MELEPAS UNTUK BAHAGIA

1204 Words

“Sebenarnya kalian membutuhkan itu, seseorang yang selalu ada di sisi—bukan sebagai teman bicara melainkan sebagai pendengar setia.” *** -ARSILA P.O.V- Sejak tadi aku diam saja di balkon kamarku dengan selimut yang menutupi hampir seluruh tubuhku. Hari sudah akan menenggelamkan mentari di ufuk barat tetapi kakakku tidak kunjung datang juga. “Ke mana dia sebenarnya?” gumamku ingin tahu. “Memangnya pulang ke rumah butuh waktu setengah hari? Ck, awas saja kalau dia pulang—” Aku berhenti bicara ketika melihat mobil Arnold tiba. Aku memperhatikan dari atas bagaimana kakakku itu turun tergesa dan berlari kecil dengan dua kantong kertas di tangan kanannya. Dalam hati aku berhitung, sampai kemudian di hitungan ke enam puluh dua, pintu kamarku diketuk beberapa kali sebelum si empunya masuk.

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD