5 - Anthony PoV - 1

1523 Words
Aku tidak tahu apa yang terjadi denganku, namun saat bertemu dengan Annisa hatiku berdegup sangat cepat dan aku yakin dia adalah orangnya. Seorang perempuan yang dapat mengunggah hatiku yang telah lama mati karena kehilangan seorang kekasih. Tapi mendapatkannya tidaklah mudah, dia adalah seorang muslim yang taat. Sedangkan aku bisa di bilang seorang laki-laki yang tidak memiliki kepercayaan terhadap Tuhan. Aku yang terbiasa di hampiri dan di kejar wanita harus mencari cara untuk mendapatkan hatinya. Terlebih ternyata dia adalah seorang single parents dan memiliki 3 orang anak laki-laki. Dia juga memiliki trauma yang cukup dalam dengan mantan suaminya. Awalnya, aku ingin mendekati perlahan namun saat aku melihat seorang anak laki-laki menghampiri dan memeluknya erat dan dia menyambutnya dengan sangat baik, aku jadi ingin segera melindungi dan menjaganya. Setelah sampai di rumah, aku duduk di sofa dan menyandarkan kepalaku. Sentuhan lembut menyentuh pundak dan mengejutkanku. Aku menolehkan kepala ke arah kanan dan melihat wajah Mami yang teduh dan cantik. "Are you ok Anthony? Tumben pulang ke rumah, nggak ke apartemen? " Mami adalah seorang perempuan muslim keturunan Arab yang menikah dengan Papiku yang blasteran Inggris. Sebelumnya beliau juga tidak memiliki agama sama sepertiku. Namun 1 tahun terakhir ini Papi sudah memeluk Agama yang dengan diam-diam dia pelajari sendiri dan yakini yaitu agama Islam. "I'm ok." Aku tersenyum. "Kalau kamu butuh pendengar dan pemberi pendapat, insyaallah Mami bisa sayang." Mami duduk di samping dan mengelus lembut rambutku. Sama seperti saat aku kecil dulu. Aku tersenyum dan tiduran di pangkuan Mami. "Mam, aku bertemu seorang perempuan." "Lalu?" "Dia sangat cantik dan terlihat seperti seorang yang mandiri dan pekerja keras. Terlebih dia sangat menarik hatiku Mi." "Bagus dong Anthony. Setelah sekian lama larut dalam kesedihan karena kehilangan Clara, akhirnya kamu menemukan seorang perempuan yang bisa menarik hatimu." "Dia seorang muslim Mi, single parents dan memiliki 3 orang anak laki-laki." Mami membulatkan mata, "Apa Anthony?" Aku mengangguk, "Dia juga ternyata seorang sekretaris Direksi di kantor Properti yang aku pimpin Mi." Mami menarik nafas panjang, "Kamu bertemu dia di mana Anthony?" "Disalah satu restoran. Saat itu dia membantu Anthony membayar pesanan dan meminjamkan ponselnya karena dompet dan ponsel Anthony hilang." "Lho, kok bisa hilang?" "Entahlah." "Dari sekian banyak perempuan di dunia ini, kenapa kamu tertarik dengannya?" "Entahlah Mam, hatiku berdetak sangat cepat saat melihatnya. Dan aku yakin perasaan itu bukanlah hal yang biasa. Perasaan ini sangat berbeda saat aku bertemu dan berpisah dari Clara dulu. Jauh lebih kuat." Aku teringat dengan pertemuan dan perpisahanku dengan Clara dulu. "Terlebih saat aku melihatnya memeluk seorang anak laki-laki yang aku yakin dia adalah anaknya. Aku ingin melindungi dan menjaga mereka." Mami menatap lembut ke arahku dan tetap mengelus rambutku yang berwarna hitam kecoklatan. "Kalau begitu, coba perjuangkanlah nak. Kalau dia memang jodohmu, insyaallah Allah akan memberikan jalan dan hal baik untuk kalian." Aku tersenyum tipis, "Sepertinya bukan hal mudah Mam." "Kamu pasti bisa Anthony, semangatlah! Coba kamu cari cara yang mudah namun pasti untuk mendapatkan hatinya dan anak-anaknya." "Iya Mam." "Kalau kalian sudah semakin dekat, bawa dia dan anak-anaknya datang ke sini. Mami ingin lihat perempuan seperti apa yang bisa membuat anak Mami yang hatinya sempat beku seperti es ini jatuh hati." Mami tersenyum meledek. "Siap Mam. Btw aku masuk ke kamar duluan ya Mam, mau istirahat." Aku bangkit dari tidurku dan mencium pipi sebelah kanan Mami. "Silahkan bayi kecilku." Mami kembali tersenyum. Aku berjalan menuju kamar dan duduk di pinggir tempat tidurku. Terlintas kembali wajah Annisa yang teduh saat memeluk anaknya. Akupun membulatkan tekad untuk mendekatinya dengan lebih agresif. Dan aku akan mulai dengan mendekati anak-anaknya. Kebetulan besok adalah hari libur, aku mengirimkan chat kepada sekretarisku untuk membeli dan mengirimkan mainan, cemilan, dan makanan yang menarik dan sehat untuk anak-anak besok jam 11.00 WIB ke rumah menggunakan kartu debit perusahaan. Besok aku berencana untuk mengajak Annisa ke villa pribadiku di daerah puncak Jawa barat. Semoga saja mereka menerima ajakkanku tersebut. Akupun mengirimkan alamat rumah orang tuaku karena biasanya dia kirim pesananku ke apartemen. Setelah selesai mengirimkan chat, aku segera beres-beres dan istirahat. Namun tiba-tiba hatiku tergerak untuk membaca tentang Islam, agama yang saat ini di peluk Mami dan juga Papiku. *** Jam 11.00 WIB sekretarisku sudah mengirim pesananku. Aku meminta asisten rumah tangga untuk segera memasukkannya ke dalam mobil. "Anthony, kamu beli barang banyak sekali? Untuk siapa?" "Untuk Annisa dan anak-anaknya Mam." "Ya ampun, banyak sekali Anthony. Apa Annisa tidak keberatan dengan pemberian sebanyak itu?" "Aku belum tahu Mam. Aku kan belum pernah kasih ke dia." Aku nyengir. "Terus sekarang kamu mau ke sana?" "Iya. Rencananya aku mau ajak Annisa dan anak-anaknya untuk berlibur di puncak Mam." "Bagus kalau begitu. Tapi ajak orang ketiga ya Anthony, agar tidak timbul fitnah." "Iya Mam, aku berangkat dulu ya." "Lho, kamu nggak makan dulu?" "Nanti saja sama Annisa dan anak-anaknya Mam." "Siapa Annisa?" Papi menghampiri dan mencium kening Mami. "Adalah, nanti aku ceritakan. Ya sudah, kamu jalan saja sekarang. Kalau kesiangan bakal macet banget lho." "Siap Mam." Aku mencium pipi Mami dan salaman dengan Papi. Lalu berjalan menuju tempat parkir. Aku masuk ke dalam mobil, mengenakan seat belt, dan segera melajukannya. Cuaca di luar cukup panas. Tiba-tiba aku terfikirkan untuk membeli hadiah kecil untuk Annisa. Akupun memilihkan bross untuknya. Sebenarnya aku ingin memberikan kalung atau cincin untuknya, namun aku khawatir dia akan terbebani. Makanya aku memberikan hadiah kecil namun tetap cantik dan elegant untuk langkah awal. Untunglah perjalanan menuju rumah Annisa sangat lancar. Saat aku akan sampai ke rumah Annisa, sebuah mobil ke luar dari sana. Terlihat Annisa dan anak-anaknya akan masuk ke dalam rumah. Namun terhenti karena suara kedatangan mobilku. Akupun ke luar dari mobil sambil membawa beberapa paper bag. Annisa membulatkan mata dan terperangah ketika melihatku. Aku tersenyum memandangnya dan mulai memperkenalkan diri kepada anak-anak Annisa. Mereka adalah anak-anak yang tampan dan cerdas. Mereka menyambutku dengan sangat baik. Dan aku langsung jatuh hati kepada anak Annisa yang paling kecil, Fath namanya. Anak Annisa lainnya bernama Fatih dan Fatir. Bukannya mereka tidak menarik hatiku. Hanya saja, umur mereka sudah cukup besar jadi tidak terlalu menggemaskan seperti Fath. Aku menyerahkan beberapa paper bag tersebut kepada Annisa dan Annisa meminta anak-anaknya untuk membawa paper bag ke dalam. Aku juga meminta izin untuk