SILLY MARRIAGE

1461 Words
Rania Larasati adalah seorang siswi yang biasa biasa saja. Ia tak ingin mencari masalah, bukan golongan anak nakal yang sering keluar masuk ruang BK ataupun golongan anak famous yang di incar oleh banyak orang. Dia tipikal anak yang populer tanpa menyadari bahwa dirinya populer dan tidak peduli atas kepopulerannya tersebut. Dia hidup normal layaknya siswa lain. Tapi itu semua berubah setelah ia di jodohkan dengan guru yang mengajar di sekolahnya. Guru yang menikahi muridnya mungkin itu kasus yang bagi sebagian orang jarang mendapatkannya. Semua berawal dari- Rania dan keluarganya sedang makan malam. Mamanya masak sup kepala salmon kesukaannya. "Ya ampun bang yang selow napa kalo makan? Nanti nyangkut tuh tulang ikan baru tau rasa!" Ujar Rania. "Biarin, suka suka cogan dong!" "Dih, cogan dari mananya coba. Ngakunya cogan tapi makan aja kaya bebek!" "Rania, gak boleh ngomong gitu sama abang kamu." nasehat papa. "Ya maaf, pa." Mama yang baru ke meja makan sambil bawa air minum pun ikut nimbrung , "Adek suka ngatain bang Revan kaya bebek kalo makan. Kamu kaya kelinci kalo lagi makan" "Mana ada mama, ish" kesalnya. Terus abis itu semuanya makan dengan tenang. Sampe selesai mama sama Rania ke dapur buat cuci piring. Bang Revan sama papa ada di ruang tv. Kalo gak salah malam ini ada pertandingan bola, yang club bolanya di sukain bang Revan sama papa. "Dek, tolong bikinin kopi buat abang sama papa gih. Nanti mama bawa cemilan." Rania pun ngangguk terus siapin air panas sama 2 bungkus kopi buat abang dan papa. Abis itu Rania nyari sesuatu di kabinet dapur. "Ma, ada susu gak?" "Gak ada, mama gak ke super market kemaren. Besok aja deh." "Yah yaudah deh" Rania pun bawa nampan berisi 2 cangkir kopi panas. "Papa ini kopinya." sambil ngambil kopi buat di taruh di meja depan papanya dan buat abangnya juga. Papanya cuma diam saat dua cangkir kopi ada di depannya. Gini nih kalo lagi cemberut. Rania yang masih cemberut, langsung duduk di sebelah abangnya. Jatohnya Rania bukan duduk di sofa tapi ngegencet abangnya yang lagi serius nonton bola, "Eh adek ih! Suka gak tau diri!" Rania mengerucutkan bibirnya. "Emang kenapa sih?!" "Ya kalo badan kamu seringan kapas sih gak apa apa, badan seguwede gini nimpa aku yang subhanallah" "Najis ih abang!" "Brisik deh, papa jadi gak konsen nih." Rania pun langsung berdiri menuju kamarnya di atas. Revan cuma natap adeknya bingung, "Ma, Rania kenapa?" Mama yang baru dateng pun mengangkat bahunya, "Gak tau, mungkin dia pengin susu. Tapi mama belum beli. Ngambek kali" "Yaelah, kaya bocah." "Beliin sana di mini market depan. Kasian tuh, pasti sampe besok masih ngambek." ujar papa sambil nyemil krupuk udang. "Yaudah deh ma, pa, Revan mau ke mini market depan" ucap Revan sambil nyium tangan mama dan papa. "Hati-hati, Van." "Iya ma." Tak lama Reva udah pulang bawa plastik belanjaan yang isinya susu buat Rania, popcorn oishii buat temen nonton bola sama papa, juga selai kacang favoritnya buat tiap sarapan pake roti. "Rania udah tidur ma?" "Gak tau, coba liat aja di kamarnya." "Van." papanya menginterupsi. "Ya pa?" "Rania suruh turun ke sini sekalian. Papa sama mama mau ngomong sesuatu yang penting." "Oke!" Revan dengan kilat menuju lantai atas. Sampe di depan pintu kamar adeknya, "Ran? Udah tidur belum. Nih abang bawain susu nih." Ceklek! "Mana?!" "Selow bambank!" "Nih, tapi turun dulu, papa sama mama mau ngomong sesuatu yang sangaaaaaaaaaaat penting." "Owkey!" *** "Apa?! Rania nikah?! Kok Rania duluan sih pa. Kan ada bang Revan yang udah lumutan ini." tunjuknya ke abangnya yang udah rela beli susu buat dia itu. Bang Revan pura pura gak denger sama omongan adeknya, ia selow makan popcorn oishii yang dia beli tadi. "Ya kan, papa penginnya nikahin kamu bukan abang kamu" "Terus nikahnya sama siapa pa?" Ucapnya lesu. "Dia guru di sekolah kamu. Apa dia guru baru ya? Lupa papa. Pokoknya dia guru atau bakal jadi guru di SMA kamu." "Loh kok? Papa kaya gak yakin gitu." komentar Revan. Udah jadi netijen Si Revan. "Ma, masa Rania suruh nikah. Kan Rania baru mau 18 tahun depan" rengeknya ke mama. Semoga aja mama peka sama Rania. Ya mana mau dia nikah duluan. Bang Revan yang udah nunggu jodoh sampe berakar aja ga di suruh nikah. Rania kan ingin menikmati masa mudanya dulu, selesaiin sekolah terus kerja. Baru deh mikir nikah. Lah ini, malah di suruh nikah muda. Yang Rania denger dari gosipan ibu ibu tentangga sih nikah muda itu rentan banget sama perceraian. Kan Rania gak mau jadi janda muda. "Udah, terima aja. Lagian calonnya baik kok, dia ganteng, mapan lagi. Kalau dia hidup di jaman mama masih gadis ya, pasti mama udah ngincer dia." "Mama" papa kayanya cemburu nih, "Canda pa" mama terkekeh pelan. "Udah sana tidur. Besok sekolah" Rania mengangguk lemas lalu memeluk papa dan mamanya, "Selamat malam, papa, mama". "Malam. Jangan lupa cuci kaki sama cuci tangan abis itu doa sebelum tarik selimut" Rania mengangguk. Sumpah ini Rania kaya gak punya semangat hidup. "Malem lumut!" Teriak Rania yang udah melangkah ke tangga "Brisik ih!" *** "Rania, ayo bangun sayang. Kamu harus ke sekolah". Rania bangun dengan mata yang tertutup, saat mendengar suara pintu yang tertutup barulah mata itu terbuka. Sarapan pagi seperti biasa, duduk dan sarapan dengan roti bakar dan susu strawberry miliknya. Tin tin tin Terdengar bunyi klakson dari depan rumah. "Tuh calon kamu udah dateng. Ini hari pertama dia ngajar, papa suruh dia jemput kamu biar sekalian kalian berdua bareng berangkat ke sekolahnya." "Jadi yang kemarin itu beneran pa?" "Ya beneran lah masa papa bohong, papa udah janji sama keluarga dia untuk menjodohkan kalian saat kamu sudah 17 tahun." Ucap Papa Rania sambil meraih tangan puterinya untuk memberi pengertian. "Udah sarapannya? Samperin sana." "Iya ma." "Ma, pa, abang Rania berangkat dulu." ucap Rania sambil mencium tangan mama dan papanya Rania melangkah ke depan dengan langkah gontai. "Rania Larasati?" Rania mendongak begitu suara dingin dan berat masuk ke gendang telinganya, iris kelabunya bertemu pandang dengan iris sewarna hazel yang memukau. Sejenak, Rania terpaku dan terpesona. 