--Happy Reading--
Di kediaman Zoya Mariana.
Dua minggu sudah bergulir dengan begitu cepat, hubungan Aleandra dan Erix terjalin dengan begitu manis. Zoya pun menginginkan pernikahan mereka segera dilaksanakan dalam waktu dekat ini. Karena, Zoya tidak mau menunggu lama lagi. Dia sangat tidak sabaran ingin menimang seorang cucu.
“Persiapan pernikahan kalian sudah hampir sembilan puluh sembilan persen selesai, sayang. Mami sudah tidak sabar, ingin melihat hari bahagia itu,” ujar Zoya dengan raut wajah berbinar.
“Mami sangat bersemangat sekali,” ucap Erix sambil merangkul pundak Aleandra yang sedang mengupas buah apel di tangannya.
Aleandra hanya tersenyum kecil, menyimak perkataan Zoya dan Erix mengenai pernikahannya minggu depan.
“Ya, dong! Semakin cepat itu semakin baik, bukan?”
“Heem… aku sih terserah Mami saja,” pasrah Erix sambil mengulum senyum. “Aku mau apelnya, sayang,” pinta Erix sambil membuka mulutnya di depan Aleandra. “Aaaa…”
Aleandra pun segera mengambil potongan apel yang baru saja selesai dikupas olehnya, lalu dia menjahili Erix dengan memaju mundurkan potongan apel itu sambil tertawa kecil, di depan mulut Erix, agar Erix merasa kesal. “Nih… eeh, belum,” ucap Aleandra menggoda Erix. Erix pun hanya menggelengkan kepalanya pelan.
“Aaaa…” Erix kembali membuka mulutnya saat potongan apel di tangan Aleandra mendekat ke mulutnya. Namun, lagi-lagi Aleandra menjauhkan potongan apel itu, ketika Erix hendak melahapnya.
Zoya yang melihat hal itu pun tertawa lepas, atas kejahilan calon menantunya terhadap putra semata wayangnya tersebut. Begitu juga Erix terkekeh dengan lelucon Aleandra yang membuat dirinya tidak jadi melahap potongan apel tersebut.
“Aish… sayang! Kamu nackal, ya!” ucap Erix menahan lengan Aleandra yang telah mempermainkan dirinya dengan jahil. “Ammmm…” Erix pun langsung melahap potongan apel yang ada di tangan Aleandra dengan rakus.
Aleandra pun langsung tertawa puas, setelah berhasil menjahili calon suaminya itu.
“So sweet, kalian ini. Mami menyukainya,” ucap Zoya, nampak senang.
“Kamu makan juga apelnya, sayang!” ujar Erix sambil menyodorkan potongan apel di depan mulut Aleandra. Namun, di saat Aleandra hendak memakannya, tiba-tiba saja perutnya terasa mual.
Aleandra pun menolak potongan apel tersebut dengan gelengan kepalanya, salah satu tangannya menutupi mulutnya dan satu tangannya lagi memegang perutnya yang terasa mual. “Nggak, Kak!” ucapnya, sambil berlari menuju whastafel untuk segera memuntahkan isi perutnya yang terasa mual.
Howek..!
Howek…!
Howek…!
Erix dan Zoya pun refleks panik dengan keadaan Aleandra, kemudian mengikuti Aleandra yang berlari menuju whastafel.
“Kamu kenapa, sayang?” tanya Erix sambil mengusap tengkuk Aleandra yang sedang membungkuk untuk mengeluarkan muntahan dari dalam mulutnya.
“Ya, sayang. Ada apa denganmu? Apakah kamu baik-baik saja?” tanya Zoya ikut khawatir.
Aleandra membersihkan mulutnya dengan air yang mengalir dari keran whastafelnya. Lalu, membasuh wajahnya yang nampak pucat dengan air tersebut.
Rasa mual yang dia rasakan, mulai mereda seiring ke luarnya muntahan dari dalam isi perutnya tersebut.
Aleandra menggelengkan kepalanya pelan, sambil melihat ke arah Zoya dan Erix bergantian.
Zoya dan Erix begitu khawatir dengan kondisi Aleandra yang tiba-tiba mual dan muntah.
“Sini, sayang!” ajak Zoya, menarik lengan Aleandra untuk segera memeriksanya dan memberikan obat pereda mual. Karena, Zoya dapat melihat wajah Aleandra yang sangat pucat.
Aleandra pun patuh saja mengikuti langkah Zoya, sambil mengangguk pelan. “Ya, Tante!”
Erix pun mengekori langkah mereka berdua dengan perasaan yang sedikit khawatir, saat melihat wajah sang kekasih yang tiba-tiba saja pucat setelah mengeluarkan cairan muntahan dari mulutnya.
Beberapa saat setelah memeriksa kondisi Aleandra, Zoya begitu terkejut dengan apa yang dia temukan. Kondisi Aleandra sedang berbadan dua, alias hamil. “Tidak mungkin… ini mustahil!” gumamnya.
Zoya belum sepenuhnya yakin dengan apa yang baru saja dia temukan. Dia pun mencoba untuk bertanya terlebih dahulu kepada calon menantunya, tentang masa menstruasinya.
“Kapan kamu terakhir Menstruasi, sayang?” tanya Zoya dengan wajah nampak serius dan tegang.
Aleandra pun mengingat-ingat terakhir kali dia datang bulan, saat berada di rumah paman Daniel. Betapa shocknya dia, jika bulan ini dia sudah telat datang bulan hampir tiga minggu. Refleks, kedua tangannya membekap mulutnya sendiri, tidak percaya sambil menggelengkan kepalanya pelan.
“Tidak mungkin… ini tidak mungkin terjadi,” gumam Aleandra lirih, sambil air matanya yang tiba-tiba menetes membayangkan dirinya yang tidak-tidak.
Aleandra mencoba meyakinkan dirinya sendiri, jika apa yang dia pikirkan adalah salah besar dan tidak mungkin terjadi.
“Apakah kamu pernah melakukan hubungan suami istri, sayang?” kejar Zoya, saat melihat ekspresi Aleandra yang teramat shock.
Deg!
Jantung Aleandra dan Erix pun begitu terkejut dengan pertanyaan Zoya yang tiba-tiba.
Erix yang sudah tahu tentang hal itu pun, mencoba membantu Aleandra. “Mih, apakah begitu penting masalah itu? Bagiku, apa pun kondisi Aleandra, aku akan menerimanya. Perawan atau pun tidak, aku tidak perduli.”
“Bukan begitu, sayang! Tapi, Mami melihat hasil pemeriksaan itu, jika Nak Alea sedang berbadan dua, alias hamil,” ungkap Zoya mencoba menjelaskan kondisi Aleandra yang sebenarnya.
DUAR!
JUEGER!
Bagai petir menyambar, Aleandra dan Erix pun begitu terkejut dengan pernyataan Zoya.
Zoya yang merupakan seorang Dokter, tidak mungkin asal berucap. Erix pun menatap lekat-lekat mata Aleandra dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Aleandra menggelengkan kepalanya pelan sambil meneteskan air matanya. Kejadian malam itu telah meninggalkan benih di rahimnya, dari pria yang teramat dia benci.
Bruk!
Aleandra ambruk dalam pelukkan Erix Angelo, dirinya pun tidak sadarkan diri.
“Aleandra!” pekik Erix meluapkan kesedihannya, atas apa yang baru saja dia dengar dari penjelasan Zoya, sambil mengangkat tubuh Aleandra yang begitu lemah.
“Baringkan tubuhnya di sini, sayang!” titah Zoya kepada sang putra, sambil menepuk kasur miliknya yang berukuran cukup besar.
Dengan patuh, Erix pun membaringkan tubuh Aleandra di atas kasur Zoya dengan perlahan-lahan.
Zoya pun segera memberikan obat untuk merangsang otak Aleandra agar segera sadar dari pingsannya. Sementara Erix, terus menggenggam jemari tangan Aleandra dengan begitu erat, sambil menatap nanar wajah kekasihnya yang terlihat sangat pucat dan tidak berdaya.
“Aku akan tetap menikahimu, sayang. Apapun kondisimu, aku tidak akan membiarkan kamu jatuh ke tangan pria brengseek itu!” gumam Erix sambil mengeraskan rahangnya geram, terhadap pria yang sudah menghamili gadis yang dia cintai.
Sejak pertemuannya dengan Shella di restoran itu, Aleandra pun menceritakan dengan sejujur-jujurnya tentang apa yang telah terjadi pada dirinya. Rasa marah, benci dan dendam telah merasuki hati Erix Angelo kepada pria yang bernama Almaher Zilquin tersebut.
Atas keterangan dari Shella, pria yang berwajah tampan itu bernama Almaher Zilquin dan Roy Benedict. Namun, Erix mengenal betul nama besar keluarga Zilquin. Nama keluarga yang berpengaruh dalam dunia bisnis dalam lingkup besar di kota Boston.
“Siapa pria brengseek yang kamu maksud, sayang? Apakah dia yang sudah menghamili Nak Alea, huem?” tanya Zoya yang baru saja mendengar gumaman Erix.
Glek!
Erix tercekat dan terperangah, sang mami mendengar apa yang dia ucapkan, walaupun sangat pelan.
--To be Continue--