38

3171 Words

Alya POV- Aku terus berdoa. Setiap selesai sholat, doa itu selalu kupanjatkan dan berharap semoga Allah mengabulkannya. Semakin lama, anemia sel sabit ini seolah sudah siap untuk membunuhku kapanpun mereka mau. Carolina terus memantau perkembanganku setiap harinya. Mengontrol jadwal makan, polanya, menunya, dan dosis obat yang ia beri ketika aku selesai memeriksakan diri. Obat yang harus kuminum pun rasanya sungguh menyiksa lidah. Mulai dari antibiotik, obat pereda nyeri atau OTC, dan HU atau Droxia Hydrea. Ia bilang akan mengunjungiku tiga bulan sekali. Cukup baik sebagai seorang dokter yang rela terbang bolak-balik Amerika-Indonesia. Saat aku menceritakan keluhan lainku kemarin, ia bilang komplikasi dari anemia ini mulai muncul. Namun ia belum bisa memastikannya, antara hipertensi pa

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD