Malaikat Hitam; 19

2205 Words
Sore ini, cuaca tampak sangat indah dengan pemandangan senja yang begitu menawan. Valaria, gadis itu tengah menikmati secangkir teh dengan beberapa cemilan yang ada di sebelahnya, maniknya masih tertuju pada burung burung yang berterbangan di dahan pohon silih berganti. Tiba tiba saja ketenangan itu berubah saat seorang pria dengan setelan yang sangat rapi datang dan memberikan senyum menenangkan, "Selamat sore, Valaria."  "Selamat sore, Hans." balasnya, pria itu mengambil tempat duduk di sebelah si gadis dan mengambil cookies yang ada di sebelahnya, "Menikmati sore, kegiatan yang menyenangkan, bukan?" Valaria menoleh sekilas, menyeduh tehnya dengan sangat elegan dan manis. Ia meletakkan cangkir itu kembali ke tempat semula dan membuka suara, "Yeah, aku tahu itu kegiatan yang di sukai banyak orang," Hans menyibakkan jasnya, mengambil sebuah pistol yang terselip di sana. Mengambilnya dan mengulurkan senjata api itu pada gadis di sebelahnya, Valaria yang mengerti akan hal itu segera menerimanya dan mengarahkan pistol tersebut pada burung yang hinggap di salah satu ranting pohon. Senyumnya terukir jelas, ia dengan cepat menarik pelatuk dan... meleset! Sayang sekali. "Gagal lagi, huh?" ia menggelengkan kepalanya tidak percaya, kemuidian meminta kembali senjatanya, Valaria mengerucutkan bibirnya, lagi lagi ia menutupi rasa kesal itu dengan menyeduh teh hijau miliknya. Keduanya sempat hening beberapa menit, tapi tidak lama setelah itu Hans kembali membuka suara dengan berucap, "Bagaimana perasaanmu mengetahui siapa kami?" tanya pria berusia sekitar 30 tahunan tersebut. Mendapat pertanyaan semacam itu membuat Valaria menoleh dan terdiam sejenak, "Mengesankan, yang lebih mengerikannya aku duduk bersama seorang pembunuh berantai yang selama ini dianggap telah mati." Hans tersenyum, ia mengambil cemilan di sampingnya dan memasukkan makanan itu kedalam mulutnya. Sempat ia tertawa, "Aku tidak akan membunuh siapapun jika memang tidak diperlukan." ungkapnya sembari memandang pemandangan hijau yang ada tersuguh di depan mereka. "Lalu? Death day yang sampai saat ini masih dibicarakan?" tanya si gadis, ia menunggu jawaban dengan menolehkan kepalanya, menatap lebih dalam manik hijau yang lebih gelap dari milik Zack. "Ah, itu sepertinya hanya kesalahan, aku terlalu terobsesi dengan teriakan korban. Aku mengaku jika p*********n itu aku lakukan, tapi sebenarnya bukan itu tujuanku." jelasnya dengan begitu serius. Valaria terus menunggu jawaban lebih lanjut dari pria di sampingnya, Hans pun kembali membuka suara, "Tujuanku ke Fudson sebenarnya untuk membunuh para bawahan dan semua yang berkaitan dengan Black Hold, banyak yang mengira aku membunuh tanpa alasan yang jelas." tuturnya, "Tapi memang itu yang aku lakukan, setelah bawahan Black Hold mati, aku memang membunuh beberapa orang yang tidak pantas hidup." ia kembali memakan cookies yang ada di sebelahnya. "Para sampah yang tinggal di pinggiran kota, orang yang menyia-nyiakan hidupnya, wanita yang sibuk mencari kepuasan dan para tikus berdasi." Valaria menganggukkan kepalanya, "Aku lebih suka yang terakhir, itu sebuah kebanggaan tersendiri untuk membunuh tikus yang suka memakan uang." timpal Valaria, tampak sekali pembicaraan mereka memang terkesan menyatu, keduanya memiliki pandangan yang sama terkait kehidupan di kota yang menyeramkan ini, uh, lebih tepatnya negara mereka, Alyssum. Hans tertawa kecil, tawa berat yang sangat candu, "Ya, tapi aku tidak akan pernah mendapatkan embel embel pahlawan, mereka justru memberikan gelar yang lebih tinggi dari itu, seperti "pembunuh berdarah dingin?" Atau "pembunuh berantai?" aku tidak pernah berharap mendapatkan keduanya, jika memilih mungkin lebih ke arah orang yang tidak waras dengan teka teki rumit?" ia membentuk lengkungan di bibirnya. Valaria mengendikkan bahunya dan mengeluarkan suara tawa, "Ya, sosiopat." pungkas si gadis. Kini keduanya sibuk dengan pemikiran masing masing, si gadis yang masih memikirkan bagaimana caranya untuk keluar dan pria bermarga Raltfoy yang masih memikirkan cara untuk mendapatkan korban selanjutnya. Hingga keheningan itu terpecahkan oleh kedatangan seseorang dengan setelan rapi, sebuah lencana bersimbol A terpasang di bagian kanan dadanya. "Ada pesan untuk anda, Nona." ujarnya sembari memberikan sebuah benda persegi panjang yang selalu dibutuhkan para manusia, Valaria menerimanya dan menatap layar ponsel yang kini menampakkan sebuah pesan dari seorang gadis yang ia kenal, "Anantha? Ada apa dengannya?" ia mengerutkan keningnya heran. Di sana tertera langsung pesan yang tersampaikan dari Anantha, gadis itu menuliskan pesan agar Valaria mau menemuinya hari ini, di sebuah taman dekat dengan Gacfen's Store. Si gadis memberikan kembali benda itu pada pria tadi dan bangkit, ia menatap sekilas Hans yang kini ikut menatap kearahnya, "Kita bisa melanjutkan pembicaraan ini di lain waktu, pendapatmu sangat berarti bagiku." tandasnya sebelum akhirnya si gadis melangkah pergi tanpa menunggu balasan dari Hans. *** Sepatu boots hitam dengan heels yang tidak terlalu tinggi terlihat di kenakan oleh seorang gadis bersurai cokelat yang tergerai, setelan serba hitam yang ia kenakan menambah kesan misterius dalam dirinya. Senyumnya menjadi teman di setiap langkah, kini tujuannya hanya satu, menemui seseorang yang menjadi tumpuan dalam hidupnya dan tentu saja meminta izin atas kepergiannya sebentar lagi.  Pintu terbuka lebar, menandakan untuknya melangkah lebih dalam, kini manik biru itu tertuju langsung pada sosok yang tengah disibukkan dengan beberapa dokumen yang ada dihadapannya. Ketika si gadis masuk, dengan insting kuat ia menoleh, menatap gadisnya masih dengan raut dingin, "Apa yang membuatmu kemari?" tanyanya langsung pada inti, ditutupnya dokumen yang ada di depannya, menunggu jawaban dari si gadis yang kini melangkah lebih dekat. "Anantha, ia memintaku untuk menemuinya." Valaria kini berada di belakang pemuda bersurai pirang tersebut, memainkan rambut yang menjadi ciri khasnya. Sesekali bahkan ia bentuk menjadi beberapa bagian yang hanya gadis itu pahami, Zack menarik tangan Valaria untuk menghentikan aksinya, "Aku beri waktu 1 jam untukmu, 10 menit perjalanan dan 1 jam untuk berbicara padanya." Valaria tentu saja tidak yakin dengan ucapan dari Zack barusan. Ia memeluknya dari belakang, mengalungkan tangan itu di leher Zack, "Apa yang akan aku lakukan dalam waktu 1 jam? Bahkan cokelat panas akan tersaji setelah 10 menit." pemuda itu melirik Valaria yang masih berada dalam posisinya, "Masih tersisa 50 menit untuk sekadar menyapa dan berbincang santai." si gadis melepaskan tangannya dari leher pemuda itu dan melangkah keluar untuk pergi, rautnya masih terlihat kesal karena ucapan Zack. Bersama dengan itu Zack kembali membuka suaranya, "Dich akan bersamamu, aku berikan 30 menit sebagai bonus atas perhatianmu, Valaria." mendengar itu sempat membuat si gadis menoleh dan menatap tidak percaya, "Aku pikir itu bukan candaan, Zack." pemuda bermanik hijau tersebut menggeleng pelan dan tersenyum tipis. Sedetik berikutnya, Valaria tersenyum penuh bahagia, senyum lebarnya terlihat begitu jelas, segera saja ia berlalu pergi meninggalkan ruang megah milik pemuda itu. Senandung kecil mengiringi langkah di setiap inci, kini manik itu memancarkan cahaya kebahagiaan di tengah lorong gelap milik Griden House. Sesampainya di halaman depan segera ia menghampiri Dich yang telah menunggunya, "Hai, Dich." sapa Valaria, pemuda itu membalas dengan anggukan singkat dan seulas senyum. Mobil mereka melaju, membelah jalanan sore yang sepi. Asal kalian tahu saja, rumah Dich terletak di pinggir jalan sepi yang hanya di lewati truk pengangkut minyak yang datang dan pergi setiap dua bulan sekali, alhasil karena itulah tempat ini cukup sepi. Jalur ini pun tidak terlalu di kenal banyak orang, ini hanya sebuah jalan yang muat dua mobil, tidak terlalu lebar, tapi cukup. Sebab itu juga, mereka mengira jalan ini hanya khusus truk pengangkut minyak saja. Setelah sekian lama mobil mereka melaju, kini mobil hitam mengkilap itu berhenti tepat di pinggir jalanan dekat dengan taman kota. Valaria turun, begitu juga dengan Dich. Keduanya sama sama memandang satu sama lain, si gadis kemudian mengalihkan fokusnya dan sibuk mencari orang yang harus ia temui saat ini, "Ahh, di sana rupanya." ia menoleh sekilas pada Dich dan melangkah pergi untuk menghampiri sosok gadis yang tengah duduk tidak jauh darinya. "Hai, Anantha." sapa si gadis ketika berada tepat dihadapan Anantha, sontak gadis itu bangkit dari duduknya dan menatap penuh curiga pada Valaria, "Tea?" gumamnya dengan mata yang masih terbuka lebar, gadis bersurai cokelat itu menggeleng pelan dan tertawa, "Valaria, aku Valaria Quinnzel, bukan Tea." ujarnya masih dengan senyum mengembang bagaikan roti yang baru saja di masukkan ke dalam oven. Anantha masih menatapnya tidak percaya, ia memandang dari atas sampai bawah penampilan gadis yang ia kenal dulu, "Kenapa?" tanya Valaria bingung dengan apa yang dilakukan Anantha sekarang, "Aku hanya..." gadis itu menghentikan ucapannya, menghirup nafas dalam dalam dan menghembuskannya, "Lupakan." tandasnya pada akhirnya. Gadis itu, Anantha kemudian menarik tangan Valaria untuk duduk di sampingnnya, "Kau datang bersama siapa?"  Gadis bermanik biru itu mengalihkan pandangan ke belakang, menatap sosok pemuda yang datang bersamanya, "Dich, aku bersamanya." balas Valaria kemudian, "Ya, dia menceritakan semuanya, termasuk tempatmu tinggal sekarang." ungkap Anantha, ia kemudian menghadap langsung Valaria, mengenggam tangannya erat dan menatap sendu manik biru milik sahabatnya itu. "Mengapa kau tidak pernah menceritakan tentang ini padaku? Aku bisa membuatmu tinggal bersamaku, kau tidak perlu membuat perjanjian dengannya." Valaria menundukkan pandangannya, meresapi setiap kata yang di ucapkan Anantha, "Itu keputusanku, aku yang memilih takdirku, sekarang tidak ada penyesalan yang datang." gadis itu menatap dirinya, "Sekarang aku bisa melakukan apapun yang aku mau, aku bisa membuat dan merusak semuanya, tidak akan ada lagi hinaan yang aku terima, aku telah terikat." jelasnya. Valaria mendongak dan menatap Anantha, keduanya sama sama hening dalam pemikiran mereka, perdebatan itu sulit untuk dilakukan, "Aku mencintainya, aku melakukan semua demi cinta, tidak ada yang memaksaku dalam hal ini." lanjut Valaria setelah beberapa detik keheningan menyelimuti, Anantha memalingkan wajahnya dan menutup matanya sejenak, "Cinta? Apakah merubah dan menyakiti seseorang itu adalah cinta? Kau bisa berpikir, Zack hanya memanfaatkan dirimu, Tea." pungkas Anantha yang mengunakan nada lebih dingin. Gadis itu mendongak, menatap heran pada gadis yang tengah menatapnya dengan pandangan mengebu ngebu. Valaria menggeleng pelan, "Aku tahu dalam pikiranmu itu Zack selalu salah, aku tahu kau sangat membenci dirinya, kau selalu melihat dia di sisi negatif, pernahkah kau mengubah pandanganmu itu?!" Anantha menahan semua emosinya, ia memejamkan matanya sejenak sebelum menyadarkan sosok gadis yang menjadi sahabatnya selama ini, "Aku tahu, aku selalu mencurigainya, tapi Tea..." "Tea is dead." potong Valaria dengan tegas dan jelas, kembali lagi hal itu membuat Anantha sadar, "Ya, Valaria. Aku tahu, aku selalu mencurigainya, tapi semua itu demi kau, ada alasan kenapa aku membecinya. Dia terlalu misterius, dia pemuda yang aneh, dia bukanlah sosok yang pantas mendapatkan dirimu." Valaria bangkit dari duduknya dan beradu pandang dengan Anantha. Keduanya sama sama diam, hanya tatapan tajam yang terlontar dari mereka, "Mengapa kau selalu mengekangku? Bagaimana jika aku mengatakan Dich adalah pemuda aneh dan buruk, kau juga akan marah, bukan?!" gadis bermanik abu itu terdiam, tidak lagi bisa mengucapkan apapun. "Jangan pernah mengucapkan apapun tentang seseorang, jika kau belum mengenalnya lebih dekat, Anantha. Aku selalu menghargai keputusan dan ucapanmu, tapi kenapa kau tidak pernah menghargai pilihanku?" Anantha menunduk, menahan air matanya agar tidak tumpah, "Maafkan aku jika yang aku lakukan membuatmu kesulitan, tapi tolong dengarkan..." Valaria mengangkat tangannya ke depan, menghentikan ucapan Anantha, "Apa yang akan kau ucapkan tidak akan pernah lagi aku dengar, jadi pikirkan sekali lagi, apakah sebaiknya membuka suara atau terdiam." tandasnya sebelum akhirnya memilih berbalik dan pergi disertai air mata yang menetes.  Ia berjalan pergi menuju kearah mobil mewah berwarna biru milik Dich, menyadari akan hal itu, Dich bergegas turun dengan tatapan heran. Menyadari Dich akan melihatnya, si gadis segera menghapus air matanya dan menunjukkan raut bahagia, "Valaria, ada apa denganmu?" tanya pemuda bersurai hitam tersebut, tangannya menyentuh pundak si gadis dan meminta penjelasan lebih lanjut, "Apa? Aku rasa harus pulang sekarang sebelum waktunya habis, pertemuan yang sangat menganggumkan." ungkapnya dengan senyum lebar yang menyimpan luka. Merasa ada yang aneh, Dich akhirnya mengangguk saja dan mengisyaratkan Valaria untuk naik, "Aku akan menemuinya terlebih dahulu, baik?" Valaria dengan senang hati mengangguk, "Ya, temui kekasihmu itu, aku akan menunggu di sini." ucapnya. Dich segera pergi dan menghampiri Anantha yang masih berada di tempatnya dengan... menangis? Segera ia menghampiri, "Anantha," lirih Dich tak kala berada tepat dihadapan si gadis. Mendadak Anantha menoleh dan menghapus air matanya, menyembunyikan raut kesedihan yang terpancar, "Hai, Dich." sapa si gadis dengan memberikan senyum semanis mungkin. Dich mengambil tempat di samping Anantha, menatapnya dengan penuh kasih sayang yang amat sangat tulus, "Kalian mengawali ini dengan pertengkaran?"  Menggeleng dan tersenyum, "Tidak, kami berbicara sebaik mungkin, aku tahu jika sekarang dia bukan lagi Tea yang kita kenal." ia menunduk sejenak, kemudian di tatapnya manik yang persis seperti miliknya, "Aku hanya berusaha membebaskannya, rasanya sulit menerima kenyataan yang menyakitkan. Walaupun aku tahu jika dia terlihat lebih berani." lanjut si gadis, "Maafkan aku," hanya itu yang mampu di ucapkan sang pemuda pada gadisnya. "Tidak masalah, aku tahu kau berada dalam posisi yang berat, aku paham." tangannya terangkat, menyentuh pipi Dich dan membelainya dengan lembut, Dich menatap mata indah milik gadis di depannya, sangat menenangkan. "Kau masih mempedulikanku, Anantha." gadis itu tersenyum kecil, "Karena aku mencintaimu, Dich. Aku sangat mencintaimu." ungkapnya, seakan nada itu terdengar sangat dalam, bahkan nada paling dalam yang berasal dari lubuk hati. Anantha mengenggam tangan Dich dan menatapnya, "Aku ingin meminta tolong padamu," ungkap gadis bersurai hitam, tanpa menjawab Dich hanya menunggu ucapan selanjutnya dari si gadis, "Jaga dia, Dich" Anantha menoleh ke arah dimana Valaria sedang duduk diam di dalam mobil. Pemuda itu tentu saja mengangguk, "Kau bisa percayakan ini pada aku dan Zack." balas Dich, "Aku masih tidak mempercayai pemuda itu." Dich kemudian memeluk Anantha, mendekapnya lebih dalam, "Percayalah, dia akan menjaga Valaria dengan baik." di dalam pelukan itu si gadis masih menggeleng pelan, "Inikah sebab kalian bertengkar?" lirih Dich.  Akhirnya pertemuan mereka berakhir dengan kepergian Dich, ia berpamitan pada Anantha dan segera pulang. Sebenarnya Dich sendiri masih ingin berlama lama, tapi apalah daya saat Zack mengaktifkan kode merah yang mengartikan ada bahaya, akhirnya si pemuda hanya bisa menjalankan tugas dengan baik. *** VZ- Seri pertama
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD