Mecca memasukan uang kembalian dari ibu kantin usai membayar makanannya. Niat awal Mecca ke kantin di lantai tiga adalah agar ia bisa bertemu Mahesa tapi nyatanya, sampai semangkuk bakso dan segelas es jeruknya ludes habis ia makan, Mecca tak melihat kedatangan Mahesa di kantin.
Padahal ia sudah memberanikan diri sendiri kesini, tidak tau saja bagaimana tatapan kakak kelasnya itu pada dirinya saat ini, bola mata mereka seperti ingin keluar dari lubangnya. Memang terbilang mengerikan kakak kelasnya itu.
Kakak kelas kalian gitu juga gak?
Dari atas sampai bawah, mereka memperhatikan setiap gerak-gerik Mecca. Serasa Mecca adalah golongan terintimidasi disini.
Bruk.
Entah kurang fokus atau bagaimana, tanpa sengaja saat Mecca ingin keluar dari area kantin, tubuhnya membentur seorang kakak kelasnya hingga beberapa Snack dan minuman yang dibawa jatuh ke lantai, Mecca langsung berjongkok dan berniat membantu mengambil beberapa makanan yang terjauh, "aduh maaf ya ka, makanannya jadi jatuh," ucap Mecca.
Saat Mecca hendak mengambil salah satu Snack, sebuah suara yang tidak asing mengintrupsinya agar tidak melakukan hal itu. "Gue bisa sendiri, gue gak mau makanan gue terkontaminasi tangan lo," cetusnya terdengar menusuk bagi Mecca.
Mecca mendongak dan melihat siapa yang baru saja mengatakan itu.
Ternyata dia adalah Davit.
Kakak kelas sekaligus mantan pacarnya sebelum Mecca berpacaran dengan Dimas. Di sekolah Davit terkenal baik, ramah, dan tentu saja sopan, Davit juga mantan anggota osis yang baru saja purna dua bulan yang lalu kerena sudah menginjak kelas dua belas.
Sebelumnya, Mecca tak pernah mendengar Davit berbicara dengan nada seketus itu padanya, terlebih waktu Mecca memutuskan hubungan mereka pun Davit masih berbicara dengan nada yang baik.
"Ka---Davit," Ujar Mecca pelan.
Davit memungut semua Snack dan minumannya yang terjatuh lalu merubah posisinya menjadi berdiri, Mecca pun mengikuti hal yang sama.
"Ka Davit Ecca minta maaf gak sengaja tabrak kakak tadi," cicit Mecca pelan.
"Mau ngapain lo disini? Mau cari cowok baru?" Tanya Davit. "Emang sakarang udah gak ada cowok yang suka sama lo?" Tambah Davit.
"Engg----"
"Kasihan!" Pungkas Davit memotong ucapan Mecca.
"Atau dulu lo pakai pelet ya biar semua cowok kejar-kejar lo? Gue baru sadar kenapa gue suka sama lo dulu, apa mungkin pelet lo udah habis ya?"
Mecca melotot mendengarnya, "Maksud ka Davit apa sih?Ecca gak ngerti?"
"Masih gak mau ngaku?"
"Omongan gue emang susah ya dimengerti, terlebih sama cewek murahan kayak lo," tandas Davit lalu pergi meninggalkan Mecca.
Mecca tersentak mendengarnya,jadi seperti ini rasanya di hina oleh mantan?
Kata siapa mantan, manis di ingatan. Kalo ini sih mantan, mulutnya lemes kebangetan!
Mecca masih terdiam di tempat, mengapa setiap kejadian yang ia alami belakang ini selalu membuatnya memikirkan ucapan Medina waktu itu?
Apa sumpah Medina benar-benar berjalan dan nyata adanya?
"Gak! Gak mungkin!" Mecca menggelengkan kepalanya mencoba mengalihkan fokusnya pada dunia nyata yang ada di hadapannya, bukan larut ke dalam dunia pemikirannya yang semakin tak terarah.
"Ecca kenapa sih? Kenapa juga mikirin Medina terus?"
"Tapi kalo beneran terjadi gimana?"
"Au ah Ecca pusing!!!"
Mecca meremas rok sekolahnya sambil menghembuskan nafas guna menetralkan sesuatu yang sedang bergejolak di dalam tubuhnya, ada rasa tidak percaya dan takut yang sedang berkecamuk di sana.
Karena misinya bisa bertemu di kantin dengan Mahesa gagal, lebih tepatnya gagal total ini mah. Mecca pun memutuskan kembali ke kelasnya di lantai satu.
Saat telah sampai di lantai satu dan melawati koridor-koridor. Macca tanpa sengaja lewat di depan Median dan Valyn yang duduk di kursi koridor.
"Lyn, lo tau gak? Yang katanya primadona sekarang jomblo. Ups! Jomblo!" Julid Medina saat Mecca melewatinya.
"Aduh! Kasihan, kemakan omongannya sendiri. Dasar cewe kutukan! Canda kutukan!!!" Tambah Valyn yang memberikan tatapan sangat meremehkan ke arah Mecca.
Mecca semakin meremas rok sekolahnya saat mendengar ejekan julid dua manusia itu.
Lihat saja nanti saat Mecca berhasil berpacaran dengan Mahesa!
Mecca merubah langkahnya menjadi berlari, serta merubah raut wajahnya yang tadinya masam menjadi ceria dalam hitungan detik saat melihat siluet seorang memasuki perpustakaan di ujung koridor.
Perubahan Mecca juga masih bisa Medina lihat, membuat gadis itu mengendus kesal karena Mecca terlihat sudah tidak kesal dengan ucapannya barusan.
Tanpa pikir panjang, dan banyak drama lagi. Mecca lalu menyusul masuk ke dalam ruangan perpustakaan. Tempat paling Kramat yang sangat jarang ia kunjungi selama ini, mungkin hanya terhitung dua atau tiga kali selama eman bulan ia bersekolah di Amerta, itupun karena ia di suruh meminjam buku paket dan nasib buku-buku itu sekarang berada di laci mejanya.
Kalian sama kayak Ecca juga gak? Suka tinggal buku pelajaran di laci meja?
Mecca menulis namanya serta bertanda tangan di buku absen pengunjung perpustakaan.
Dengan langkah kakinya yang terbilang kecil, Mecca mulai menelusuri lorong perpustakaan yang cukup banyak, serta panjang untuk mencari pangeran berkuda putih yang ia nantikan. Gak deh, canda. mana ada pangeran berkuda putih disini?
Dan ya! Mecca melihat di di sela buku yang ada di rak, dia berada di balik rak yang ada di hadapannya.
Dia adalah Mahesa.
Mau siapa lagi pangeran berkuda putih yang Mecca maksud selain Mahesa. Mahesa terlihat tengah memilih beberapa buku, Macca
bisa melihat itu meski posisi Mahesa memunggunginya.
Mecca menggigit ujung kuku-kuku tangannya, mengapa pesona Mahesa tidak ada habisnya seperti ini sih?
Dari sela buku, Mecca terpaku memandangi punggung gagah itu hingga....
Mahesa berbalik, menatap rak buku yang kini berada di depannya juga. Dengan secepat kilat, Mecca juga ikut berbalik sambil mengambil sebuah buku secara acak dengan gaya sok sibuk itu.
Aduh! Baru gini aja jantungnya sudah di buat tidak normal oleh Mahesa!!!!
"Ka Mahesa emang gak capek ya mempesona setiap saat? Jantung Ecca lama-lama gak sehat tau kalo gini terus!!!" Gumamnya pelan.
Mecca menormalkan detak jantungnya sambil meniup poni-poni pendeknya.
Setelah mendapatkan dua buku yang ia cari Mahesa memilih duduk di salah satu bangku di dekat jendela. Dan mulai membaca buku yang baru saja ia ambil.
"Ka Mahesa, Ecca boleh kan duduk di sini juga? Ini kan bangku umum jadi boleh dong?"
Suara itu, membuat Mahesa menutup matanya sebentar dan menjawab dengan deheman.
Mecca tersenyum menyengir sambil memperlihatkan deretan gigi putihnya lalu menarik sebuah kursi di depan Mahesa agar ia bisa duduk di depan cowok itu.
Bukanya fokus membaca Mecca justru menopang pipinya dengan tangan kanannya dan menikmati salah satu keindahan dari Allah yang tidak ada duanya.
Apalagi kalo bukan wajah serius Mahesa yang terfokus membaca buku membuat jantungnya semakin oleng! demage nya gak ngotak lagi!!!
"Ka Mahesa tau gak? Saat memandang wajah pria tampan itu baik untuk otak. Tapi gak baik buat jantung Ecca!!!"