CITRA POV
Pagi ini aku memasak untuk anak - anak di panti karena sebelum mereka berangkat sekolah, aku membuat sarapan untuk mereka. Sekitar jam enam pagi, aku melihat pria itu menghampiriku dan sepertinya ia terlihat sangat sehat. Pria itu menyapaku dan entah kenapa jantungku berdebar sangat kencang saat berdekatan dengannya.
Ia memberitahu namanya padaku adalah Sendy. Ia meminta maaf karena sudah merepotkanku dengan tinggal di panti dan aku memberitahunya jika aku tidak keberatan jika ia menginap di panti. Setelah selesai masak, ia membantu menyiapkan makanan di atas meja makan sampai anak - anak panti berkumpul untuk sarapan bersama.
Aku memperkenalkan Sendy kepada anak - anak panti dan mereka sangat senang dengan kehadiran Sendy. Sendy berusaha menghibur anak - anak panti dengan candaannya sehingga mereka semua tertawa dan aku sangat senang melihat mereka tertawa bahagia karena sudah lama aku tidak melihat pemandangan yang sangat menyentuh hatiku.
Setelah selesai sarapan, anak - anak berangkat ke sekolah dan tinggal aku berdua dengan Sendy di panti asuhan. Sendy sudah bersiap - siap untuk kembali ke kotanya dan rasanya hatiku tidak rela jika ia pergi begitu saja. Sebelum ia pergi, ia memberiku nomor kontaknya dan aku sangat senang karena ini salah satu kesempatanku untuk terus berhubungan dengannya.
"Terima kasih telah membolehkanku untuk menginap di sini. Aku berjanji lain kali akan berkunjung kesini dan simpanlah kartu namaku jika suatu hari kau membutuhkan bantuanku." kata Sendy sambil memberikan kartu namanya padaku.
" Aku sangat senang jika suatu hari kau bisa berkunjung kesini. Aku yakin anak - anak panti akan sangat merindukanmu." kataku sambil memegang kartu namanya dengan erat.
" Titip salam untuk mereka. Katakan pada mereka jika aku akan sangat merindukan suasana di sini bersama mereka." kata Sendy sambil berpamitan padaku dan ia membawa kopernya ke dalam mobil.
Setelah itu ia pergi dan rasanya saat itu aku merasa sangat kehilangan meskipun kami baru saja bertemu dan tidak terasa air mataku menetes membasahi pipiku. Rasanya aku tidak ingin ia pergi dan tiba - tiba aku melihat sebuah mobil yang ternyata itu adalah mobil Sendy dan mobil itu berhenti di panti asuhan dan Sendy keluar dari mobil sambil datang menghampiriku.
Saat itu aku tidak menyangka ia akan kembali ke panti asuhan dan tiba - tiba ia memelukku sangat erat dan aku hanya bisa diam membisu tanpa berani membalas pelukannya. Saat itu ia berkata padaku bahwa ia tidak ingin kembali ke kotanya karena ia merasa aku adalah seseorang yang di carinya selama ini dan saat itu jantungku berdebar kencang saat ia melamarku untuk menjadi istrinya.
Saat itu aku tidak percaya dengan perkatannya dan rasanya baru saja kami saling mengenal dan saat ini ia terlihat sangat serius ingin meminangku menjadi istrinya. Tanpa berpikir panjang, aku menerima lamarannya dan ia terlihat sangat bahagia. Lalu ia menelfon orang tuanya dan memberitahu jika sebentar lagi ia akan menikah denganku.
Aku tidak menyangka jika doaku akan di kabulkan oleh Tuhan untuk segera menikah tahun ini dan Sendy adalah jawaban dari doaku. Setelah ia selesai menelfon orang tuanya, ia mengajakku untuk bertemu dengan kedua orang tuanya di Bandung dan rasanya saat itu aku tidak bisa meninggalkan anak - anak begitu saja karena mereka semua adalah tanggung jawabku.
" Sayang, aku ingin mengajakmu untuk bertemu dengan kedua orang tuaku. Apa kau bersedia jika besok kita pergi untuk menemui orang tuaku?" tanya Sendy dengan hati - hati kepadaku.
" Bukannya aku tidak mau tetapi aku tidak bisa meninggalkan anak - anak tanpa ada yang mengawasi mereka." kataku tanpa berani menatapnya.
" Baiklah kalau begitu, biar orang tuaku saja yang kesini untuk menemuimu. Aku akan membelikan mereka tiket pesawat supaya lusa mereka sudah sampai disini." kata Sendy sambil memegang ponselnya.
Sejujurnya saat itu aku merasa tidak enak terhadap Sendy karena seharusnya aku yang menemui orang tuanya tetapi karena anak - anak panti tidak ada yang mengawasi mereka sehingga Sendy memutuskan untuk mendatangkan orang tuanya dari Bandung untuk menemuiku.
Tidak beberapa lama, Sendy mengajakku pergi untuk berkeliling sambil mencari baju untukku. Ia ingin aku tampil secantik mungkin saat bertemu dengan orang tuanya dan ia bercerita jika orang tuanya bukanlah orang sembarangan dan mereka berasal dari keluarga terpandang. Rasanya aku merasa tidak percaya diri saat mengetahui tentang latar belakang keluarganya tetapi Sendy memberi semangat padaku jika kedua orang tuanya pasti bisa menerimaku apa adanya.
Rasanya aku sangat bahagia karena Sendy tidak jadi memutuskan untuk kembali ke Bandung dan ia lebih memilih bersamaku. Aku mengajaknya pergi ke sebuah butik yang letaknya tidak jauh dari panti asuhan dan saat kami memasuki butik itu, Sendy langsung memilihkan baju untukku dan ia menyuruhku untuk mencobanya.
" Cobalah sayang, aku yakin baju ini sangat cocok di tubuhmu yang sangat langsing" kata Sendy sambil memberikan baju yang ia pilihkan untukku.
" Baiklah, akan ku coba baju ini." kataku dengan penuh semangat.
Saat aku mencoba baju yang di pilihkan Sendy untukku ternyata baju itu sangat pas di tubuhku dan aku merasa sangat cantik saat memakai baju itu. Lalu aku keluar dari ruang ganti dan saat Sendy melihatku, ia terlihat sangat terpesona saat melihatku memakai baju itu. Setelah itu, aku berganti baju dan Sendy membayar bajuku tetapi aku menolaknya karena aku tidak ingin ia yang membayar tetapi ia memaksa untuk membayar sehingga aku membiarkannya membayar.
Tidak terasa hari sudah siang dan Sendy mengajakku untuk makan siang bersama di sebuah restoran yang letaknya tidak jauh dari butik. Disana menyediakan berbagai macam masakan indonesia dan ternyata kami menyukai jenis makanan yang sama. Aku dan Sendy tertawa mengetahui hal itu dan kami merasa bahwa kami memang di takdirkan untuk berjodoh.
Tidak beberapa lama pelayan datang membawakan pesanan kami dan kami langsung menyantap makanan yang di sediakan oleh restoran. Makanannya terasa sangat lezat dan sepertinya Sendy akan mengajakku ke restoran ini lagi jika kami berkunjung kembali. Setelah selesai makan, kami kembali ke panti asuhan dan saat tiba di sana, anak - anak sudah pulang sekolah dan mereka sangat terkejut melihat kehadiran Sendy karena mereka berpikir jika Sendy sudah kembali ke kotanya.
" Kak Sendy belum pulang ya?" tanya Fanny yang terlihat penasaran sambil menatap Sendy dengan tingkahnya yang polos.
" Kak Sendy tidak jadi pulang karena kakak ingin melamar ibu Citra menjadi istri kakak. Apa Fanny setuju jika kakak menikah dengan ibu Citra?" tanya Sendy sambil tersenyum kepada Fanny.
" Tentu saja Fanny setuju! Fanny sangat ingin memiliki ayah seperti kak Sendy!" kata Fanny dengan penuh semangat.
Aku sangat senang melihat wajah Fanny yang menunjukkan kebahagiaan dan ia sepertinya sangat ingin memiliki ayah sebaik Sendy. Sejujurnya aku sangat ingin mengadopsi Fanny sejak dulu tetapi aku berpikir jika saat itu aku tidak akan menikah dan sekarang aku sudah menemukan pria yang akan menjadi suamiku dan aku sangat siap untuk mengadopsi Fanny jika Fanny setuju untuk ku angkat sebagai anak.
Setelah Fanny selesai berbicara dengan Sendy, aku menyiapkan makan siang untuk anak - anak panti karena aku yakin mereka pasti sangat kelaparan setelah beraktivitas di sekolah. Tidak beberapa lama Sendy datang menghampiriku dan ia membantuku menyiapkan makanan di atas meja. Rasanya aku beruntung mendapatkan pria sebaik Sendy karena ia sangat perhatian padaku meskipun kami baru saling mengenal satu sama lain.
Tidak beberapa lama aku menyuruh anak - anak untuk makan siang bersama dan kami merasakan suasana semakin lebih bersemangat semenjak ada Sendy. Anak - anak setuju jika aku menikah dengan Sendy dan mereka mendoakan semoga kami hidup bahagia. Rasanya aku sangat terharu mendengar mereka mendoakan kami karena doa mereka pasti di kabulkan oleh Tuhan.
Setelah selesai makan, Sendy menelfon anak buahnya untuk mengatur perusahaannya dan aku baru tau jika Sendy seorang pengusaha dan ia memiliki banyak bisnis. Rasanya aku tidak pernah menyangka memiliki jodoh sepertinya karena selama ini aku hanya fokus merawat anak - anak panti. Mungkin ini saatnya aku menikah dan membina rumah tangga dengan seorang pria seperti keinginanku sejak dulu.
***
Beberapa hari kemudian, aku dan Sendy menjemput kedua orang tuanya di bandara dan rasanya aku sangat gugup ketika bertemu dengan orang tua Sendy. Tidak beberapa lama orang tua Sendy datang dan saat aku menemui mereka, mereka terlihat sangat senang saat bertemu denganku. Lalu kami mengantar mereka ke hotel untuk beristirahat sekaligus makan siang bersama.
Sendy mengajak kami makan siang di restoran yang berada di hotel agar tidak terlalu jauh dengan kamar hotel orang tuanya. Lalu kami membicarakan banyak hal dan salah satunya tentang pernikahan. Kedua orang tua Sendy menanyakan tentang latar belakangku dan mereka sangat terkejut ketika mengatahui bahwa aku adalah anak yatim piatu.
Saat itu sikap mereka berubah padaku dan sepertinya mereka tidak setuju jika Sendy menikah denganku tetapi Sendy tetap bersikeras untuk menikahiku meskipun kedua orang tuanya tidak setuju denganku. Sejujurnya aku tidak ingin Sendy menjadi anak yang pembangkang tetapi sepertinya ia tidak bisa menerima jika orang tuanya menolakku karena alasan aku yang tidak berasal dari keluarga yang terpandang.
" Mohon maaf sebelumnya, tetapi kami tidak di beritahu oleh Sendy jika kau sejak kecil menjadi anak yatim piatu. Dan sepertinya pernikahan ini sebaiknya di batalkan saja karena kami hanya ingin Sendy menikah dengan seorang wanita yang latar belakangnya berasal dari keluarga yang terpandang." Kata ibu Sendy sambil menatapku dengan pandangan yang sangat tajam.
" Mama tidak bisa seenaknya memutuskan kehidupan Sendy! bagaimana pun juga, Sendy tetap akan menikahi Citra meskipun papa dan mama tidak setuju!" kata Sendy dengan amarah yang meluap - luap dan ia langsung menarik tanganku untuk pergi meninggalkan orang tuanya.
Saat itu mamanya berteriak memanggil namanya tetapi Sendy tidak menghiraukan dan mengajakku pergi meninggalkan hotel denga rasa amarah yang sangat besar terhadap ibu kandungnya. Tiba - tiba papa Sendy mengejar kami dan beliau memberitahu jika ibu Sendy mengalami serangan jantung dan akhirnya kami membawa ibu Sendy ke rumah sakit.
Sendy terlihat sangat cemas memikirkan ibunya yang terkena serangan jantung dan aku berusaha menenangkannya agar ia tidak panik. Tidak beberapa lama kami tiba di rumah sakit dan ibunya langsung di bawa ke ruang operasi. Kami semua hanya bisa berdoa dan menunggu di depan ruang operasi.
Aku berusaha menenangkan Sendy agar ia tidak larut dalam kesedihan dan beberapa jam kemudian, dokter keluar dari ruang operasi dan memberitahu jika nyawa ibu Sendy tidak bisa di selamatkan dan saat itu juga ayah Sendy jatuh pingsan dan kami membawa beliau kepada dokter untuk di periksa.
Aku tau hal ini sangat menyakitkan untuk Sendy dan ayahnya. Begitu juga denganku dan aku merasa ini semua salahku karena menyebabkan Sendy kehilangan ibunya yang sangat ia sayangi. Tidak beberapa lama ayah Sendy sadar dan beliau kembali teringat dengan istrinya yang pergi meninggalkan untuk selamanya.
Tiba - tiba ayah Sendy berteriak kepadaku dan beliau menyalahkanku atas meninggalnya istrinya. Sendy berusaha membelaku dan ia membawaku pergi meninggalkan ayahnya yang tidak bisa berhenti menyalahkanku. Sendy meminta maaf padaku atas sikap ayahnya yang tidak baik padaku.
" Maafkan perkataan papa. Aku tau papa bukanlah orang jahat dan beliau saat ini sedang terbawa emosi atas meninggalnya mama." kata Sendy dengan rasa penyesalan yang sangat mendalam.
" Kau tidak usah khawatir. Aku sudah memaafkan beliau dan aku sangat mengerti beliau saat ini sangat sedih dengan kepergian ibumu." kataku sambil berusaha menenangkannya dan aku memeluknya sangat erat dan ia membalas pelukanku.
Aku tau saat ini Sendy sangat membutuhkanku dan sampai kapanpun aku tidak akan pergi meninggalkannya karena aku sangat mencintainya. Aku akan melakukan apapun agar ia kembali tersenyum seperti dulu. Tidak beberapa lama kami di perbolehkan oleh dokter untuk membawa jenazah ibu Sendy ke pemakaman.
Saat itu aku bisa melihat kebencian di mata ayah Sendy dan aku hanya bisa diam membisu tanpa berani berkata apapun. Setelah jenazah selesai di makamkan, aku tidak ikut mengantar ayah Sendy ke hotel karena aku tidak ingin ayah Sendy semakin murka padaku dan aku memutuskan untuk pulang seorang diri ke panti asuhan.
Rasanya hari ini sangat melelahkan bagiku dan aku tidak tau apakah hubunganku akan berlanjut atau tidak. Tetapi aku memasrahkan semua itu kepada Tuhan karena hanya DIA lah yang tau. Tidak beberapa lama Sendy menghubungiku dan ia memberitahu jika besok ia akan mengantar ayahnya ke Bandung dan ia tidak bisa mampir untuk menemuiku di panti asuhan.
Aku tidak mempermasalahkan hal itu karena aku tau saat ini Sendy lebih mementingkan ayahnya daripada aku dan aku berharap Sendy dan ayahnya bisa menerima kepergian ibu Sendy dengan lapang d**a. Saat aku tiba di panti asuhan, Fanny dan anak - anak yang lain menanyakan keberadaan Sendy dan aku memberitahu mereka jika Sendy sudah pulang ke rumahnya.
" Ibu Citra, dimana kak Sendy? kenapa tidak kesini ?" tanya Fanny dengan antusias.
" Kak Sendy sekarang pulang bersama ayahnya." kataku sambil tersenyum kepada Fanny.
Fanny terlihat sangat sedih ketika mendengar hal itu dan aku merasa Fanny sangat dekat dengan Sendy sehingga ia menganggap Sendy seperti ayah kandungnya sendiri. Aku menyuruh Fanny dan anak - anak yang lain untuk beristirahat karena sudah waktunya untuk tidur. Aku berharap Sendy segera mengabariku.
Rasanya malam ini aku tidak bisa berhenti memikirkan Sendy karena aku sangat mengkhawatirkannya. Tiba - tiba ia menelfonku dan mengabariku jika ia sudah sampai di Bandung dengan selamat dan aku sangat bersyukur ia baik - baik saja. Sendy berjanji padaku akan segera menyelesaikan masalahnya dengan ayahnya dan ia akan segera kembali untuk menemuiku.
Aku berharap Sendy segera menyelesaikan masalahnya dengan ayahnya sehingga kami bisa bertemu kembali. Aku tidak menyangka akan terjadi seperti ini dan aku merasa tidak sepadan dengan keluarga Sendy yang terpandang. Aku hanya bisa berdoa semoga aku dan Sendy tidak akan terpisahkan sampai kapanpun karena aku sangat mencintai Sendy.