Bibir Arthur yang menyentuhnya membuat Esme merasakan kehangatan yang dia damba. Hanya saja Arthur tetaplah Arthur, dia bukan Jhon dan mereka berdua adalah dua orang yang berbeda. Bibir yang kini dia kecup terasa seperti wine, tidak terlalu mengenakan di awal tetapi semakin dalam malah semakin memabukan. Bila ciuman dari Jhon selalu terasa seperti api yang berkobar membakar dirinya dalam sebuah letupan gairah membara maka ciuman milik Arthur ini jauh lebih seperti sebuah air danau yang dingin dan tidak beriak, memberikan sebuah ketenangan yang memang sedang Esme butuhkan tetapi sejujurnya Esme membutuhkan lebih dari sekadar penenang untuk sekarang. Sebab ketenangan yang Arthur berikan malah membuat dirinya mati rasa. Memang benar, sejenak hatinya jauh terasa lebih lega. Semua hal yang me

