BAB 7 : TAMU YANG TAK DIUNDANG

1222 Words
“Kok bisa Taka nulis surat wasiat kayak gitu?” tanya Chris heran. Sahabat lamanya, dan juga mantan sales manager perusahaannya Taka itu seharusnya pergi ke Bali menghadiri pesta pernikahan temannya. Tapi karena tidak tega melihat keadaan Rania yang begitu pilu, ia memilih menemani wanita itu melepas beban hidupnya di kelab malam. “Entah lah.. tapi yang jelas, Noah menyebutnya teman lama.” Chris berpikir keras, mencoba mengingat – ingat apakah Taka pernah menyebut nama Noah. Tapi sepertinya tidak. Jika pernah pun, semua orang yang bekerja dengannya pasti tahu. “Pasti ada rahasia di antara mereka berdua.” ucap Chris serius. Jari telunjuknya memegang dagu, agar menemukan jawaban yang mulai mengganggu pikirannya. “Taka itu pengusaha paling jujur, adil dan baik yang pernah aku kenal. Makanya dia nggak disukai pesaing – pesaing bisnisnya yang suka berbuat curang. Jadi siapa aja yang pernah jadi lawan bisnisnya punya alasan kuat membunuh Taka. Jika benar Noah yang membunuh Taka, ngapain Taka repot –repot nulis surat wasiat itu? Mereka nggak saling bermusuhan, kan?” “Iya bener.. kayaknya itu prasangkanya Marsya aja. Cowok itu terlalu lembut. Sikapnya nggak mencerminkan dia seorang pembunuh, apalagi mafia.” jelas Rania yakin. Diteguknya sebotol alkohol di hadapannya. Agar dirinya cepat mabuk. “Ahhh! Aku tahu!” Chris melonjak. Membuat Rania terhenyak seketika. Mata pria itu berbinar, seperti mendapatkan jawaban atas kebimbangan sahabatnya. “Kamu pernah bilang, sebelum Taka meninggal dia punya firasat buruk akan dibunuh, iya kan?” “Iyaa” Rania mengangguk yakin. “Mungkin ya, Taka nggak mau kamu depresi dan sedih sepeninggal dia. Makanya dia minta tolong sama Noah, temen lamanya, untuk menjaga kamu dan menggantikan dirinya sebagai suami kamu.” Rania bepikir sejenak. Pikiran itu tidak pernah terlintas di benaknya. Tapi yang jelas hatinya mulai yakin dengan apa yang dikatakan Chris. “Tapi mereka berdua jauh berbeda. Kalo niat Taka memang begitu, kenapa dia nggak mencari seseorang yang punya sifat yang sama dengan dirinya? Taka tahu persis aku menyukainya sejak awal karena dia pintar berbicara, ramah dan idealis. Nggak seperti Noah. Cowok itu terlalu pendiam.” “Ahhh.. pusing banget mikirin surat wasiat itu!” Rania mengacak – acak rambutnya secara asal, lalu membenamkan kepalanya di meja. Membuat Chris tersenyum tipis dengan tingkah aneh sahabatnya. “Ngomong –omong, Pak Mega lagi butuh sutradara untuk proyek film terbarunya.” “Oya?” spontan Rania mengangkat kepalanya lagi. Wajahnya menyala penuh semangat. “Tapi bayarannya nggak seberapa. Tahu sendiri kan? Kapoor Production pelit banget nge-gaji staf belakang layar. Giliran gaji artis, jor – joran banget ngeluarin duit. Nggak kayak house production- nya Taka. Siapa pun digaji berdasarkan keahliannya.” “Nggak apa –apa, aku lagi butuh duit sekarang buat kontrak rumah.” segera Rania mengeluarkan ponsel dan mencari kontak Pak Mega. “Kontrak rumah? Kenapa nggak balik ke rumahnya Noah? Kamu kan udah jadi istri sahnya.” tanya Chris. Alis tebalnya bertaut mendengar rencana Rania yang sedikit melantur. Mungkin karena pengaruh alkohol. “Itu hanya status di atas kertas aja.” ujar Rania singkat. Ditempelkannya ponsel hitam di telinga, segera setelah mengetuk kontak Pak Mega. “Terserah kamu, lah!” Tuuutt.. tuuuttt. Pak Mega belum juga mengangkat teleponnya. Ia membuang nafas sembari melihat sekeliling. Para pria dan wanita meliuk penuh hasrat mengikuti dentungan musik kelab. Namun tiba – tiba saja, ayunan tubuh mereka berangsur – angsur berhenti secara serentak saat rombongan orang berpakaian serba hitam memasuki kelab. Mereka saling berbisik dan menepi ketakutan saat gerombolan serba hitam itu melewati mereka. Rania memicingkan mata, berharap menemukan jawaban siapa gerangan gerombolan yang disegani pengunjung kelab itu? Tiba – tiba saja, matanya membelalak tak percaya, ponsel yang dipegangnya pun hampir jatuh, saat menyadari bahwa gerombolan serba hitam itu adalah laki – laki yang baru saja di bicarakannya beserta para ajudan setia. Dengan wajah dingin khasnya, Noah berjalan membelah lautan pengunjung kelab untuk menghampirinya. “Ayo pulang..” Noah meletakkan sekuntum tulip putih di meja samping Rania, lalu mengulurkan tangannya ke arah wanita itu. Membuat Chris melongo. Seperti itu kah cara mafia memperlakukan wanita? “Haloo.. Ran.. ada apa telepon malam – malam begini?” suara Pak Mega di seberang sana menyadarkannya yang masih terdiam terpaku. “Nanti saya hubungi lagi, Pak.” ujar Rania gemetar, segera ia menutup telepon dan menyimpan ponsel di tas. Matanya nanar melihat wajah Noah yang penuh harap menerima uluran tangan darinya “Pernikahan kita memang sah di mata hukum, tapi bukan berarti aku mau menganggapmu suami.” Lagi – lagi Noah meremas jemarinya, kepalanya tertunduk lesu. Namun, memang dasar wataknya yang pantang menyerah, ia meraih lengan Rania dan segera membawanya keluar kelab. “Lepaskan!” Rania memberontak. Tangannya mencoba mengusir tangan kekar Noah yang memegang lengannya sangat erat. “Ikut aku, atau ku hubungi Pak Mega agar kamu nggak bisa bergabung di proyeknya.” Noah membisikkan ancaman itu di telinga Rania. Membuat hatinya memanas seketika. “Aku nggak heran kenapa orang – orang memaggilmu mafia. Kamu menggunakan ancaman sebagai alat untuk mengendalikan orang lain!” segera Rania menepis kasar tangan Noah, lalu meneguk setengah gelas alkohol yang tersisa dengan nafas yang memburu. “Aku pergi dulu, Chris” Chris mengangguk pelan melihat Rania yang begitu kesal. Tanpa basa – basi, Rania melewati Noah dan berjalan keluar di tengah – tengah pengunjung kelab. Hatinya kesal, tapi mau bagaimana lagi? Surat wasiat itu benar – benar merenggut separuh hidupnya. *** Pavilion bergaya eropa klasik di kediaman Noah sudah dipenuhi oleh para tamu yang sedang menikmati makanan atau sekedar mengobrol asyik dengan para rekan bisnisnya. Ada juga para tamu yang baru berdatangan dengan pakaian terbaik mereka. Tak terkecuali Felo. Dengan mengenakan long dress merah berbelahan tinggi yang membentuk siluet tubuhnya yang sempurna, wanita itu menaiki tangga menuju pavilion dan sesekali memeriksa wajahnya di layar hp yang ia pegang. Di belakang Felo, Vanya mengikuti langkah Felo sembari berdecak kagum berkali – kali melihat kemewahan kediaman Noah. “Ya ampuun.. gede banget rumahnya! Pantesan mama kamu ngebet banget kamu nikah sama Noah.” ujar Vanya. Matanya masih sibuk mengagumi desain kediaman Noah yang begitu klasik, yang hanya dimiliki para orang kaya. “Iyaa, gede ternyata.” “Ohh jadi kamu belum pernah diajak ke sini?” tanya Vanya mendadak, membuat Felo menghentikan langkah dan membalikkan badan. “Meskipun gue nggak pernah di ajak kesini, yang penting gue pernah pacaran sama Noah.” jelas Felo ketus. Dagunya mendongak, menandakan keangkuhan yang tak terbantahkan. Sementara itu, Vanya hanya bisa memutar kedua bola matanya, seperti sudah terbiasa menghadapi sikap arogan sahabatnya. Tiba – tiba, mata gadis cerewet itu terpaku pada seorang laki – laki yang sedang berdiri di tengah aula sembari berbincang dengan seorang pria paruh baya. “Eh.. itu Noah bukan?” Vanya menunjuk ke arah lelaki yang berdiri jauh di belakang Felo, membuat wanita angkuh itu langsung membalikkan badan. Senyum tipis menungging di sudut bibirnya. Seperti seekor singa yang menemukan mangsanya, Felo langsung bergegas mendekati Noah tanpa berpamitan pada Vanya. Langkah kakinya yang ramping dibuat seanggun mungkin agar semua mata memandangnya. Dan usahanya sedikit berhasil. Namun, bukan pandangan kagum yang ia dapat. Tapi tatapan heran para tamu mengetahui kehadiran artis pendatang yang sebenarnya tak diundang. Noah yang mengetahui kedatangan Felo langsung ijin kepada rekan bisnisnya untuk mengakhiri percakapan dan mulai mendekati wanita itu dengan raut wajah jengah. “Kamu ngapain ke sini?” tanya Noah ketus, sesaat setelah Felo berdiri persis di hadapannya sembari memamerkan tubuhnya yang molek.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD