Pagi-pagi sekali di kediaman keluarga Surya, sudah ramai. Pasalnya, putri bungsu Tuan Surya yaitu Elsa Kanaya Putri baru saja tiba dari Luar Negeri.
Delia berada di balkon kamarnya tatkala dia melihat pemandangan di bawah sana nampak dipenuhi kebahagiaan dan tawa, terlebih dari ibu tirinya yang begitu senang putri kesayangannya telah pulang.
Sudah dua tahun sejak Elsa memutuskan melanjutkan kuliahnya di Australia. Dan adik tirinya itu kini kembali. Kembali ke rumah ini yang berarti dia harus siap mental untuk menghadapi segalanya.
Sedari dulu, hubungan mereka tidak terlalu akur, bisa dibilang sering bertengkarnya daripada kelihatan akrabnya. Dia tidak mengerti alasan Elsa yang senantiasa merasa cemburu atau iri dengan apa yang dirinya miliki. Padahal, bila dibandingkan, Elsa jauh lebih populer, lebih disayang dan lebih di atas segalanya bila menyangkut menjadi pusat perhatian.
Tidak seperti dirinya yang cenderung introvert dan hanya sedikit teman akrab. Tetapi, dia tidak paham sama sekali mengapa Elsa selalu saja mencari gara-gara terhadapnya.
Papa Surya lah yang lebih dulu menemukan keberadaan putri tercintanya itu nampak melamun di atas sana. Jadi, dia memanggil Delia dengan suara agak keras, "Kesayangan Papa, kenapa melamun saja di situ? Tidak turun menyambut adikmu?"
Mendengar teriakan itu, Elsa yang sempat berbincang hangat dengan sang mama lantas menolehkan kepalanya untuk melihat ke lantai dua. Senyum anggun muncul begitu dilihatnya sang kakak tercinta kini sedang menatapnya. Ia melambaikan tangannya, seolah memberitahu Delia kalau dia senang bertemu kembali dengan kakaknya itu.
"Bahkan senyumnya sangat menyebalkan," gumam Delia dalam hatinya, namun berbanding terbalik dengan perasaan tak bahagianya ia membalas balik lambaian tangan Elsa.
"Aku turun sekarang!" jawabnya menyahuti sang papa.
Para pembantu nampak sibuk menyiapkan sarapan. Sopir membawa koper-koper besar milik Elsa ke dalam kamarnya yang ada di lantai dua dan itu bersebelahan dengan kamar Delia.
Delia mengambil duduk di sebelah sang ayah, sedangkan sang mama dan adik tirinya duduk berhadapan di depannya.
"Kakak, bagaimana kabarmu?" Elsa bertanya dengan senyum cerahnya di sela mereka sedang sarapan.
"Aku baik, terima kasih sudah peduli," jawabnya acuh tak acuh.
"Sayang, kenapa jawabnya ogah-ogahan begitu?" Papa Surya menegur. Sikap sang putri yang demikian sangat di tentangnya.
"Maaf, Pa. Aku lagi datang bulan, jadi moodnya buruk." katanya beralasan lalu menatap Elsa, "Sorry, bukan maksudku berkata ketus begitu."
"Tidak apa-apa, Kak. Santai saja."
"Sudah, sudah, kita lanjut saja sarapannya." Mama Sarah menyela.
Keempatnya kemudian melanjutkan sarapan dengan tenang, sesekali obrolan berputar dan topiknya tidak jauh-jauh dari kehidupan Elsa selama di luar negeri.
Karena hari ini weekend, Delia libur bekerja dan dia sudah memutuskan ingin menghabiskan waktunya di kamar, streaming film ataupun baca novel.
"Kakak."
Delia berbalik, urung masuk kamar begitu suara Elsa memanggil.
"Ada apa?"
"Selamat atas pernikahanmu. Aku senang mendengarnya karena kau akhirnya menikah. Yah… walaupun tak kusangka mempelai prianya bukan Raffi."
"Apa maksudmu berkata begitu?"
Mungkin benar karena dia sedang datang bulan, dia jadi lebih sensitif. Kalau tidak, mengapa ucapan selamat dari Elsa terdengar seolah sedang mengejeknya?
Elsa berjalan mendekat, berdiri di depan Delia, "Aku tidak menyangka Raffi akan melepasmu begitu saja. Kupikir cintanya seriusan, tapi ternyata hanya sebatas itu saja."
"ELSA!"
"Aku benar kan? Oh, ataukah dia masih memendam perasaan sukanya terhadapmu dan belum mengutarakannya?" tebaknya asal-asalan disertai senyuman menjengkelkan.
"Kau tahu?" tanya Delia terkejut. Bahkan Elsa tahu kalau ternyata selama ini Raffi menyukainya lebih dari sekedar teman.
Elsa tersenyum remeh, "Satu-satunya orang yang bodoh dari dulu kan hanya kau. Masa, menebak begitu saja tidak bisa? Jelas-jelas Raffi memperlakukan kau berbeda. Bahkan orang buta pun dapat melihat cintanya padamu!"
Lihat, hanya saat mereka sedang berdua saja Elsa akan melepas topeng munafiknya dan menampakkan wajah aslinya yang dipenuhi dengki.
Sayangnya, Delia tidak dapat membantah. Perkataan Elsa tidaklah salah, bahkan sematan bodohnya pun juga tidak. Dia lah yang bodoh, dia yang terlalu buta hingga tidak bisa melihat perasaan cinta sahabatnya sendiri.
Melihat betapa linglungnya kini sang kakak, Elsa kembali memprovokasi, "Kenapa? Merasa bersalah sekarang? Ingin kembali ke pelukan Raffi dan membatalkan acara pernikahan sendiri?"
"Bisakah kau tutup mulut?!" Delia tak sadar telah mengeraskan suaranya. Ia tidak tahan mendengar lebih jauh ejekan itu.
"Kau harus meneguhkan pendirianmu kakakku sayang, pernikahan hanya tersisa beberapa hari lagi." ucapnya terakhir kali.
Puas dengan apa yang dirinya lihat, Elsa pergi ke kamarnya. Meninggalkan Delia kalut sendirian.
***
Disisi lain, di kediaman Halim, Raffi kedatangan sahabatnya yaitu Rendi. Kedua pria itu sedang asyik bermain game di dalam kamar Raffi.
Rendi sudah mendengar berita tentang pernikahan Delia. Karena itulah dia akhir-akhir ini sering menemani Raffi demi mengawasi sahabatnya itu dari berbuat hal yang tidak-tidak.
Ia takut Raffi menjadi depresi lalu memutuskan bunuh diri akibat patah hati. Walau imajinasinya terlalu ekstrim, tapi namanya peduli, dia tak bisa menahan pikirannya dari merasa khawatir.
"Evans tidak datang?" tanyanya memecah hening.
"Tidak, dia sibuk."
"Sudah lama tidak melihatnya berbuat gaduh di sini, rasanya ada yang kurang."
Masih menatap layar di depannya, Raffi menjelaskan, "Dia harus bersiap pergi menemui ibunya. Sudahlah, jangan membahas orang yang tidak ada di sini."
Rendi langsung bungkam. Kalau sudah seperti itu, itu artinya Raffi sedang dalam mood buruk. Mengenai sematan 'ibunya' yang terdengar dingin dari mulut sang sahabat, Rendi nampaknya telah terbiasa mendengarnya.
Orang tua Raffi berpisah sejak Raffi dan Evans masih kecil. Ekonomi buruk merupakan alasan ibu Raffi meminta cerai pada Halim. Bila Raffi ikut sang ayah, maka Evans si bungsu di bawa oleh ibunya.
Waktu itu, Raffi sudah cukup mengerti mengenai masalah dan pertengkaran orang tuanya yang setiap waktu tersulut. Kedua orang dewasa itu sama sekali tidak peduli dengan kehadiran kedua putranya dan tetap melanjutkan bertengkar seolah-olah itu asupan wajib mereka.
Sebagai seorang kakak, yang dilakukan Raffi adalah melindungi adik satu-satunya. Itu sebabnya, mengapa Evans begitu sayang dan menghormati kakak laki-lakinya. Karena Raffi bagi Evans adalah segalanya, begitu pula sebaliknya.
Mereka saling menyayangi, saling menguatkan di tengah kehidupan bak neraka. Sampai kemudian, mereka dipisahkan dengan cara kejam oleh yang namanya perceraian.
Raffi berusaha menghentikan tindakan kedua orang tuanya, tapi tidak berhasil. Sudah memohon dengan sungguh-sungguh tapi tak dihiraukan.
Dalam benaknya waktu itu, kenapa kedua orang tuanya begitu egois? Tidakkah mereka peduli dengannya dan Evans?
"Aku tidak mau! Aku tidak mau pisah!"
Suara kecil Evans masih terngiang dengan jelas kala itu tatkala menolak dipisahkan dari sang kakak laki-laki.
Raffi kecil pernah bertanya pada sang ibu, "Tidak bisa kah membawaku ikut bersama Mama?"
Wanita dewasa itu menggelengkan kepalanya.
"Kenapa?" tanya Raffi lagi dengan mata berkaca-kaca, "Aku janji tidak akan nakal. Aku janji bakal giat belajar, Ma. Bawa kami berdua ya?"
"Raffi, mama tidak bisa. Maaf ...."
Ibunya telah memutuskan sendiri membawa Evans dibandingkan dirinya yang dianggap sang ibu lebih dapat membantu sang ayah. Sejak saat itu, Raffi mulai menjadi dingin terhadap ibu yang dianggap telah membuangnya, hingga sekarang.
Diketahui setelah resmi bercerai, beberapa tahun kemudian, sang ibu menikah lagi dan suami barunya merupakan seorang pengusaha kaya.
Raffi tak pernah mengungkit soal ibunya, bahkan saat sang adik yang lama tidak dilihatnya datang untuk menemuinya. Kehidupan dua bersaudara itu bagaikan langit dan bumi. Apabila Evans dibesarkan tanpa kekurangan dan hidup dalam kemewahan, maka Raffi tidaklah seperti itu.
Untuk mendapatkan apa yang diinginkannya, dia harus lebih dulu bekerja, memeras keringat dan darah. Namun berkat kegigihan serta kerja kerasnya lah yang akhirnya membentuk Raffi menjadi tangguh dan kuat layaknya sekarang.
Mengandalkan kepintarannya, Raffi mendapatkan beasiswa di universitas terkenal dan berhasil lulus dengan nilai memuaskan. Ia kini bekerja di sebuah perusahaan ternama sejak dua tahun terakhir dan Rendi satu departemen dengannya.