Bab 2

990 Words
Adrien meninggalkan gereja dengan hati yang hancur dan penuh kemarahan. Hari yang seharusnya menjadi puncak kebahagiaannya kini berubah menjadi kepedihan yang mendalam. Ia merindukan Elena dengan rasa rindu yang menyakitkan dan marah pada keadaan yang memaksanya untuk menikahi Valeria, seorang karyawannya yang tak terlalu ia kenal, demi menghindari rasa malu di depan para tamu. Dalam perjalanan menuju rumah Elena, meskipun ia tahu ada kemungkinan Elena tidak ada di sana, Adrien merasa dorongan untuk mencarinya sangat kuat. Sesampainya di rumah, Adrien langsung menuju kamar tidur mereka tanpa membuat suara. “Elena?” panggilnya lembut, mendorong pintu kamar dengan hati-hati. Pemandangan di hadapannya memukulnya dengan keras—gaun pengantin tergeletak di atas tempat tidur, kerudungnya tergantung rapi di pengait dekat jendela, dan sepatu-sepatu tersusun di kaki tempat tidur. Pintu kamar mandi berderit pelan, memperlihatkan Elena, dengan riasan yang berantakan dan air mata mengalir di pipinya, melompat ke arah Adrien. “Adrien!” Elena memeluknya dengan penuh desakan, tanpa menyadari bahwa riasannya menodai setelan jasnya yang elegan. “Kenapa kamu tidak datang?” Suara Elena pecah, penuh dengan kepanikan dan keputusasaan. “Kenapa kamu tidak datang?” tanya wanita itu lagi. “Tenanglah, Elena,” Adrien berkata lembut, mencoba menenangkan sambil memegang bahunya dengan lembut. “Kita semua sudah menunggu berjam-jam. Aku berdiri di sana menunggumu, dan kau malah kau yang meninggalkanku sendirian.” “Aku panik!” Elena terisak, suaranya dipenuhi oleh rasa malu dan kesedihan. “Kegugupan menguasai diriku. Aku menyuruh semua orang pergi dan mulai meneleponmu, tapi tidak ada balasan.” “Ponselku ada di rumah. Aku tidak ingin gangguan di hari istimewa ini. Valeria berusaha menghubungimu beberapa kali. Dia bahkan mencoba menelepon rumah. Aku sudah mengirim pesan untukmu.” Elena menggelengkan kepalanya, wajahnya penuh dengan air mata dan riasan yang berantakan. “Aku bersembunyi,” isaknya. “Aku benar-benar membutuhkanmu. Aku ingin kamu datang, menenangkanku, dan berjalan bersamaku di lorong itu. Tapi semakin lama kamu tidak muncul, semakin jelas bagiku bahwa aku tidak bisa melakukannya. Maafkan aku, Adrien. Lihat tanganku... masih gemetar.” Adrien merasakan campur aduk emosi dalam dirinya. Meskipun hari ini penuh dengan rasa sakit dan kemarahan, dia masih memendam harapan kecil bahwa mereka bisa memperbaiki apa yang telah rusak. Ada bagian dari dirinya yang ingin percaya bahwa dengan saling memahami dan mendukung, mereka bisa memulai babak baru yang lebih baik bersama. Sikap Elena sering kali kekanak-kanakan dan berubah-ubah, selalu mendambakan kasih sayang Adrien yang dengan mudahnya ia berikan. Kecantikannya yang memukau—mata hijau yang besar, bulu mata panjang, hidung mancung, dan bibir yang menggoda—membuatnya sulit untuk diabaikan. Suaranya yang lembut dan merdu selalu membuat Adrien merasa tertarik. Selama hubungan mereka, tidak pernah ada pertengkaran yang berarti, sebuah bukti kelemahlembutan Adrien yang selalu dimanfaatkan Elena. “Kamu gugup, katamu, tetapi kamu tetap ingin menikah,” Adrien menegaskan, suaranya mengandung nada dingin. “Itu impian kita!” Elena menjawab dengan penuh semangat. “Tentu saja aku ingin menikah denganmu, Adrien. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu.” “Tidak akan pernah?” Adrien berbalik dengan tenang, bersandar pada dinding di samping pintu. “Itulah yang kau lakukan, Elena—kau meninggalkanku di altar. Jika kau benar-benar ingin menikah denganku, kau harus punya keberanian untuk menghadapi ketakutanmu, bahkan ketika aku sudah berusaha menghubungimu. Kau memilih untuk bersembunyi. Itu adalah pilihanmu sendiri.” “Aku sangat menyesal!” Elena berseru dengan kesedihan yang mendalam. “Tapi kau ada di sini sekarang. Kita bisa menjadwalkan ulang, menentukan tanggal baru. Bahkan kita bisa melakukan upacara sipil. Aku benar-benar minta maaf, Adrien.” Dia mendekat, meletakkan tangannya di punggung Adrien dengan penuh harapan. “Maafkan aku.” Adrien menarik napas panjang, hatinya masih dipenuhi rasa sakit dan kemarahan. “Aku juga menyesal. Tapi aku tidak bisa menikah lagi, setidaknya tidak untuk satu tahun ke depan.” “Setahun?” Elena terkejut, suaranya mengandung kemarahan dan kesedihan. “Kau marah dan kau menyembunyikannya dengan baik, tapi aku tahu. Kau ingin menghukumku dengan membuatku menunggu setahun, padahal kita bisa menikah dalam dua bulan. Aku mengerti. Lihat gaun di tempat tidur. Apa kau pikir itu bisa menunggu setahun? Lihat aku, Adrien. Apa kau pikir aku mau menunggu setahun untuk menikahimu? Selanjutnya apa, menunda hubungan kita?” Adrien berdiri di ambang pintu kamar mandi, memandang Elena dengan campuran rasa sakit dan dingin. "Tidak, Elena. Begitu aku berdiri di sana berjam-jam, menjadi tontonan bagi semua tamu yang kau buat bingung, kerabatmu yang memandangku dengan sinis, orang tuaku yang sebenarnya tidak pernah menyetujui kebersamaan kita namun memilih diam demi aku. Aku berdiri di hadapan kamera yang tak terhitung jumlahnya, berperan sebagai pengantin pria yang putus asa, dengan mata tertuju pada pintu, menunggu kehadiranmu. Jika pernyataan cintamu padaku tidak cukup untuk menenangkan kegelisahanmu, maka pesan yang kau kirimkan sangat jelas." "Pesan apa?" Elena menggenggam lengannya dengan putus asa, suaranya penuh keputusasaan. "Adrien, kumohon, lihatlah aku. Itu hanya kegelisahan, tidak lebih, hanya kegelisahan." "Kita sudah selesai, Elena." "Tidak!" Elena menolak dengan penuh harapan. "Dan sebenarnya, aku sudah menikah." Adrien mengangkat tangan kirinya, menunjukkan cincin pernikahan yang bersinar di bawah cahaya lembut ruangan. Dengan panik, Elena mencoba melepaskan cincin itu. "Tinggallah sampai aku kembali dari bulan madu. Setelah itu, aku tidak ingin melihatmu di sini lagi, atau bahkan mendengar namamu. Pergilah, bawa kegelisahanmu bersamamu." Elena terjatuh ke lantai, rasa tidak percaya tertulis jelas di wajahnya. Air mata mengalir deras di pipinya, saat dia melihat Adrien menjauh, semakin jauh, tanpa menoleh ke belakang. Bagaimana mungkin Adrien sudah menikah? Dengan siapa? Dan mengapa? Elena merasakan gelombang keraguan yang mendalam, lebih berat daripada sebelumnya. Ketakutan dan kesedihan menyergapnya, menyiksanya saat ia terjatuh di atas karpet, menyerah pada emosi yang menggelora. Rencana yang telah ia susun dengan cermat runtuh di depan matanya. Ketiadaan ego Adrien telah menggagalkan segalanya, menghancurkan impian dan harapannya. "Kenapa aku tidak bisa menghadiri pernikahanku sendiri? Kenapa?" keluhnya dalam hati, pikirannya terjerat dalam rasa bersalah dan penyesalan. "Seharusnya aku menunda semua ini, bukan meninggalkan upacara. Kenapa aku harus meninggalkannya?" Elena terus mengulang pertanyaan itu dalam pikirannya, menghukum diri sendiri tanpa henti.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD