Setiap mengunjungi warnet Ibi tidak lagi hanya sebatas melihat tren fashion tapi kini dia juga berkirim chat dengan Dewa. Hari ini genap satu minggu mereka berkomunikasi. Biasanya tepat jam dua siang mereka sudah bertemu di aplikasi chat. Tapi sudah setengah jam Ibi menunggu, Dewa tidak kunjung muncul. Sampai akhirnya Ibi memilih pulang.
Ternyata Dewa terlambat online. Saat dia baru saja turun dari motor dan ingin masuk ke warnet, dia melihat seorang gadis mungil keluar dari sana. Gadis itu mengenakan seragam SMA. Rambutnya dikuncir kuda dengan aksen poni yang menutupi penuh dahinya. Tampilan sederhana dari seorang pelajar. Tapi saat itu Dewa malah terpana melihatnya. Ada daya tarik spesial dari gadis mungil itu yang membuat pandangan Dewa tidak lepas darinya.
Dewa lalu mengikuti langkah gadis itu dari belakang. Meninggalkan motornya di parkiran warnet. Bahkan dia melupakan tujuannya datang ke sana. Setelah tiga puluh meter berjalan gadis itu berbelok ke kiri. Dia masuk ke dalam sebuah coffee shop bertuliskan Mama Corner. Dipandanginya terus langkah gadis itu.
Awalnya Dewa berpikir kalau gadis itu sengaja singgah di coffee shop, namun ternyata salah. Dia terus berjalan ke belakang menuju sebuah rumah. Ya, ada sebuah rumah di balik bangunan Mama Corner. Rumah bergaya Belanda yang bercat putih seluruhnya.
Apa mungkin itu rumahnya? Dia masuk ke dalam. Ah, tapi dia siapa? Aku 'kan gak kenal. Hihihi, parah nih aku. Baru ngeliat cewek bening sedikit langsung dikintilin. Dewa menepuk jidatnya, menyadarkan diri dari hal konyol yang sedang dia lakukan kala itu.
Hari berikutnya di jam yang sama, Dewa juga tidak kunjung muncul. Ya, lagi-lagi dia terlambat. Bukan karena disengaja, melainkan dia juga harus fokus pada pekerjaannya. Sebab selama satu minggu kemarin dia lalai bekerja karena keasikan ngobrol di aplikasi chat bersama Ibi.
Sejujurnya saat pertama kali berkenalan dengan Ibi, di hari itu Dewa sedang izin sakit. Sudah dua hari dia demam dan bosan tiduran terus di kamar kost. Dia memutuskan untuk berjalan-jalan sampai akhirnya singgah di warnet yang tidak jauh dari kostnya.
Disanalah pertama kali dia berkenalan dengan Ibi lewat aplikasi online. Karena ijin surat dokter hanya tiga hari, di hari berikutnya Dewa terpaksa curi-curi waktu bekerja untuk bisa chat dengan Ibi lewat komputer kantor. Tapi baru beberapa hari dilakukan ternyata dia malah kena teguran. Terlalu asik sampai ada beberapa pekerjaan yang terbengkalai.
“Apa-apaan kamu Dewa? Setiap hari hanya fokus chattingan! Kamu sebenarnya minat kerja atau tidak sih?!” Atasan Dewa yang galak menegurnya keras.
“I-iya, Pak. Maaf. Saya janji tidak akan mengulanginya.” Dewa meminta maaf lalu pamit keluar dari ruangan atasan.
Sejak saat itu, setelah semua pekerjaannya selesai Dewa baru meminta ijin ke warnet terdekat dari kantor. Tapi lagi-lagi karena pekerjaan, dia tidak bisa online di waktu yang tepat. Waktu yang biasa dia berbincang dengan Ibi, yakni pukul setengah dua siang.
Karena sudah dua hari Dewa tidak muncul, di hari ketiga Ibi memutuskan untuk berhenti membuka aplikasi chat. Pikirnya buat apalagi dia ada di aplikasi itu jika teman satu-satunya disana tidak pernah muncul.
“Ah, ngapain aku nungguin dia terus. Dua hari kemarin dia juga gak online. Mungkin dia bosen kali ngobrol sama aku. Ya udah, toh aku juga gak suka chattingan, kok.” Ibi bermonolog sendiri di ruangan komputernya.
Kebetulan hari itu adalah hari Minggu, sudah pasti Dewa libur kerja. Jadi dia bisa datang lebih cepat ke warnet. Dan lagi-lagi kebetulan, seperti sudah diatur oleh Tuhan, Dewa berada di warnet yang sama dengan Ibi. Posisinya tepat bersebelahan dengan bilik komputer Ibi. Tentu tanpa sengaja dia mendengar ucapan Ibi barusan. Entah kenapa perasaannya menjadi tidak enak.
