Dua hari berlalu tanpa ada kabar dari Hendi membuatku agak gelisah. Tapi aku malu untuk memulai chatting dengannya.
Meskipun penasaran, aku berusaha menahan diri untuk tidak memulai pembicaraan. Siapa tahu dia sedang sibuk.
Aku tidak akan mempermalukan diriku. Biarlah , aku akan menunggunya ada waktu untuk menghubungiku lagi.
Kebetulan hari ini juga aku disibukkan dengan persiapan assesmen di sekolahku. Apalagi aku bertindak sebagai proktor dan tentu konsentrasiku tak bisa diganggu dengan hal-hal yang bakalan mengganggu kelancaran pelaksanaan ANBK di sekolahku.
Selama hampir kurang lebih satu minggu ke depan aku akan disibukkan dengan kegiatan ini, aku sudah hampir bisa melupakan nama 'Handi' dari pikiranku.
Namun ternyata di luar dugaanku, tiba-tiba di hari ke empat, Handi mulai mengirimkan lagi chat nya.
"Assalaamu'alaikum..Dina."
Anehnya...membacanya saja membuat jantungku berdetak dengan cepat.
Bagaimana ini...??? Aku tak ingin membohongi hati kecilku bahwa aku mulai merindukan sapaan itu. Tapi aku tak ingin tergesa-gesa membalasnya. Aku akan membalasnya nanti setelah selesai kegiatan hari ini selesai.
Bukannya apa, aku hanya ingin menata hatiku terlebih dulu sebelum merangkai lagi obrolanku dengannya.
Aku merasa hari-hariku sudah mulai berubah sejak aku menyambung kontak dengan Hendi.
"Sibuk sekali rupanya ya?" chat Hendi menyusul chat pertama yang masih kuabaikan.
Aku belum membukanya, tapi aku bisa melihatnya terpampang di layar depan ponselku.
Tunggu....sabar....nanti yaa...ujarku dalam hati.
Tanpa terasa kegiatan hari ini selesai dan aku sudah tak sabar ingin segera membalas chat Hendi.
"Maaf aku baru sempat buka hp. Hari ini ada kegiatan ANBK sejak hari Senin kemarin. Bagaimana kabar?"
Beberapa detik kemudian ..
"Alhamdulillaah baiiik..o..Iya...aku juga kebetulan lagi ada kegiatan rapat koordinasi dengan bawahanku dari Senin kemarin. Bagaimana kabarmu juga Din??" balas Hendi.
"Alhamdulillaah kabarku baiik.."jawabku.
Pandanganku tak lepas dari layar ponsel, tak sabar menunggu balasannya.
"Aku kangen, Ma.." Bari's kalimat yang membuatku terkejut. Ma??
Aku jadi terpaku tak tahu harus menjawab apa.
"Maaf...boleh aku panggil kamu 'Ma'?"
"Ah .. yaa...terserah kamu aja.." jawabku asal.
"Ma... kamu tau nggak..."
"Hmm??"
"Sudah hampir dua tahun ini aku dan istriku lagi kurang harmonis..."
"Kenapa? Maaf kalau boleh tahu..."
"Iya...beberapa waktu lalu aku sudah mempergoki istriku selingkuh dengan mantan pacarnya." jawaban yang mengejutkanku.
"Kok bisa? Bener itu mas? Dimana?"
"Di hotel..."
"Bagaimana ceritanya itu? Apa sudah lama?"
"Ya lumayan. Mereka sering saling wa. Aku yakin karena wa istriku sudah aku sadap. Jadi aku tahu betul bagaimana mereka selingkuh."
Waduuh...
"Mas sangat mencintai istri Mas ya?" tanyaku hati-hati.
"Ya...tentu saja. Dia itu kan juga ibu anak-anakku."
"Maaf..."
"Aku sangat kecewa Dan hampir saja membunuh pacarnya itu kalau saja bawahanku tidak mencegahku."
"Syukurlaah mas nggak sampai melakukannya." jawabku nggak tahu harus bilang apa lagi.
"Itulah kenapa sekarang ini hubungan kami jadi hambar."
"Apakah mereka masih saling kontak?"
"Masih tapi mereka sudah mulai berhati-hati. Bahkan aku sering membuntuti Mobil istriku kalau lagi keluar."
"Setelah ketahuan itu apakah istri Mas pernah minta maaf?" tanyaku.
"Ya, dia bilang menyesal dan nggak akan ngulangi lagi. Tapi aku masih belum percaya."
"Maaf bagaimana hubungan mas di ranjang sekarang?" merah rasanya pipiku saat menanyakan itu.
"Sejak peristiwa itu Istriku jadi lebih agresif daripada aku."
"Mmm....Mungkin benar istri Mas sudah menyesalinya.."
"Tapi aku belum bisa percaya padanya seratus persen."
"Apakah mas belum memaafkan istri Mas?"
"Aku belum bisa melupakan peristiwa itu."
"Tapi mas sudah memaafkan dia?"
"Aku tak pernah bilang padanya kalau aku memaafkan dia."
"Tapi mas bisa menerima istri Mas lagi."
"Ya...itu karena ada anak-anakku. Kalau bukan karena mereka, aku sudah menceraikan dia."
"Mas lebih beruntung sebenarnya dibanding aku." aku menggaris bawahi ceritanya.
"Kenapa?"
"Meskipun demikian rumah tangga mas masih lebih baik. Mas masih ada alasan yang lebih baik untuk mempertahankannya."
"Tapi hatiku sudah kecewa, Ma."
"Walaupun itu. Keadaanku lebih mengenaskan."
"Kenapa bisa begitu? Ayolah Ma..ceritakan padaku " desak Hendi.
Beberapa saat aku terdiam. Apakah aku harus menceritakan permasalahanku padanya?
"Mungkin tidak sekarang Mas.."
"Baiklah kalau kamu berat menceritakan..."
"Aku masih belum siap aja. Bagaimana nanti penilaianmu terhadapku setelah aku menceritakan semua kisahku."
"Wah...aku jadi semakin ingin tahu Ma..."
"Tunggulah sampai aku siap ya Mas?"
"Baiklah Ma .. aku mau pulang dulu ini...nanti lanjut lagi ya? Assalaamu'alaikum.... mmuacchh.."
Hendi mengakhiri dengan kata kecilan mesra.
"Wa'alaikumussalaam..."
Setelah pembicaraan kami itu, aku jadi lebih sering memikirkan Hendi. Bahkan aku hampir tidak terlalu merasakan kepahitan masalahku sendiri.
Mungkin karena dia lelaki jadi tidak terlalu ribet. Sebaliknya kalau wanita tidak bisa lepas dari hati dan perasaan.
Ah...memikirkan ini aku jadi ingin kembali ke masa lalu. Seandainya aku lebih dahulu bertemu dengan Hendi.
Dulu semasa masih SMP, aku adalah siswi yang pandai Dan berprestasi. Bahkan aku pernah meraih juara kelas dan bahkan juara seni.
Sedangkan Hendi anak yang biasa-biasa dan bahkan bisa dibilang nakal dan sering usil di kelas.
Tapi bagaimana sekarang? Hendi yang biasa-biasa saja bahkan sudah jadi pejabat pegawai negeri yang bisa dibilang lumayan mapan.
Sedangkan aku? Aku cuma sebagai guru honor bahkan sampai di usiaku sekarang ini bahkan aku masih belum diangkat jadi pegawai negeri!
Bahkan rumah dan status sebagai istri sah aku tidak punya! Bukankah itu ironis?
Apa yang ada di pikiran Hendi seandainya dia tahu ceritaku yang sebenarnya? Aku jadi sedih memikirkannya.
Sambil berkemas pulang aku melirik jam di ponselku. Ah .. sudah jam 14.00. Aku harus bergegas ke tempat Les privat ku sekarang. Muridku pasti sudah lama menungguku.
Untuk sejenak aku melupakan pembicaraan kami tadi dan kembali ke dunia nyataku yang rumit. Hmm.