi sembari tersenyum miring.
***
"Anna, kau dipanggil ke ruangan Tuan Daniel," ucap seorang staff saat berpapasan dengan Anna.
"Mau apa lagi orang itu. Bukankah ini jam makan siang. Kenapa dia malah memanggilku," gerutu Anna dalam hati.
"Baiklah, aku akan kesana."
Anna segera berjalan menuju ruangan bosnya itu. Ia menarik nafas dalam-dalam lalu mengetuk pintunya.
"Masuk," suara berat itu membuat Anna memberanikan diri membuka knop pintunya.
"Silahkan duduk," ucap Daniel namun tak menatap Anna melainkan menatap layar laptopnya.
"Ada apa tuan memanggil saya?" Tanya Anna.
Daniel kini beralih menatap Anna. Tatapan matanya yg seperti elang dengan dilengkapi bulu matanya yang lentik malah membuat Anna semakin tertantang menatapnya.
"Malam ini kau ada acara Libra?" Tanya Daniel.
Libra? Apaan-apaan laki-laki ini memanggilnya dengan sebutan itu. Anna kembali menggerutu dalam hati.
"Tidak ada," balas Anna.
"Malam ini aku tunggu kau di rumahku," ucap Daniel. Itu lebih tepatnya sebuah perintah bukan sebuah permohonan atau ajakan.
"Untuk apa?" Tanya Anna penasaran.
"Nanti kau juga akan tau. Aku tunggu kau jam 7 malam dan jangan sampai telat, ini alamat ku," ucap Daniel lalu memberi secarik kertas bertuliskan alamat rumahnya.
"Baik Tuan," balas Anna kemudian keluar dari ruangan Daniel.
"Untuk apa bos besar itu menyuruhku kerumahnya? Kau makin susah ditebak Tuan Farez dan aku makin suka bermain-main dengan rasa penasaran ini," ucap Anna sinis kemudian berlalu menuju ruangannya.