Cerita ini dipersembahkan untuk pejuang keluarga--Bapak, Ibu, Kakak, Adik, Om, ataupun Tante. Sehat selalu dan terima kasih sudah membiarkan pundakmu menanggung beban keluarga.
❤
-----
"Mbak Fika! Aku ada ide. Pokoknya keren, deh!" teriak Santi. Dia yang duduk di teras langsung beranjak berlari menyambut, mengambil tas belanjaan.
"Fariz nanti sore ke sini, Mbak. Dia bantuin foto. Boleh, ya?"
Aku menoleh ke arahnya, terpancar semangat yang membuatku tersenyum senang. "Bolehlah, semakin banyak yang bantu, semakin semangat."
Sampai aku masuk ke ruang belakang, tak henti-hentinya dia bicara. Tentang Fariz--adiknya yang menghubungi dia, dan tercetus ide membuat logo kemasan sampai bagaimana pengambilan foto yang menarik.
Memang, Fariz dulu pernah ikut extrakurikuler fotografi dengan fasilitas kamera dari sekolah. Untuk hal ini, dia sudah biasa.
Jualan online, memang harus kuat di visual. Memanjakan mata dan menggelitik pelihat penasaran. Gambar mewakili produk dan bikin ngiler yang melihat. Pastinya, ini ditujukan supaya pengunjung lapak memencet kolom checkout.
Sederek Kitchen, mengusung makanan tradisional kekinian. Rencananya, setiap bulan akan diluncurkan produk baru. Ini supaya pembeli tidak bosan dan nantinya akan menunggu dn penasaran selalu di setiap bulannya.
Kali ini, aku mengulik kue semprit. Aku memadukan rasa kekinian, ada lima rasa: klasik, matcha, red velvet, oreo, dan hazelnut.
"Fariz nanti ke sini bawa stiker logo dan bahan packing. Katanya, dia akan pinjam kamera temannya," jelasnya kemudian menunjukkan layar ponselnya kepadaku. "Ini tampilan sampul sss, dan ini IG. Logonya ini yang lay-out Fariz, tadi dia kirim whatsapp."
"Bagus! Dia ternyata pinter, ya," ucapku kemudian berhenti, menyadari sesuatu. "Memang dia tidak kerja? Nanti dia dipecat, lo. Masih karyawan baru sudah korupsi waktu."
"Dia kerjakan ini pas istirahat, Mbak. Don't worry, lah."
"Iih, sok kemingris!" teriakku sambil mencolek pipinya dengan jariku yang belepotan tepung. Sontak dia teriak dan berakhir tertawa.
Melihat keriuhan ini, hatiku menjadi lega. Keluarga kami ternyata masih seperti dulu, saling bahu membahu dengan hati gembira. Semoga nantinya menggelitik hati Dek Arif dan Dek Hana untuk bergabung kembali.
Benar yang pernah aku baca. Saat kita fokus ke suatu titik, itu sama saja kita menariknya untuk mendekat. Sama seperti sekarang, aku fokus ke pekerjaan dan pikiran positif. Jadi semua yang mendukung akan dengan sendirinya datang mendekat.
Bayangkan saja, kalau aku fokus ke sakit hati, bukankan itu malah merugikan aku sendiri. Semakin dalam dan terpuruk dalam lubang kesedihan dan semua energi negatif, prasangka akan semakin membenamkan aku.
Untungnya, aku bisa melepaskan diri.
***
"Beneran Om Fariz nanti ke sini, Te? Asik!" teriak Lisa anakku dengan girang. Mereka baru pulang sekolah, terlihat mendapati Santi yang sibuk membantuku.
"Kamu nunggu Om Fariz atau mie ayam Pak Tombong," goda Fikri kakaknya, berakhir teriakan keduanya. Lisa berusaha mengejar Fikri, namun tidak berhasil.
Duh, mereka ini kalau berkumpul ada saja yang diributkan. Namun, kalau tidak ketemu saling menanyakan. Dasar anak-anak.
Loyang yang berisi kue semprit satu persatu keluar dari oven. Harus bersabar, karena aku menggunakan oven tangkring yang mempunyai kapasitas terbatas.
Tepat saat Fariz datang kue semprit sudah siap di lima wadah dengan rasa berbeda. Warnanye terlihat menggoda, putih untuk klasik, hijau-matcha, merah-red velvet, kehitaman-oreo, dan kecoklatan untuk hazelnut. Aku, Santi, dan anak-anak puas dengan hasil di depan kami ini.
"Mbak Fika, punya kardus besar?" tanya Fariz mulai bersiap menyiapkan acara foto-foto.
"Ada di gudang, coba cari," seruku kemudian mencari Fikri untuk membantunya. "Fikri! Dicari Om Fariz!"
Mereka begitu sibuk, Fikri membantu omnya membuat studio mini dari kardus. Sedangkan, Lisa membantu tantenya memasukkan ke kantong kertas dan memasang stiker yang dibawa Fariz tadi.
Aku tersenyum lega, diam-diam aku foto kesibukan ini dan aku kirim ke Mas Farhan. Pasti dia senang.
[Siapkan makan, kita makan bareng. Mas sebentar lagi pulang. Nanti Mas belikan ayam krispy. Mas dapat rejeki]
[Seperti biasa, ya. Gelar tikar]
Balasan w******p dari Mas Farhan.
Gegas, aku menyiapkan semuanya. Menggelar tikar di depan televisi. Kebiasaan kami dulu karena meja makan tidak cukup untuk orang banyak.
Tak seberapa lama, bunyi motor Mas Farhan terdengar, aku langsung menyambutnya seperti biasa.
"Anak-anak mana?" ucapnya sambil melongokkan kepala. Kemudian senyum terbit sempurna, mungkin rasa yang sama denganku, kangen berkumpul dengan banyak keluarga.
"Lihat, ayah bawa apa?" teriak Mas Farhan sambil memamerkan tas kresek yang dia jinjing. Mereka yang sibuk dengan aktifitas masing-masing mendongak bersamaan.
Mata Lisa membulat, dan langsung berlari menyongsong Mas Farhan. Makanan yang sempat absen dari meja makan kami, kembali hadir. Aku dan Lisa langsung menata makanan di tikar, Mas Farhan membersihkan badan, dan Fikri Fariz menyelesaikan studio yang tinggal sesikit lagi.
"Ayo makan dulu. Baru setelah ini kerja lagi!" panggil Mas Farhan, kemudian secepatnya mereka bersiap di atas tikar. Menyodorkan piring kosong untuk kuambilkan nasi.
"Kangen makan bareng," seru Fariz kemudian mengambil ponsel di sakunya. Mengarahkan ke kami untuk selfie.
"Senyum semua, ya!" serunya kemudian mengambil foto beberapa kali.
Kami makan dengan lahap, selain lapar. suasana kebersamaan ini yang menentukan. Bahkan, Mas Farhan dan Fariz sampai nambah tiga kali. Mungkin karena keasikan ngobrol, sampai tidak sadar sudah makan banyak.
Tring .... Tring .....
"Santi, telponmu bunyi itu, lo. Dari Ibuk mungkin?" teriak Mas Farhan mengingatkan.
"Ibuk sudah tahu, kok. Aku sampai malam di sini," jawab Santi. Dia meraih ponsel, memastikan siapa yang kirim pesan.
Sesaat dia diam, kemudian mengerutkan dahi seperti ada kesal di sana. Dengan tatapan aneh dia memandangku dan berkata, " Dari Mbak Hana. Dia di rumah, aku disuruh pulang sekarang."
"Dek Hana di rumah?" tanya Mas Farhan langsung.
"I-Iya, Mas," sahut Santi dengan gugup.
"Suruh ke sini saja, sekalian ajak Ibuk biar rame. Toh, kerjaanmu belum selesai, kan?" sela Fariz memberikan usul.
Santi yang masih menggenggam ponsel, terlihat ragu. Dia menatapku seakan meminta pertolongan. Pasti ada yang tidak beres, kasihan Santi.
"Ya, sudah kamu pulang saja. Sekarang kan tinggal foto saja. Biar Fariz dan anak-anak yang kerjakan," ucapku menengahinya.
Entah, apa yang terjadi. Lebih baik Santi pulang mengikuti permintaan Dek Hana. Semoga tidak terjadi apa-apa.
***
[Mbak Fika, tadi Mbak Hana tanya-tanya tentang Mbak Fika dan Mas Farhan. Masih marah atau tidak]
[Aku jawab, tidak.]
[Aku bilang juga Mbak Fika tahu status di FBnya. Aku marah ke dia, eh malah dia marah balik]
[Kesel, aku, Mbak]
[Kok ada orang seperti itu]
Pesan w******p dari Santi masuk bertubi-tubi, kelihatan sekali dia kesal. Aku menunggunya dia selesai mengirim pesan, baru aku tulis balasan.
[Sabar, San. Mungkin dia ada masalah pekerjaan. Nanti kalau sudah reda, pasti tidak begitu lagi. Didoakan saja, ya]
[Ih, Mbak Fika. Telpon dia saja, Mbak. Marahin supaya tidak nglunjak]
"Siapa, Dek?" Pertanyaan Mas Farhan membuatku kaget. Aku langsung menaruh ponsel di atas nakas.
"Santi, Mas. Nanya kerjaan," jawabku berbohong. Bingung saya mau jawab apa, karena kalau dikatakan yang sebenarnya, buntut penjelasannya panjang.
"Oh gitu. Oya, Dek Hana tadi kenapa?"
"Tidak tahu, ya," jawabku dengan menaikkan kedua bahuku. "Apa aku tanya ke Santi?"
"Eh, tidak usah. Biar dia istirahat."
Syukurlah, suamiki ini tidak bertanya lagi. Aku ke luar kamar, memastikan semua sudah terkunci. Kemudian menilik kamar Lisa yang penghuninya sudah berselimut rapat. Samar, masih terdengar obrolan di kamar Fikri, pasti dia masih terjaga bersama omnya.
"Ayo, tidur. Sudah malam. Besuk bangun pagi!" ucapku sambil mengetok pintu.
Tak selang berapa lama, lampu kamar padam, menunjukkan penghuni bersiap tidur.
"Mereka sudah tidur semua." Aku melapor ke suamiku yang menyambutku dengan senyuman.
"Mereka sudah besar, ya. Hana, Arif, Santi, dan Fariz. Sekarang, tanggung jawab kita hanya anak-anak," ucap Mas Farhan kemudian menarik tanganku.
Sambil menepuk punggung tanganku dia berkata lagi, "Dek Fika, terima kasih sudah membantuku menanggung bebanku selama ini. Kamu seorang istri yang luar biasa. Maafkan Mas, tidak membahagiakanmu seperti suami-suami lainnya."
"Bicara apa, sih, Mas. Hidup bersamamu saja, sudah cukup membuatku bahagia."
Terdengar helaan napas Mas Farhan yang berujung pertanyaan. "Kadang, aku mempertanyakan sikapmu yang tidak pernah mengeluh atau menuntutku. Aku kawatir kamu memendam sesuatu."
Seketika aku mengangkat dagu, menatap mata suamiku, menyelidik dan memastikan. Aku seperti tersindir.
Jangan-jangan, dia tahu hati ini sempat tertoreh beberapa hari yang lalu?
Duh!
BERSAMBUNG
***