Bernostalgia dengan teman lama

657 Words
"Ingat tidak? Waktu itu aku sering menghampiri mejamu hanya sekedar pinjam penghapus?" "Ah .. yaa... aku pikir kamu murid yang usil." "Tahukah kalau aku naksir sama kamu waktu itu?" "Benarkah???" "Masa kamu nggak merasa??" "Benar..aku tidak tahu." "Yang aku ingat malahan Yudi yang naksir aku waktu itu." "Bahkan aku juga yang nganterin Yudi apel ke rumahmu waktu itu." "Benarkah?" Kurang lebih itulah percakapan pertama antara Hendi dan aku lewat w******p. Entah mengapa tiba-tiba dadaku serasa dialiri sesuatu yang hangat, yang sudah lama tidak pernah kurasakan akhir-akhir ini. Dalam kejenuhanku, aku merasa seolah baru menemukan sesuatu yang mendebarkan. Sudah lama sekali aku tidak merasakan perasaan seperti ini. Seolah aku baru saja bertemu cinta pertamaku. "Kalau ada waktu, boleh kita video call?" Tanya Hendi. "Oya....boleh... kapan-kapan ya..." ujarku tersipu malu. Tingkahku seakan remaja baru jatuh cinta saja. Padahal dia bukan seseorang yang pernah singgah di hatiku. Tapi entah mengapa, sapaannya membuatku ingin menjalin sesuatu yang indah. Ah .. mengapa aku jadi segila ini??? Aku membayangkan wajah Hendi saat masih SMP. Aku ingat, saat itu aku kurang suka jika dia sering menghampiri bangkuku. Aku menganggapnya terlalu over akting. Saat itu justru aku sedang naksir anak lain yang bahkan tidak pernah sedikitpun melirikku. Bahkan aku ditaksir Yudi pun tidak sedikitpun tergoda, bahkan aku merasa sangat terganggu. Teman-teman yang lain lebih sering menggoda Dan memasangkan aku dengan Yudi. Sementara aku hanya bisa memperhatikan Wendi, anak yang diam-diam aku menaruh perasaan. Ingatanku yang sebentar berkelana kembali dikejutkan pesan yang datang lewat wa. "Sedang apa kamu?" Tiba-tiba Hendi menyadarkan aku dari lamunan masa lalu. "Tidak ada...aku cuma sedang membereskan sesuatu." "Bagaimana perasaanmu?" tanyanya. "Bagaimana apanya?" "Bagaimana perasaanmu setelah tahu isi hati dan perasaanku ini?" "Ahh...itu rupanya..." "Iya...aku penasaran..." "Oh ya... apa pekerjaanmu sekarang?" tanyaku mengalihkan pertanyaannya yang membuatku malu tanpa sebab. "Aku sekarang di pemerintahan, bagian dinas kominfo. Kalau kamu?" "Ah yaa... aku mengajar." jawabku singkat. "Sudah lama?" tanyanya. "Yaa lumayan... sudah kurang lebih sepuluh tahunan." "Kabarnya kamu tinggal di luar pulau ya sekarang?" Tanya Hendi lagi. "Iyaa..." "Tahukah kamu Din?" "Apa itu?" "Aku kangen sama kamu. " ujar Hendi tanpa tedeng aling-aling. Entah kenapa ada desir lembut menyentuh hatiku yang sudah lama beku. "Ah...kamu bisa aja." jawabku seakan tak tahu harus bilang apa. "Bener Din ... Seandainya kita bisa ketemu, mungkin aku sudah peluk kamu." jawab Hendi lagi mengejutkan aku. "Aduh kamu ini .... kenapa bilang gitu..." "Kamu gak percaya ya Din?" Tanya Hendi. "Bukan begitu...Tapi ini kan sudah lama sekali. hampir kurang lebih tiga puluh tahun lho..." jawabku asal. "Justru itu Din .. ada Hal yang perlu kamu tahu Din..." "Apa itu?" "Coba perhatikan foto yang aku kirim." "Hmm??" gumamku sambil membuka foto yang baru saja dikirim Hendi. "Siapa itu Hen? Itu istri Dan anak-anakmu ya??" "Yaa benar. Sudah kau perhatikan baik-baik, Din?" Tanyanya. "Mm...kenapa emangnya?" aku pura-pura bertanya. Padahal aku sudah tahu kemana arah lertanyaan Hendi. Aku perhatikan foto istri Hendi, kurang lebih wajahnya yang hampir serupa denganku. Dan dia juga mengenakan kacamata, sama denganku! Sekilas mirip denganku, walaupun jujur kuakui aku lebih manis darinya.? Ah, kenapa Hendi ini. Apa maksudnya sih? Tiba-tiba aku jadi gugup sendiri. "Setelah lulus SMP, aku kesana kemarin mencari tahu tentang dirimy, Din. Tapi kamu seakan hilang ditelan bumi." "Terus?" "Sampai aku bertemu dengan istriku yang sekarang ini. Aku seakan terobsesi dirimu." "Benarkah yang kamu ceritakan ini, Hendi?" tanyaku mencari kepastian kebenaran ceritanya. "Kamu nggak percaya padaku ya Din?" "Bukan begitu Hen. Tapi benar...seperti dongeng saja ceritamy ini." ujarku tak ingin menyinggung perasaan Hendi. "Aku sungguh berharap, suatu saat aku bisa bertemu denganmu Din." "Yaa...semoga saja...." "Benar, Din...aku sungguh ingin bertemu dan melepaskan rasa yang pernah ada dalam hatiku ini yang dahulu hanya bisa tersimpan dalam angan." ujar Hendi dengan sungguh-sungguh. Aku jadi terpaku dan bingung tak tahu harus menjawab apa. Dalam hatikupun sebenarnya penasaran, apa yang akan terjadi jika aku bertemu dengan Hendi di saat seperti ini. Di saat kami sudah tak lagi muda dan sudah punya pasangan masing-masing, meskipun dengan situasi yang tak sama.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD