Langkah Yohan sudah tiba di muka rumah makan. Tidak berani masuk langsung, Yohan melongokkan kepala ke dalam rumah makan dari pintu dengan menyembunyikan tubuhnya di balik dinding luar. Rumah makan itu tidak begitu ramai meski tetap ada pengunjung di dalamnya. Tapi tidak melihat Yoana ada di sekitar jangkauan penglihatan matanya. Agung, salah satu yang bekerja di sana dan melihat Yohan, langsung mendekati remaja itu. “Cari Yoana, Yo?” Yohan mengangguk malu. “Iya, bang. Kak Yo ada bang?” “Ada dong. Dia di dapur. Mau aku panggilkan?” “Iya, bang kalau tidak merepotkan.” “Tidak kok. Santai saja.” Agung masuk ke dalam. Tak lama kemudian, Yoana muncul dengan sebuah bungkusan plastik di tangan. Meskipun belum bertanya keperluan Yohan datang ke sini, gadis imut itu sudah tahu kalau Yohan hen