'Ya tuhan, ganteng banget!' Rania membatin heboh. Matanya berbinar ketika sosok itu semakin mempersempit jarak antara mereka dan berdiri tepat di hadapannya. "Rania Larasati?" Laki-laki itu kembali mengulang. "Ah iya, ya, aku Rania Larasati." Ia menjawab gugup. Jujur saja, laki-laki di depannya ini memiliki pesona yang tidak bisa di bantah bahkan bisa menaklukan Rania Larasati hanya dalam sekali pandang. Jika begini, Rania akan kalah telak dan harus menerima perjodohan dari sang papa. 'Gak apa apa! Tidak ada yang salah dengan menikahi guru sendiri! Apalagi jika orang yang akan aku nikahi setampan dia.' Ia membatin sableng. Rania mengulurkan sebelah tangannya sambil tersenyum lebar, "Rania Larasati." Ia mencoba mengakrabkan diri dengan si laki-laki beriris hazel. "Aku tau." Jawab laki-laki itu cuek. Gilang Mahendra, si laki-laki beriris hazel tak menanggapi uluran tangan Rania, ia langsung berlalu menjauh. Rania tentu saja shock. Apa ia baru saja di abaikan? "T-tunggu! Hey!" Rania mengejar langkah cepat Gilang, kaki pendeknya susah sekali menyeimbangkan langkah dengan kaki panjang Gilang. "Kenapa kamu ninggalin aku sih?" Protes Rania. Namun Gilang sama sekali tak merespon, pandangannya lurus kedepan. Rania berdecak malas. Ia mengikuti langkah Gilang kemudian masuk ke dalam mobil. Perlahan lahan, mobil yang di kendarai oleh Gilang meninggalkan perkarangan rumah. Jalanan cukup sepi sakarang, karena masih cukup pagi untuk segera beraktivitas. Suasana masih hening dan Rania sangat tidak tahan. "Apa kamu tidak menyukaiku?" Rania bertanya to the point. Gilang meliriknya sekilas, "itu sudah jelas." Jawabnya singkat. "Kenapa? Apa karena perjodohan itu?" Rania menatap wajah Gilang dari samping, lagi lagi dirinya sangat mengagumi fitur wajah sempurna laki-laki itu. Hidung mancung, bibir merah dan kulit bersih dan halus. Kenapa bisa ada manusia seindah dia? Namun sifatnya membuat Rania ingin mengumpat. 'Manusia sempurna itu memang mustahil, kawan.' Batin Rania lelah. "Kau tau itu konyol." Lagi, Gilang menjawab singkat. "Apa karena kita berdua di jodohkan?" Gilang membisu, ia memilih sibuk pada setir kemudi di tangannya, ia enggan meladeni Rania sedikitpun. "Kau tau? Awalnya aku juga berpikir ini konyol. Ini zaman modern bukan zaman Siti Nurbaya. Masih aja ada perjodohan. Tapi tak apa aku berusaha menerimanya" ucap Rania "Apa itu artinya kamu menyukaiku?" Gilang tiba-tiba bertanya. "Eh? Apa? Ti-tidak kok!" Rania mengelak, ia memalingkan wajahnya ke luar jendela untuk menutupi wajahnya yang memerah. Setelah itu tak ada lagi percakapan diantara mereka. Di dalam mobil hanya ada keheningan. Gilang yang fokus dengan jalanan dan Rania dengan gamenya untuk mengalihkan hatinya, benar benar pasangan ini. Sebenarnya Gilang tidak benar benar fokus kepada jalan raya, dia sesekali melirik Rania yang tengah asik bermain game di ponsel canggihnya. "Berhenti di halte sebelum sekolah aja." "Kenapa di halte? kenapa gak langsung di sekolah aja?" "Aku gak mau kalau ada orang lain selain keluarga kita yang tau tentang ini. Rahasiain kalau kita di jodohin." Tak lama setelah itu, mobil Gilang berhenti di halte bus yang jaraknya lumayan jauh dari sekolah. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD