"Assalaamu'alaikum..."
Sapa Hendi di sela-sela kesibukanku mengajar.
"Wa'alaikumussalaam.. warahmatullaahi wabarakaatuh...." jawabku tak ingin membuat Hendi menunggu lama.
"Lagi apa ni..." tanyanya.
"Aku masih ngajar ini...kenapa?"
"Oo...ya sudah...kapan waktu luangmu Din? Ingat...kamu janji ya kita mau video call..."
"Tunggu ya...nanti sekitar jam 13 waktu di tempatku...insya Allah bisa...??" tawarku.
"Mmm...yaa boleh..."
Hendi menutup chatting singkat kami.
Sementara itu aku kembali menyelesaikan tugasku mengajar. Entah kenapa hatiku jadi berdebar-debar membayangkan bagaimana aku berhadapan kamera dengan Hendi nanti.
Tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul 12.35. Saatnya aku mengakhiri pelajaranku bersama anak-anak bersamaan saatnya mereka pulang ke rumah.
Sambil menunggu panggilan Hendi, aku membereskan peralatan ku mengajar dan bersiap untuk mengambil air wudlu karena saat sholat dhuhur hampir tiba.
Aku pikir sebaliknya aku menghadapNya dahulu sebelum aku berhadapan wajah dengan Hendi nanti agar perasaanku lebih tenang dan tidak gugup.
Selesai sholat, aku meraih kotak makan siangku dan mulai menikmatinya perlahan.
Sesekali aku melirik ponselku untuk memeriksa apakah ada pesan atau panggilan masuk.
Bahkan sampai aku selesai makan siang belum juga Hendi menghubungiku. Tapi aku tidak mau memulainya. Jadi aku bersiap untuk pergi ke rumah murid lesku.
Saat aku berjalan ke arah motorku yang terparkir di halaman belakang sekolah, ketika itu juga kurasakan ponselku bergetar.
Sambil berjalan aku meraih ponsel yang ada di saku bajuku. Kulihat di layar nya sekilas pesan wa dari Hendi.
"Masih di sekolah, Din?"
Seketika itu juga kubuka hp ku dan kubalas pesannya.
"Ya..masih Hen. Bagaimana?"
"Sekarang ya Din? Bisa kutelpon?"
"Ya bisa..." ujarku sambil mengatur earphone ku.
Tak lama kemudian panggilan video Handipun berdering.
Sambil kusambut panggilan Hendi, aku mencari tempat duduk di halaman sekolah agar aku bisa bicara dengan nyaman.
"Assalaamu'alaikum Dina.." Hendi membuka percakapan.
Saat itu wajahnya terlihat di layar ponselku.
Entah kenapa aku jadi gugup dan hatiku berdebar.
"Wa'alaikumussalaam warahmatullaahi wabarakaatuh.." jawabku tanpa sanggup menatap wajah Hendi.
Entah kenapa aku jadi salah tingkah.
"Kamu cantik Din...Sejak kapan kamu pakai hijab? Seingatku dulu kamu kan bukan Muslim?" Hendi agak kaget rupanya melihat penampilanku.
"Sudah sekitar dua puluhan tahun yang lalu.."
"Bagaimana ceritanya Din?"
"Ah...kapan-kapan dah ceritanya.. Ngomong-ngomong kamu juga nggak banyak berubah. Wajahmu masih sama seperti dulu." ujarku lirih.
"Ah masa...aku sudah setua ini dan...lihat..." kata Hendi sambil memegang rambutnya yang tipis...dan agak botak.
"Iya...tapi wajahmu masih sama dan tidak berubah." tukasku.
"Sebaliknya Din...kamu tambah cantik dan awet muda." puji Hendi yang membuatku malu.
"Seandainya kamu di hadapanku, rasanya aku tak tahan untuk tidak memelukmu Din.." ujar Hendi lagi, kata-katanya membuatku semakin jadi salah tingkah. Rasanya pipiku seperti memerah dan hangat. Kenapa Hendi seberani itu berterus terang.
"Coba lihat sini ke arahku...jangan menunduk kayak gitu..." goda Hendi.
Ya Tuhan....kenapa dia seperti itu.
"Aduh Hen... kenapa kamu begitu. Buatku malu aja." sergahku sambil memalingkan muka.
"Kamu menggemaskan banget Din." serangnya tanpa henti.
"Udah aja ya Hen...ntar kapan-kapan kita sambung lagi?" kataku tanpa berani melihat wajahnya namun sempat sesekali kulirik dan senyum Hendi benar-benar mampu membuatku salah tingkah.
"Eee eee....belum aja sepuluh menit kok mau selesai??" potong Hendi sambil melotot.
"Lha Iya kamu sih... jangan menggodaku terus...ntar kalau aku jadi jatuh cinta bagaimana??" ujarku menutupi perasaan tak karuan yang ada di hatiku membalas godaannya.
"Naah...baguslah kalau kamu bisa jatuh hati padaku..." tukasnya sambil tersenyum.
Sialan Hendi...kata-katanya semakin menggila.
"Nanti istrimu bagaimana?" tanyaku kewalahan.
"Biarin...aku panggil kamu mama ya??" Tanya Hendi sambil tetap tersenyum menggodaku.
"Aduuuh...kamu ini...berhenti apa menggodaku..???" pintaku memelas.
"Baiklah, baik Din...benar, aku akan memanggilmu 'mama'..ntar kita sambung lagi di chat kita yaa.. ne aku lagi kedatangan tamu." ujar Hendi lagi.
"He eh...baiklah Hen. Aku juga mau pergi Les ini. Sampai nanti yaa. Assalaamu'alaikum..." kataku menutup pembicaraan kami.
"Wa'alaikumussalaam.."
Dan panggilan video itu terputus.
Sambil menuju tempat motorku diparkir, pikiranku tak lepas dari bayangan wajah Hendi.
Memang wajahnya masih tetap sama dan seandainya tiba-tiba aku bertemu dengannya di jalan, mungkin aku langsung bisa menebaknya, namun tak urung terlihat garis-garis wajahnya yang menandakan usia yang tak lagi muda. Namun justru itu yang terlihat mempesona.
Baru kali ini aku memperhatikan dan menyadari bahwa Hendi tidak seperti Hendi yang kukenal dulu.
Bisa dikatakan, aku merasa benar-benar bisa jatuh hati padanya sejak panggilan video siang itu.
Bahkan selama aku memberikan Les privat, pikiranku tak juga bisa terlepas dari bayangan wajah Hendi. Benar-benar...aku sudah mulai jatuh hati padanya.