Kok aku ngerasa cewek di komputer sebelah lagi ngomongin aku, ya?
Dewa terdiam sambil berpikir. Tiba-tiba dia dapat ide untuk bertanya pada operator warnet lewat chat.
“Bang, saya boleh nanya gak?” Kebetulan operator warnet itu seorang laki-laki.
“Nanya apa? Belum satu jam kok mainnya. Baru juga lima belas menit.” Si operator menyahut. Dia pikir Dewa ingin menanyakan batas waktu penggunaan komputer. Sebab setiap satu jam sekali operator akan bertanya ingin selesai atau lanjut memakai komputer, pada pengguna.
“Bukan itu, Bang. Saya mau tanya, cewek di komputer sebelah kiri saya, namanya siapa, ya? Abang tahu, gak?” Dewa langsung pada tujuannya.
“Hahaha, kenapa nih? Naksir ya? Namanya Ibtisam, anak kampung sini. Dia langganan di warnet ini. Eh tapi, jangan macem-macem ya sama dia. Soalnya gue kenal baik sama keluarganya. Dia anak baik-baik, bukan cewek sembarangan.” Si operator warnet langsung wanti-wanti pada Dewa.
“Oh iya, Bang. Enggak kok, saya Cuma penasaran aja. Saya janji gak bakal macem-macem sama dia. Makasih ya Bang, infonya.” Dewa tersenyum lebar mendapat jawaban dari operator warnet.
Feelingku bilang, dia orang yang sama dengan yang chat sama aku kemarin. Namanya pun sama.
Ternyata dua hari tidak bertemu Ibi di aplikasi chat, Dewa malah mendapat hadiah bisa bertemu langsung dengan orangnya. Sungguh kebetulan yang sangat luar biasa.
Dewa sudah tidak sabar ingin melihat Ibi secara langsung. Sebab seminggu kemarin mereka hanya berbincang secara online. Tidak mengetahui wujud masing-masing. Tapi kemudian keinginan itu dia tahan, menunggu sampai Ibi selesai dengan aktifitasnya di dalam bilik komputer dan keluar.
Cakep gak ya anaknya, kira-kira? Kalau suaranya sih kedengeran bagus. Kecil manja-manja gitu. Ah, kok aku jadi gak sabar ya mau ketemu dia. Hahaha ... Dewa menertawai dirinya sendiri. Dia seolah menghadapi pertemuan pertama dengan seseorang yang spesial. Padahal perkenalannya dan obrolannya dengan Ibi tergolong biasa saja. Tidak ada pembicaraan yang khusus. Bahkan Ibi lebih banyak jutek.
Hampir satu jam sudah Dewa menunggu dan menurut perkiraannya beberapa menit lagi Ibi akan keluar. Tidak lupa dia merapikan sedikit rambutnya dengan tangan. Agar saat Ibi melihatnya nanti penampilannya tidak berantakan.
Duh, hahaha, kenapa jadi aku yang gugup, ya? Dewa menertawai dirinya sendiri.
Dewa lebih dulu keluar dari bilik komputer lalu kemudian membayar di operator. Berselang lima menit, Ibi pun keluar. Dewa memperhatikan Ibi tanpa jeda. Tatapan matanya mengikuti setiap langkah Ibi seolah dalam gerakan slow motion dalam film.
Jadi dia? Cewek yang kemarin?
Setelah beberapa detik Dewa lalu menyunggingkan senyum lebar menatap Ibi. Dia begitu senang mengetahui bahwa Ibi adalah cewek yang kemarin membuatnya terpana sampai tanpa sadar dia ikuti dari belakang. Tapi senyuman lebar itu justru membuat Ibi merasa aneh dan takut.
Siapa orang itu? Senyum-senyum gak jelas ngelihatin aku. Hii ...
Selesai membayar, Ibi bergerak cepat meninggalkan warnet. Dari belakang, langkahnya diikuti oleh Dewa.
Aduh, gawat. Dia ngikutin aku.
Ibi semakin cepat melangkah, bahkan dia seperti setengah berlari. Untung saja rumahnya tidak begitu jauh dari warnet. Jadi dalam lima menit dia sudah sampai. Saat Ibi ingin berbelok masuk ke Mama Corner, sebuah tangan menepuk bahunya pelan dari belakang. Sontak Ibi berjingkat.
“Astaghfirullahaladzim, ya Allah. Jangan, tolong jangan hipnotis aku ...!” teriak Ibi. Karena hari itu adalah hari Minggu dan Mama Corner tutup, jadi tidak ada orang disana.