"Buat apa Kakak datang cuma ganggu pertemuan aku sama Kak Lina." Bola matanya bergerak memandang Gibran yang fokus menyetir mobil. "Menyebalkan pura-pura kabur taunya menemui Kak Lina," lanjutnya belum berhasil meredam rasa jengkel. Gibran tidak merespons apa-apa. Wajahnya sedatar triplek, tidak ada ekspresi apa pun di sana. 'Dasar pura-pura enggak dengar, buang-buang energi aku ngomong sama om-om egois,' omel Aliza dalam hati. Lima menit hening. Tidak ada suara alunan musik memenuhi mobil, tidak ada pembicaraan penghuninya, suasana lebih sepi dari pemakaman. Aliza melipat lengan seraya memandang ke luar jendela mengamati orang berlalu lalang di trotoar jalan. Gibran membelokkan mobil ke arah yang Aliza hafal sejak kecil. Dia kaget langsung menoleh ke pria di samping. "Kita mau ke man

