“Maksud Papa?!” tanya Jonathan datar. “Christ udah cerita semuanya,” sahut Handoko. “Papa nggak percaya kamu bisa nekat ngelakuin hal itu Jo.” “Itu bukan urusan Papa, jadi tolong jangan ikut campur!” sahut Jonathan datar. “Tetap jadi urusan Papa Jo, apalagi kalo kamu sampe berbuat di luar nalar.” “Kenapa baru sekarang Papa peduli sama yang saya lakuin?! Dulu-dulu kemana?!” sahut Jonathan pahit. Handoko mengembuskan napas panjang mendengar perkataan anaknya. Tanpa perlu diingatkan, dia tahu kalau sudah bersalah dengan menelantarkan Jonathan saat putranya sedang membutuhkan perhatian dan kasih sayangnya. Handoko tidak menyalahkan Jonathan jika menjadi seperti sekarang. Masa-masa yang mereka lalui bukanlah perjalanan yang mudah. Bukan hanya Jonathan yang terguncang, dirinya juga seperti

