ULANG TAHUN PERNIKAHAN

1180 Words
Sepasang suami istri yang tampak serasi bersalaman kepada para tamu undangan yang menghadiri perayaan ulang tahun pernikahan mereka yang ke-15 tahun. Surya Bakti Nagara, pria berusia 43 tahun. Seorang CEO perusahaan telekomunikasi dan travel. Pria yang sukses di keluarga maupun bisnis. Bagaimana tidak, mempunyai istri yang masih cantik dan awet muda, ditambah kedua putra putri yang menanjak remaja. Tak salah Surya pantas dinobatkan sebagai pria yang sukses dan beruntung. “Wah selamat pak Surya,” ucap kolega bisnis Surya mengulurkan tangan. “Terima kasih,” balas Surya dan Cahaya sumringah. Cahaya Ayuningrum, wanita berusia 36 tahun. Wanita elegan dengan senyum hangat nan keibuan. Sebagai wanita yang menyayangi anak-anak, dia membuka panti asuhan untuk anak-anak terlantar dan pengemis jalanan. Panti asuhan yang telah lama berdiri, sejak 15 tahun yang lalu, setara dengan usia pernikahan mereka. Alasan terlambat memiliki momongan yang melatar belakangi Cahaya membangun panti asuhan Cahaya Hati. Mereka harus menunggu tiga tahun lamanya untuk memiliki anak. Lahirlah putra pertama mereka bernama Langit Aryasatya, anak laki-laki yang sekarang berusia 12 tahun dan sebentar lagi akan masuk ke sekolah menengah pertama. Setelah itu, mereka kembali dikarunia seorang anak perempuan bernama Zanitha, sekarang berusia 10 tahun, kelas 4 sekolah dasar. Bagi Cahaya membangun panti asuhan adalah berkah dari kesabarannya menanti momongan. Dia ingin menunjukkan bahwa dia mampu menerima kepercayaan Tuhan untuk menjaga anak-anak yang bukan darah dagingnya. Dia berharap hal ini akan membuat Tuhan mendengar doanya untuk memiliki anak, dan itu terbukti adanya. Kembali ke perayaan, Surya tak henti mencium pipi istrinya sayang. Tangannya bahkan tidak pernah lepas dari pinggang Cahaya. “Pak Surya, bisa kita ke sana. Ada investor yang ingin berbicara dengan anda,” ucap Agung, COO perusahaan Surya. Istri Agung, Dewinta adalah sahabat karib Cahaya. Namun saat ini Dewinta berhalangan hadir dikarenakan putrinya sedang terbaring sakit. “Sayang,” Surya memelas, merasa tidak enak hati. Saat ini mereka hanya ingin bergembira namun selalu saja Surya merusak momen itu dengan pekerjaan. “Iya gak apa-apa Mas. Aku yang akan menyambut tamu kita. Jangan sampai kamu kehilangan kesempatan emas seperti itu,” ucap Cahaya maklum. “Terima kasih istriku, pujaanku, paling tercantik di dunia,” puji Surya dan mencium tangan Cahaya tiada henti. “Issshhh, kamu bikin malu aja,” Cahaya memukul pelan lengan Surya seraya menggeleng geli. Suaminya selalu saja memujinya berlebihan. Surya dan Agung kemudian menjauh menemui calon investor meninggalkan Cahaya yang berdiri menyambut tetamu. “Ibu Aya,” rombongan anak panti menghampiri Cahaya. Berni, Manda, Jeanne, Jihan dan Sany. “Hei kalian sudah datang,” sapa Cahaya sumringah melihat anak-anak panti yang sekarang telah dewasa. Cahaya memeluk mereka satu persatu. Mereka telah menyelesaikan pendidikan sarjana dan bekerja. Sebagai bentuk terima kasih, mereka juga menjadi donator untuk anak panti asuhan milik Cahaya. Cahaya tentu saja menolak, tetapi bagi mereka ini sebagai bentuk rasa syukur, berkat panti asuhan Cahaya Hati, mereka yang menjadi anak-anak terbuang kembali mempunyai harapan untuk bermimpi mengenai masa depan. “Wulan mana?” tanya Cahaya. Satu nama yang tampak tidak hadir di rombongan mereka. Wulandari adalah orang kepercayaan Cahaya. Cahaya selalu saja menyesali saat mengingat Wulandari yang lulusan cumlaude namun menolak bekerja di perusahaan bergengsi dan lebih memilih untuk mengelola panti asuhan. Selain itu Wulandari juga menjadi guru privat bagi kedua anaknya. Sosok perempuan muda, mandiri dan cerdas. Begitu penilaian Cahaya. Tidak salah Wulandari disebut sebagai anak panti asuhan kesayangannya. “Hai bu,” sapa Wulandari dan mencium pipi kiri dan kanan Cahaya. “Hai Wulan, kok kamu telat datengnya?” tanya Cahaya melihat Wulandari yang datang dengan penampilan sangat mempesona. Dia menggunakan rok panjang dengan belahan rok hampir setinggi lutut. Badan yang proporsional. Rambut hitam panjangnya digelung ke atas menampilkan leher jenjang miliknya. Wulandari layak menjadi wanita pujaan banyak pria. Namun saat Cahaya bertanya tentang hal itu, Wulandari selalu saja mengatakan bahwa dia hanya ingin fokus mengelola panti asuhan. “Ah iya bu maaf. Ada sedikit tadi masalah di panti,” jawab Wulandari. “Ah yang bener? Apa kamu butuh bantuan?” tanya Cahaya dengan raut wajah khawatir. “Tidak bu. Tidak usah. Hanya persoalan Ajis, dia berkelahi di sekolah. Orang tua anak yang dipukulnya datang ke panti,” jawab Wulandari menjelaskan. “Astaga Ajis. Jadi gimana? Apa mereka minta ganti rugi?” tanya Cahaya penasaran. “Gak kok bu. Bu Aya jangan mikirin itu. Orang tua si anak itu mengurungkan niatnya untuk membalas tindakan Ajis setelah tahu Ajis adalah salah satu panti asuhan. Bahkan mereka ingin menjadi donatur panti asuhan kita bu,” Wulandari tersenyum dan menggenggam tangan Cahaya, seolah ingin membagi rasa haru dan suka citanya. “Wah berarti bener pepatah yang mengatakan di balik badai biasanya akan ada pelangi.” “Iya bu,” Wulandari dan yang lainnya mengangguk setuju. “Eh astaga, kita terlalu lama bicara. Silahkan nikmati hidangan yang ada. Jangan sungkan. Gak tau Mas Surya dimana sekarang,” Cahaya menelisik sekeliling mencari sosok suaminya. “Gak apa-apa bu,” jawab mereka bersamaan. Rombongan anak panti itu kemudian duduk di sebuah meja. Mereka menikmati kemewahan pesta hari itu, Mata mereka dimanjakan dengan pesta taman dibalut dekorasi yang indah, juga hidangan yang sangat menggugah selera. Dret dret dret Ponsel Wulandari berbunyi. Semua yang duduk di meja serentak menatap handphone yang terletak di meja. Wulandari sebagai sang pemilik tentu saja risih terhadap pandangan teman- temannya. Segera diambil handphone itu dan menjauh. “Halo…” jawab Wulandari di suatu tempat yang dirasa tidak akan ada yang menguping. “….” “Iya Mas. Aku udah dateng.” “….” “Dimana? Oh di taman belakang. Baik mas, aku ke sana sekarang,” Wulandari mengangguk walaupun dia tahu lawan bicaranya tidak mungkin melihat anggukannya. Wulandari memperbaiki sejenak penampilannya, merapikan anak rambutnya yang jatuh. Setelah dirasa siap, dia berjalan menuju tempat yang dijanjikan oleh si penelpon tadi. Sesekali dia menoleh ke belakang untuk memastikan tidak ada seorang pun yang mengikutinya. “Hai sayang,” sapa seseorang kemudian memeluk Wulandari dari belakang. Wulandari terkesiap namun setelah itu kembali tenang karena dia mengenal siapa sosok yang memeluknya. “Hai Mas,” jawab Wulandari menumpuk tangannya di tangan pria yang melingkar di perutnya. Wulandari kemudian berbalik namun disambut ciuman oleh pria itu. “Hmmmpppphhh…” Wulandari yang tidak siap bahkan harus terdorong dan bersandar di tembok. Ciuman pria itu selalu saja membuatnya lemah tak berdaya. “Mas…Mas Surya kok berani sih nyium aku di sini,” ucap Wulandari saat ciuman keduanya terlepas. Napas keduanya bahkan masih terengah-engah. “Aku lihat kamu dari kejauhan sayang. Aku benar-benar terpesona dengan penampilan kamu saat ini, sangat seksi,” bisik Surya dan membuat bulu kuduk Wulandari meremang. “Ehmmm…saat ini aja muji-muji aku. Padahal tadi mungkin saja kamu muji-muji Bu Aya,” Wulandari mencebikkan bibirnya manja. “Iya dong kalian berdua wanita kesayangan aku,” Surya merapikan rambut Wulandari ke belakang telinganya. “Apakah aku tidak akan pernah menjadi satu-satunya mas?” tanya Wulandari. Harapan yang selalu saja berharap segera dikabulkan. “Boleh saja sayang. Tapi kamu harus sabar,” ucap Surya mencubit gemas hidung Wulandari. Tanpa sepengetahuan mereka seorang wanita berusaha keras menutup mulutnya menahan tangis, matanya berkaca-kaca penuh rasa sakit dan terluka, tidak percaya mendengar apa yang terjadi dibalik tembok.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD