Merindukan Teman-teman

936 Words
Aroma masakan menguar selagi tangannya sibuk mengaduk bumbu bercampur nasi dan irisan bakso di teflon. Pagi ini Aliza memasak nasi goreng sederhana untuk Gibran. Masa bodo kalau akan mendapat ocehan panjang lebar, tinggal didengarkan, begitu pikirnya. Dia harus menghemat energi agar tidak habis untuk memasak berbagai macam menu yang bahkan belum tentu disentuh. Aliza dongkol mengingat kelakuan suaminya sering menghina masakan lezatnya. Dia mengembuskan napas panjang, tidak mau menggerutu dan amal buruknya dicatat malaikat. lebih baik cepat-cepat kelar masak, lalu siap mengepel lantai agar selalu mengilap dan semut pun akan takjub saking kinclongnya. Tangan Aliza terulur mengambil piring putih dan menuang nasi goreng, tak lupa meletakkan omelette ke atas nasi sebelum memberikan pada Gibran. "Aku rindu sama teman-teman, apa boleh keluar sebentar," ucapnya merajuk. Gibran baru mengambil posisi duduk menghadap meja makan, matanya memandang sepiring nasi goreng dengan tatapan mengejek. Seakan makian akan keluar dari mulut pedas suaminya seperti, 'Hanya ini yang bisa kamu masak, tidak becus.' 'Kamu tahu aku harus kerja keras, makanan pun harus bergizi. Apa kamu tidak punya otak masak begini?' Dan berbagai susunan kalimat lain berdesakan di kepala Aliza, dia tidak akan peduli. Hatinya telanjur mengeras untuk menerima hinaan pedas sang suami. Gibran menyuap nasi ke mulut. Satu menit berlalu tanpa komentar apa-apa, bahkan Aliza mengerutkan kening dalam, lalu memasang ekspresi heran total. Sungguh, di hadapannya Gibran sedang melahap nasi goreng tanpa protes sepatah kata pun. "Kak, boleh tidak aku keluar bertemu teman-teman?" ulang Aliza merasa belum mendapatkan jawaban. Dia menopang dagu sambil mengamati ekspresi datar suaminya. "Diam di rumah, Aliza," ucapan Gibran terdengar seperti perintah. Pria itu segera meraih tisu serta mengelap bibirnya takut ada sisa makanan. Aliza hanya mendengus. Ia tak habis pikir terus diperlakukan seperti tawanan. Kapan terakhir mampir ke kedai es krim bersama teman-teman, lalu menghirup aroma butter, kebetulan toko kue tepat di sebelah kedai. "Baiklah," jawab Aliza malas-malasan sambil menyuap sesendok nasi goreng ke mulut. Meski selera makannya lenyap, tapi ia butuh energi banyak untuk melakukan tugas perbabuan selanjutnya. "Baguslah," balas Gibran sebelum meraih air putih dan menghabiskan dalam satu tegukan. Tak lupa Aliza menjalankan peran sebagai istri yang baik, membantu merapikan dasi serta mencium tangan suaminya. Jangan harap ada balasan cium kening, kecuali Gibran menghendaki. "Jangan keluyuran, mataku ada di mana-mana," tegas Gibran sebelum kursi yang diduduki terdorong ke belakang dan pria itu bangkit membawa tas kerja. Apalagi yang bisa dikatakan Aliza selain mengangguk patuh, membantah rasanya percuma. Sesudah Gibran berangkat ke kantor dan suara mobil tidak terdengar lagi. Saat yang ditunggu Aliza tiba. Ia bisa bebas menonton drama Korea favorit atau berkutat dengan bahan-bahan kue di dapur. Sebelum itu dia menyalakan laptop, tentu akan video call dengan teman-temannya. "Halo, Al," sapa Feli, salah satu sahabat terbaiknya di sekolah. Layar itu memunculkan perempuan berambut sebahu yang tersenyum lebar. "Kangen, aku nggak bisa ikut lagi." Aliza mendesah sedih. Dia melilitkan selimut ke tubuhnya mengingat cuaca dingin sisa hujan semalam. "Sabar ya, Al. Kita selalu di belakangmu," balas Riri, gadis pemilik gigi gingsul yang manis kalau tersenyum. "Begitu ya rasanya punya suami?" imbuh Ana, gadis berkulit cenderung gelap dan selalu ada cekungan di pipi setiap tertawa. Feli, Riri, dan Ana merupakan sahabat Aliza. Mereka syok saat mendengar Aliza akan menikah demi menggantikan kakaknya. Tapi apa boleh buat, itu keputusan Aliza. "Apa kita yang ke sana?" usul Feli setelah dahinya berkerut dalam durasi lama, seakan baru menemukan ide spektakuler. Ide bagus! Aliza pikir Gibran tidak akan melarang. Lagipula rumah ini luas, kedatangan tiga orang tidak akan membuat sesak. Aliza bisa puas bercerita tanpa melanggar aturan Gibran yang banyaknya mengalahkan pasal-pasal aturan pemerintah. "Oke, aku akan izin sama kak Gibran," jawab Aliza penuh semangat. Dia sudah merindukan teman-temannya. Gibran keterlaluan melarang segala kesenangan Aliza. Ana mengangguk-angguk, mengamati sahabatnya dari seberang. "Ya, ya. Rasanya izin dari suami lebih susah daripada dari om Seno." Aliza mendengkus, mengubah posisi dari rebahan menjadi duduk bersila, sedangkan pipinya menggembung sebal. Gibran memang sangat menyebalkan! "Ya sudah, aku harus pamit dulu," ujar Aliza memutuskan video call. Berkali-kali mengatur pernapasan menyiapkan kalimat agar tidak kalah adu argumen. Aliza paham sekali mengantongi izin dari suami maha benar tidak akan semudah menjetikkan jari. Setelah itu menyambar ponsel dan mencari kontak suaminya. Butuh tiga kali panggilan sampai Gibran mengangkat. "Ada apa?" tanya suara di seberang tanpa basa-basi. Nadanya terlalu datar untuk ukuran suami menerima telepon sang istri. Gibran tengah meneliti banyak dokumen. Sepuluh menit lagi meeting dimulai, dan panggilan Aliza cukup mengganggu. "Kakak, teman-teman aku mau ke sini boleh?" Tidak ada tanggapan, hanya diisi hening yang cukup panjang. Sementara Aliza sudah meremas-remas seprai saking kesalnya. "Kak?" Terdengar embusan napas berat di seberang, seakan-akan permintaan Aliza berlebihan. Satu gadis saja bisa mengacaukan rumah sebesar itu. Apalagi ditambah pasukan. Gibran tidak ingin pulang dengan keadaan rumah seperti sarang semut. Banyak makanan berserakan di mana-mana. Sekalipun ujungnya Aliza sendiri yang membereskan. Dia meyakini kalau teman-teman Aliza setipe dengan istri kecilnya. Ceroboh! "Tidak boleh!" "Huh ... aku seakan dipenjara. Bosan sekali," keluh Aliza berjalan ke meja demi mencomot cake yang sengaja dibawa ke kamar, ia masih ada waktu sepuluh menit buat leha-leha sebelum memeras tenaga menyapu, mengepel lantai sampai mengilap, menyiram tanaman di depan, dan berderet list tugas yang harus dikerjakan dalam sehari. Lalu lanjut bicara dengan mulut penuh. "Padahal kangen mereka, Kak." Tut ... tut. Sambungan telepon terputus. Lebih tepatnya sengaja diputus Gibran. Tanggapan Gibran membuat Aliza geram, sudah setengah tahun menikah belum pernah mendapat perlakuan manis. Gadis itu mengomel sendiri. Menuding-nuding ponsel dengan perasaan dongkol. Lalu melempar sembarang ke kasur. Daripada kerutan wajah timbul gara-gara sering mengomel, ia memilih merenggangkan otot lalu berjalan ke balkon. Menghirup udara segar dari lantai dua. "Kak Zelina, ayolah pulang. Mungkin kak Gibran akan melunak sama kakak."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD