Yoana tidak mau berlama-lama di tempat yang memberikan kenangan menakutkan untuknya itu apalagi mengalaminya lagi. Yoana pun segera melangkah setengah berlari meninggalkan area pertokoan terbakar tersebut dengan hati yang masih berdebar-debar. Begitu bertemu dengan keramaian jalan raya yang ramai kendaraan lalu lalang, hatinya baru merasa lega. Dia seolah mendapatkan ketenangan kembali. Tempat kerjanya tidak jauh lagi. . . Langkah pertama Yoana memasuki Rumah Makan Uni Dilla disambut sapa ramah rekan-rekan kerjanya yang kebanyakan laki-laki itu. Hanya dia dan Rere yang perempuan selain sang pemilik rumah makan sendiri. Mereka tersenyum tulus dan bertanya lembut mengenai kabarnya yang diberitakan sakit. Yoana membalas senyum mereka dengan senyum tulus yang sama dan menjawab kalau keada