memarkir mobilku di dalam karena khawatir mengganggu pengemudi lain. Selain itu juga ada beberapa paper bag yang belum aku keluarkan. Setelah mendapatkan izin dari Annisa, aku segera berjalan menuju mobil untuk parkir di dalam. Selesai parkir, aku membawa beberapa paper bag yang tersisa. Annisa masih menungguku di luar dan aku segera menyerahkan paper bag tersebut. "Kenapa bawa barang banyak sekali Pak?" Annisa mengerutkan kening. "Nggak banyak kok." Annisa menarik nafas panjang, "Ya sudah, silahkan masuk Pak." Saat masuk ke dalam, anak-anak Annisa sudah menungguku dan meminta izin untuk membuka paper bag yang aku bawa tadi. Aku mengangguk mengizinkan dan ikut bergabung bersama anak-anak untuk membuka paper bag tersebut. Lalu Annisa masuk ke dalam untuk membuatkan minum dan menyediakan cemilan. Setelah itu dia kembali bersama Mamanya. Akupun salaman kepada beliau dan mengajak mereka untuk ikut berlibur denganku ke puncak. Tidak aku sangka anak-anak Annisa sangat excited. Annisa cukup bingung menanggapi anak-anaknya. Untungnya Mama Annisa setuju, jadi Annisapun ikut setuju dengan ajakkanku. Aku juga sempat meminta Annisa bergabung bersamaku dan anak-anak untuk membuka paper bag yang tersisa sebelum bersiap-siap. Selesai membuka seluruh paper bag, Annisa izin masuk ke dalam untuk merapihkan barang bawaan dan menyiapkan perlengkapan yang perlu di bawa untuk ke puncak nanti. Beberapa lama kemudian, Annisa dan Mamanya kembali ke ruang tamu. Annisa memanggil anak-anaknya dan meminta izin padaku untuk bersiap. Aku mengangguk setuju. Aku menunggu di temani Mamanya dan kami mengobrol ringan tentang beberapa hal. Setelah selesai bersiap, Annisa dan anak-anaknya kembali ke ruang tamu. Beberapa saat kemudian, Mamanya izin berganti pakaian dan bersiap. "Bunda, aku mau ini." Fath menghampiri sambil menunjuk kue red velvet yang aku bawa. "Ok. Tapi secukupnya aja ya sayang, kan kita mau pergi. Kasihan Om Anthony kalau menunggu terlalu lama." Annisa tersenyum dan mengambil piring kertas yang telah disiapkan sebelumnya. "Bunda, aku mau juga." Ucap Fatih dan Fatir bersamaan dan berjalan menghampiri Annisa. "Ok, tapi setelah ini Abang Fatih, Fatir, dan Adik Fath rapihkan mainan ya." "Siap Bundaku." Mereka tersenyum senang dan bergantian mencium Annisa. Aku tersenyum melihat tingkah mereka, keluarga yang harmonis. Tidak seperti keluarga broken home pada umumnya. Fath melihat dan tersenyum padaku. "Om saja yang suapin Fath, mau?" "Mau.." Fath tersenyum riang dan berlari ke arahku. Annisa menyerahkan kue red velvet untuk Fath kepadaku. "Kue enak Bunda. Terima kasih banyak Om." Ucap Fatih selesai mengunyah suapan pertama. "Alhamdulillah." Ucapku dan Annisa bersamaan, kami pun saling berpandangan. Selesai makan kue, Mama Annisa datang menghampiri dan menginfokan kalau semua sudah siap. Akupun bangkit dari duduk sambil menggendong Fath. "Aku panasin mobil dulu ya." Aku berjalan menuju parkiran sambil menggendong Fath, lalu menaruhnya di tempat duduk di samping kemudi dan mulai memanaskan mobil. Beberapa saat kemudian, Mama Annisa, Fatih dan Fatir serta Annisa keluar dengan membawa barang bawaan mereka. Akupun keluar kembali tanpa menutup pintu karena ada Fath yang sedang duduk tenang di dalam mobil. "Semua sudah di bawa Annisa?" "Alhamdulillah sudah Pak." "Ya udah, aku masukkan bagasi ya." Aku menurunkan Fath dan mengelus pipinya lalu menyerahkannya pada Annisa. "Baik, kami bantu Pak."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD