Maniknya terbuka saat seberkas cahaya perlahan masuk melalui celah celah tirai kamarnya, ia menatap sekitar dan tersenyum sebagai rasa bersyukurnya atas tempat yang ia tinggali sekarang. Dengan segera ia membersihkan diri dan memakai setelan pakaian yang telah di sediakan oleh seseorang, seulas senyum manis terukir di sana, "Cantik," ungkap Tea sembari menenteng pakaian itu.
Dengan balutan jas putih panjang layaknya seorang kimiawan, Tea yang kini bersama dua orang penjaga tengah menuju ke ruang makan yang letaknya tidak jauh dari kamar tempatnya tidur. Lorong tempatnya berjalan tampak sepi dan sunyi, meskipun pagi telah tiba, tapi rasanya tetap seperti malam hari. Sepanjang kakinya melangkah hanya kegelapan yang ia lihat, lorong itu sama sekali tidak tersentuh oleh cahaya matahari, hanya ada beberapa lilin sebagai penanda jalan.
Sesekali Tea mengamati sekitarnya, melihat lebih dalam ukiran ukiran unik di sepanjang dinding, beberapa dinding berikutnya di hiasi dengan lukisan lukisan abstrak yang terkesan menyeramkan, di bagian lain bahkan ia menemukan beberapa fosil makhluk makhluk kecil seperti tikus, kalajengking, kepiting, ikan dan beberapa hal yang terlihat aneh. Si gadis bergidik ngeri membayangkan betapa mengerikannya rumah ini jika hanya di tempati satu orang saja.
Di depan pintu besar dengan desain rumit ia berdiri dan menunggu kedua orang di belakangnya untuk membukakannya. Sebuah senyum terukir saat maniknya kembali menatap sosok pemuda yang sangat penting untuknya, ia menghampiri pemuda itu dan duduk dihadapannya, "Selamat pagi, Valaria." ucap Zack sembari menunjukkan senyum tipis, Tea membalas dengan sambutan yang hangat, "Selamat pagi, Zack."
"Apa kau nyaman berada di sini?" Tea menatap sekitarnya yang mana beberapa pelayan masih sibuk menyiapkan makanan, "Cukup nyaman dibandingkan dengan Sezer Mansion," Zack tertawa kecil dan memandang kearah gadis bermanik biru itu, "Seharusnya kau tidak membencinya, darahmu berasal dari mereka." Tea mengendikkan bahunya tidak menanggapi ucapan dari Zack. Tampaknya ia lebih memilih menyantap makanan yang telah dihidangkan di depannya, pemuda bersurai pirang itu menatap sekilas Tea dan tersenyum sebelum akhirnya menyantap makanannya juga.
Dari samping Dich datang sembari membawa sebuah berkas yang ada ditangannya, ia memberikan wajah bahagia pada dua orang itu dan menempatkan diri di samping Zack, "Hai, selamat pagi untuk kalian berdua." ungkapnya, Dich menaruh barang yang ia bawa dan menatap beberapa makanan dihadapannya, "Makanan ini lagi? Ah, rasanya membosankan melihat dia terus menerus." gerutu pemuda bersurai hitam itu.
Zack melirik Dich dan kembali melanjutkan aktivitasnya, sedangkan Tea ia kemudian bertanya, "Ada apa dengan mereka?" tanyanya, pemuda bermanik abu tersebut menghela nafas dan menatap teman disebelahnya dengan pandangan kesal, "Ini makanan favorit Zack, hanya salad dan beberapa daging, itu mengerikan." ungkapnya, Tea menggeleng dan tertawa kecil, "Ayolah, Dich. Kau bisa memakannya, mereka memiliki rasa yang enak, aku rasa."
"Jangan mencoba berbohong padaku, Tea. Sudah lebih dari dua Minggu aku memakan makanan mengerikan ini, kau tahu sendiri Zack lebih mendapatkan perhatian dari para pelayan dibandingkan aku." kini tangannya meraih sendok dan menyuapkan sepotong daging kedalam mulutnya, rautnya aneh, benar benar aneh. "Aku lebih menyukai sandwich sebagai sarapan," balas Dich.
Beberapa menit berlalu, Zack kini menoleh kearah Dich yang masih terdiam sembari menatap tajam makanannya yang masih utuh. Pemuda bermanik hijau itu menaikkan sebelah alisnya, "Biar aku lihat." ujarnya dengan datar, Dich yang tidak mengerti pun menoleh dengan pandangan bingung, "Apa yang ingin kau lihat?" menghela nafas dan menunjuk pada dokumen yang disebelah Dich, paham, akhirnya pemuda itu mengambil dan memberikannya.
"Apa kau sudah selesai? Bisa ikut denganku sekarang, Val?" si gadis mendongak menatapnya dan mengangguk, ia bangkit, begitupula dengan Zack. Keduanya pergi meninggalkan Dich yang masih menggerutu tidak jelas, tangannya terangkat dan seorang pelayan datang, "Beritahu pada Otis untuk mengemasi barangnya malam ini juga, suratnya akan akan di kirim oleh Warren beberapa jam lagi." titah Dich, pelayan itu sempat terkejut dan menganggukkan kepalanya, "Baik, Tuan."
"Menyebalkan memiliki juru masak seperti dirinya." gumamnya, ia bangkit dan berjalan keluar, memilih untuk mengurus beberapa keperluan dari pada memikirkan masalah makanan.
Beralih pada Zack dan Tea saat ini, keduanya sama sama berada di dalam ruang serba putih itu dengan di kelilingi oleh berbagai macam peralatan canggih. Di tengah aktivitasnya, Tea berinisiatif untuk menanyakan satu hal yang menganggu pikirannya semenjak datang kemari, "Zack, apa kau tinggal bersama Dich selama ini?" hening, pemuda itu tidak menjawab pertanyaan, ia justru semakin sibuk dengan pekerjaannya.
Sampai akhirnya beberapa menit kemudian, "Ya, aku tinggal di sini, hanya dia yang aku punya saat ini." Tea mengerutkan keningnya, "Hanya dia? Maksudmu?" Zack menoleh sekilas dan melangkahkan kakinya menuju bagian lain, mengambil beberapa botol dan kembali di tempatnya, "Orangtuaku meninggal dunia saat aku masih kecil, lalu aku hidup bersama Pamanku," ia menjeda ucapannya dan menutup sebuah kotak dengan tikus kecil sebagai percobaannya lagi.
"Kebetulan Paman mengenal dekat Ayah Dich, keduanya bahkan terlihat sangat akrab. Itu kenapa aku dan Dich bersama sama sampai sekarang, Paman beberapa tahun terakhir sibuk dengan pekerjaannya dan menitipkan aku dengan keluarga Griden." lanjut Zack, Tea menganggukkan kepalanya dan menatap pemuda bersurai pirang itu yang masih sibuk.
Si gadis kemudian mengalihkan pandangannya, ia kembali fokus terhadap proyeknya walaupun ia sendiri tidak paham untuk apa semua ini. Tapi ini semua agar dirinya bisa kembali bersekolah dan terbebas dari kasusnya bersama Aerys. Jika kalian berpikir Tea terbebas dari tuntutan Nyonya Aerys, itu salah besar. Nyatanya ketika beberapa hari sebelum hari libur tiba, wanita itu kembali melakukan penghakiman secara hukum padanya, Tea menghela nafas saat teringat hari itu.
Flashback on. Siang yang cerah ketika gadis dengan kacamatanya tengah menyelesaikan lagunya yang terakhir untuk keperluan pentas kelulusan. Keheningan yang ia rasakan mendadak berubah saat sekelompok orang masuk ke dalam kelas yang sepi itu, Tea menoleh kearah mereka dan sedikit terkejut ketika menyadari sekelompok orang itu ternyata bagian dari keluarga Aerys.
Nyonya Aerys menatap sinis Tea, "Aku membawa pernyataan resmi untukmu, ikut bersama kami di ruang kepala sekolah, bagaimana?" si gadis menerima surat itu dan membukanya, rasa khawatir tersirat jelas di wajahnya, ia benar benar takut jika harus di keluarkan dengan tuduhan semacam ini. Karena tidak ada jawaban dari Tea akhirnya beberapa orang di belakang Nyonya Aerys beranjak dan menyeret gadis itu.
"Hei, hei!" si gadis meronta ronta meminta di lepaskan, tapi tentu saja mereka tidak menghiraukannya. Nyonya Aerys selaku seorang wanita yang bermartabat dan memiliki bagian penting di Atherty berjalan dengan anggun dan penuh keangkuhan. Seorang wanita dari arah berlawanan menghampiri mereka dan menatap heran, "Ada apa ini?" tanyanya.
Wanita berwajah sadis itu tersenyum miring dan menatap kearah Tea sekilas, "Memberikan sesuatu yang pantas untuk salah satu muridmu ini, Mrs. Eucharist." balasnya, Mrs. Eucharist mengapai tangan Tea dan memeluknya dengan erat, seolah takut kehilangan gadis kesayangannya itu, "Lakukan cara yang tepat Nyonya Aerys." ujar wanita bergaun serba kuning tersebut, ia menatap Tea dan memastikan jika gadis itu baik baik saja.
"Kau baik baik saja?" tanya Mrs. Eucharist, Tea masih menundukkan pandangannya dan mengangguk dengan sedikit kaku. Wanita bermarga Aerys itu kemudian menatap sinis kearah dua perempuan yang ada di depannya dan menghela nafas, "Sudah cukup dramanya? Jika sudah mari kita lanjutkan di ruang Kepala sekolah." ucap wanita itu dengan nada yang terkesan sinis dan tajam bagaikan pisau.
Di ruang Kepala sekolah dengan wajah santainya wanita dengan setelan formal itu memberika surat yang tadinya ada di genggaman Tea, "Aku ada alasan untuk megeluarkannya dari sekolah, jadi posisiku aman." ujar Nyonya Aerys dengan nada yang benar benar seperti pemimpin, Mohan bangkit dan menatap wanita itu dengan pandangan yang sedikit tajam, "Kau benar benar melakukan ini, Civvyn?" tanya si pria.
Civvyn Aerys menarik sudut bibirnya dengan terpaksa, "Mengapa tidak? Aku sama sekali tidak menyukai gadis hina ini, dia sama sekali tidak pantas bersekolah di Atherty High School." tegasnya, ia memandanga Tea yang masih menunduk di tempatnya duduk, "Aku memiliki bukti tersendiri, dia memang melakukan pembunuhan itu, dia membuat racunnya sendiri dan memaksa Flysi untuk menelannya." lanjut Nyonya Civvyn Aerys dengan tatapan licik.
Tea kini hanya bisa menerimanya tanpa ada perlawanan, ia tahu jika perlawanannya hanya akan sia sia saja. Lagipula Tea pun paham akan kedudukan keluarga Aerys yang masih berkuasa atas Atherty karena sumbangannya yang besar, ia mengerti jika dia hanya gadis upik abu yang salah mendapatkan sekolah. Si gadis berkali kali memohon dalam benaknya agar bisa terbebas walaupun itu tidak mungkin.
Mr. Mezlher baru saja datang bersama guru lain, ia menatap mereka semua dengan pandangan terkejut, "Mr. Mohan, aku sangat tidak menyetujui hal ini, ini keterlaluan, tidak ada bukti yang benar benar kuat atas tuduhan ini." wanita itu berjalan mendekat dan menatap Civvyn yang masih mengangkat wajahnya tinggi tinggi, "Tanpa adanya bukti aku bahkan dengan mudah menendang gadis itu dari sini, ingat selalu jika Atherty berdiri karena bantuan keluarga kami."
Wanita yang menjabat sebagai guru BK itu menggelengkan kepalanya tidak percaya, "Jangan menyalahgunakan kekuasaan hanya untuk kepentingan pribadi, Istri Aerys." tukasnya, kini ia menatap pria yang berada di balik meja kekuasaannya itu, "Anda seharusnya bisa memberikan jalan terbaik terkait masalah ini, Mr. Mohan." pria itu hanya diam dan menundukkan kepalanya.
Ia menatap sendu kearah Tea yang sudah berlinang air mata, "Maafkan aku, aku tidak bisa lagi memberikan keputusan itu." ucapnya dengan nada lirih, Mrs. Mezlher dan guru lainnya pun menggeleng tidak setuju. Seorang pria dengan wajah dinginya mulai membuka suara terkait hal ini, "Kita bisa memberikan waktu untuk Latea menyiapkan sekolah barunya," sahut Mr. Trent sembari menatap sekilas kearah Tea.
Guru dengan pakaian ketatnya ikut mengangguk dan membuka suara, "Ya, aku rasa memang benar keputusan ini, dia tidak pantas di kelasku dan aku sama sekali tidak menyukai hal ini." suara itu berasal dari sosok wanita yang menjabat sebagai guru Biologi, Ms. Vanessa. Sebuah kebencian tergambar jelas di setiap sorotnya terhadapa Tea.
Seluruh pasang mata kini tertuju pada pria dengan jabatan paling tinggi di sekolah, ia memantapkan hati dan menghela nafas sebagai pemulaan. Di tatapnya seluruh orang yang hadir dalam ruangan itu, hingga manik cokelatnya tertumpu pada gadis yang sedari tadi menahan tangis, "Latea Valaria Quinnzel... akan di keluarkan dari Atherty High School saat ini juga." ia menutup matanya sejenak, Tea menggeleng tak percaya.
"Untuk beberapa hari terakhir aku memberimu kesempatan berada di sini, persiapkan sekolah barumu sebelum semester berikutnya di mulai." lanjut Mohan, tersirat rasa bersalah yang amat dalam di matanya, ia hanya bisa menahan segala macam kesedihan di balik wajah tegasnya. Bagaimanapun, Tea adalah gadis yang pintar dan selalu menjadi kebanggaan Atherty.
Setelah keputusan itu keluar akhirnya si gadis bermanik biru itu bangkit dari duduknya dan menatap Nyonya Aerys dengan pandangan tajam, tampaknya sorot tajam dari Tea tidak ada apa apanya bagi wanita yang haus akan kekuasaan itu. Tea mengalihkan pandangannya pada Mohan, "Anda akan menyesalinya, kalian semua." ucapnya dengan sangat lirih.
Ia berlari pergi, meninggalkan ruangan itu dengan tangis yang sudah tidak lagi bisa ia bendung, air matanya jatuh seiring langkahnya. Tangannya sesekali menghapus air matanya yang memburamkan pandangan, sampainya di kelas segera ia mengambil tasnya dan berlalu pergi.
Namun, langkahnya kembali terhenti saat seorang gadis yang begitu ia benci berdiri di depannya dengan senyum sinis dan puas, "Selamat atas kepergianmu, b***h!" Tea tidak menghiraukannya dengan berlalu pergi, tapi kembali lagi langkah itu terhenti saat suara Luvena kembali terdengar, "Aku harap kau tidak pernah mendapatkan sekolah, karena kau hanya pantas menjadi seorang jalang yang tidur di jalanan!" di tatapnya gadis itu dengan tajam.
Tea mendekat dan memandang lekat manik cokelat yang licik itu, "Tubuh seorang jalang yang sesungguhnya kelak akan tergeletak di depan pintu ini, ingat itu baik baik." bisik Tea, ia berlalu pergi meninggalkan tatapan penuh amarah dari Luvena.
Kini kilasan itu membuat Tea kembali pada keadaannya saat ini, Zack yang sedari tidak mendapat respon dari gadis itu membuatnya berinisiatif menghampiri Tea, "Kenapa? Adakah sesuatu yang menganggu pikiranmu?" tanyanya saat sadar akan raut sedih dari si gadis, "Hei, hei. Apa yang membuatmu seperti ini?" Zack memeluknya, menengkan gadis berkacamata itu.
"Aku telah di keluarkan, Zack. Mereka melakukannya beberapa hari sebelum hari libur tiba." Zack melepaskan pelukannya, tangannya menyentuh kedua bahu Tea, tatapan dinginya menatap lekat manik biru si gadis, "Ini sebabnya kau membutuhkan diriku?" si gadis menganggukan kepalanya, "Aku tidak tahu harus membicarakan hal ini pada siapa."
Zack tersenyum tipis dan membuka suaranya kembali, "Tentu aku dan Dich akan membantumu kembali, kau tidak perlu khawatir soal ini." ucapnya berusaha menyakinkan, Tea menatap manik penuh keyakinan dari Zack, ia mengukir sebuah senyum di wajah cantiknya, "Aku akan melakukan apapun sebagai bentuk balasan," ungkapnya sembari memeluk erat pemuda bersurai pirang tersebut.
***
Bulan tertutup awan pekat, udara dingin menusuk kedalam kulit bagian terdalam, hewan hewan bersembunyi di dalam hunian mereka, api menyala untuk menghangatkan tubuh setiap manusia, televisi menjadi tontonan yang wajib di tengah dinginya malam. Seorang gadis dengan dress hitamnya berjalan di tengah lorong gelap, lembab dan dingin tersebut. Manik birunya menatap sekitar, mengawasi setiap sudut ruang yang sangat mengerikkan.
Tujuannya malam ini adalah menemukan perpustakan di dalam rumah yang sangat gelap ini, langkahnya membawa si gadis lebih jauh dari kamarnya, telapak kaki itu terbalut kaos kaki bergambar beruang dengan sandal rumahan yang nyaman. Menghidarkan si gadis dari dinginya lantai di rumah ini, "Sungguh, aku tidak menyangka tinggal di rumah seperti ini." gumamnya di tengah kesunyian malam.
"Permisi, Nona." si gadis tersentak kaget, ia menoleh, bola matanya itu hampir keluar sangking takutnya. Di depannya berdiri seorang pria dengan setelan rapi, tangannya membawa sebuah buku semacam journal, tatapan ramahnya tertuju pada Tea. Si gadis membalas senyum kaku, "Kau ... aku membutuhkan bantuan untuk menemukan perpustakaan." ucapnya.
Pria berbadan kurus dan tinggi itu tersenyum dan mempersilakan Tea untuk berjalan terlebih dahulu, "Akan aku tunjukkan padamu, Nona." keduanya kembali melangkah, beberapa belokan telah di lalui, hingga sebuah ruang dengan pintu besar kedua berhenti. Tea menatap sekilas pria itu, "Aku hanya akan mengantarmu sampai sini, jika ada keperluan lain silakan beritahu aku melalui RCI." ujar pria itu, segera ia pergi sesaat Tea ingin menanyakan satu hal.
Tea menghela nafas kesal dan mambalikkan tubuhnya untuk menyusuri ruang yang benar benar gelap tersebut, manik birunya sibuk mencari tombol lampu dan akhirnya ketemu. Ia menekannya dan ... jeng! Di luar dugaan, ruang perpustakaan ini benar benar menakjubkan dan mewah. Si gadis tersenyum lebar, ia menatap sekitar, rak rak berukuran besar tersusun rapi dengan model yang benar benar unik dan memiliki corak kuno yang elegan.
Perlahan demi perlahan kakinya menapak di lantai bercorak kayu, ia masih kagum, bahkan lebih kagum saat melihat betapa banyaknya buku yang bisa ia baca di dalam sini. Mungkin di bandingkan dengan perpustakaan kota, tempat ini hampir sama, sama sama besar dan luas. Tangga penghubung antara rak bawah dan rak atas ia naiki, tangannya menyentuh buku buku yang tersusun rapi di sana, "Amazing!" ucapnya.
Nampaknya setelah kekaguman itu, si gadis kini sudah fokus pada sebuah buku yang ada dihadapannya. Di depan perapian dengan tungku besar dan berpola rumit itu si gadis duduk dengan sangat santainya, maniknya terus saja fokus pada bacaan yang ada di tangannya, sesekali ia menyeduh teh yang entah bagaimana bisa telah tersedia di sana. Jadi, di dalam perpustakaan itu ada sebuah alat pembuat teh dan kopi dengan sangat mudah, tinggal menekan tombol dan menunggu beberapa menit sampai akhirnya teh siap untuk di seduh.
Sempat si gadis merasa kesepian karena malam yang benar benar sunyi dan dingin, ada rasa takut yang menyerang hatinya, tapi sebisa mungkin ia tenangkan diri. Tampaknya ia lebih fokus pada buku kimia yang ada di pangkuannya, manik itu tidak henti hentinya bergerak ke kanan dan kiri untuk mencari beberapa informasi tambahan yang ia perlukan.
Karena ada beberapa yang ia temukan akhirnya dengan sangat senang si gadis menututp buku dan bangkit dari duduknya, mengamati sekitar dan menemukan ide untuk mencari beberapa novel yang akan ia baca di kamarnya malam ini. Kembali ia membawa buku yang ia pinjam tadi dan hendak mengembalikannya, sebelum sebuah suara benda jatuh terdengar, ia menoleh dan mendapati sebuah buku dan dokumen jatuh berserakan di sana.
Tea menghela nafas dan menaruh buku yang ada di tangannya di atas meja, ia menekuk lututnya, meraih satu persatu lembaran yang berserakan di lantai. Fokusnya pecah saat manik biru itu tanpa sengaja melihat sebuah kata yang tampak familiar, ia kembali mengambilnya. Sebuah judul tercetak tebal di atas kertas tersebut, "The Raltfoy Family?" tanyanya dengan kening berkerut, "Mengapa Zack masih membahas soal ini? Ah ... aku hampir lupa jika keluarga Dich pernah berkerja untuk keluarga mafia ini." ia menepuk dahinya.
Tapi entah kenapa ia kembali menemukan sebuah kata yang aneh, di tatapnya kertas kertas itu dan memahami lebih. Rangkaian kata membentuk kalimat panjang yang mendiskripsikan jelas tentang seseorang, terlebih sebuah foto terpampang di atas sana, "Foto Zack? Ya, ini benar benar Zack." gumamnya saat menyadari foto personal yang di sampingnya terdapat biodata.
Dengan sangat jelas biodata itu tercetak, Tea sempat melotot kaget saat membacanya. Nama yang tertulis di sana sangatlah berbeda dengan nama Zack yang ia ketahui selama ini. Sebuah nama dengan sangat jelas dan tebal, Zack Arthas Raltfoy. Ya, nama itu tertulis di samping foto pemuda bermanik hijau yang selama ini ia kenal. Si gadis menggelengkan kepalanya tidak mengerti, "Selama ini... selama ini kau adalah bagian dari keluarga ini, Zack?"
Sudah jelas jika kertas ini asli ketika ia sadar dengan beberapa informasi terkait. Zack Arthas Raltfoy, putra satu satunya Arthur dan Zalira Raltfoy. Keturunan langsung dari darah murni Raltfoy family. Dan satu satunya anggota keluarga yang kini mewarisi tahta keluarganya. Di bagian bawah sana tertanda tangan nama Zack dan nama seseorang yang ia yakini sebagai bentuk kesaksian dari penyataan resmi ini.
Si gadis bangkit dan membawanya, bahkan ia dapat membaca dengan jelas judul buku tebal yang sempat ia jatuhkan tadi, "The Raltfoy Book; New era of Antraxs. " sungguh, Tea dibuat terkejut bukan main, selama ini sosok yang selalu menjadi pujaan hatinya ternyata adalah... bagian bahkan secara langsung memiliki aliran darah dari Raltfoy.
Tidak ingin mengulur waktu si gadis bergegas keluar dari perpustakaan dan ingin menanyakan hal ini langsung pada pemuda itu, dari arah berlawanan seorang pemuda bersurai hitam datang dengan senyum mengembang, mendadak senyumnya hilang saat menyadari raut serius dari Tea. Dich mengernyit heran, "Tea?" panggilnya, si gadis sama sekali tidak menyahut, jangankan menyahut, Tea bahkan tidak menoleh sama sekali.
Menyadari sesuatu yang aneh Dich segera mengikutinya, ya sekadar mengikuti tanpa menghentikan. Karena Dich sendiri masih penasaran, hal apa yang membuat gadis bermanik biru itu sampai terlihat marah seperti ini, sampai baru ia sadari sebuah buku yang ada di tangan Tea. Dich menepuk dahinya, "Oh, s**t!" umpat pemuda bermanik abu itu, ia masih memikirkan apa yang akan ia jelaskan pasal ini.
Beberapa detik berpikir, pada akhirnya Dich memilih mengejar Tea yang sudah menghilang dari balik tembok. Siapa tahu pemuda itu bisa menjelskan dan menghentikan si gadis untuk menemui Zack. Namun, rasanya sia sia saat Tea baru saja sampai di depan pintu kamar Zack, Dich meruntuki dirinya yang lalai dalam menaruh berkas penting itu.
Karena yang ada di pikiran Dich saat itu adalah, Tea tidak mungkin mau mencari perpustakaan, terlebih keadaan rumahnya yang memang gelap dan mengerikan. Pemuda bersurai hitam itu akhirnya memutuskan untuk ikut serta di dalam kekacauan yang mungkin beberapa saat lagi akan terjadi.
VZ- seri pertama