Hari Keberangkatan Dewa

1122 Words
Tanggal keberangkatan Dewa ke kota M pun tiba. Sejak habis shalat subuh, sesungguhnya perut Hanin sudah mulas-mulas, tapi dia menutupi itu dari Dewa. Sekuat tenaga dia tahan rasa sakit di depan suaminya. Agar Dewa tidak memutuskan batal berangkat karena dirinya. Hanin lantas masuk ke kamar mandi. Di sana dia duduk di atas closet seperti akan buang air besar. Hanin mengira mulas-mulas yang dia rasakan hanya masuk angin biasa. Tapi sesungguhnya itu adalah tanda-tanda akan segera melahirkan. Hanin yang polos perkara tentang ini masih juga duduk di atas closet sampai Dewa memanggilnya. “Nin, kamu kenapa? Kok lama banget di kamar mandi?” tanya Dewa. “Gak apa-apa, Mas. Tadi aku abis buang air besar. Ini sekarang mau keluar, kok. Udah selesai,” jawab Hanin. Tapi saat dia ingin mengangkat tubuhnya dari closet, kembali perutnya mulas-mulas. Ya Allah, ada apa sebenarnya dengan perutku? Jangan sampai gara-gara ini Mas Dewa batal berangkat. Dia pasti kecewa. Sekuat tenaga Hanin menahan rasa sakit itu sampai tubuhnya bergetar. Memang menahan mulas sangat tidak enak. Apalagi mulas yang menuju lahiran. Bukan mulas biasa karena permasalahan perut atau salah makan. Tidak kunjung keluar, sekali lagi Dewa memanggil nama istrinya. “Nin, kamu sebenarnya ngapain, sih, di dalam? Kenapa lama banget?” Ceklek! Di saat yang sama Hanin membuka pintu kamar mandi. “I-iya, Mas. Maaf ...,” ucapnya. Keringat memenuhi dahi Hanin. Tidak bisa ditutupi dia tampak sedang menahan rasa sakit. “Kamu sakit ya, Nin?” tanya Dewa kemudian. “Enggak, kok. Aku baik-baik aja, Mas.” Hanin memilih berbohong. “Tapi itu, jidat kamu keringatan. Kayak nahan sakit, bener ‘kan?” tebak Dewa. “Oh, enggak, Mas. Ini tadi aku abis cuci muka.” Hanin tersenyum menjawab sembari dia melangkah menuju pintu kamar. “Aku siapin sarapan buat kamu ya, Mas.” Hanin mengalihkan pembicaraan. “Ya udah, pelan-pelan ya, jalannya. Bangunin Bibi untuk bantuin kamu,” saut Dewa. Sejak kejadian Hanin pernah hampir terjatuh di dapur, Dewa membayar pembantu untuk tinggal di rumahnya. Tadinya dia hanya membayar pembantu yang datang pagi dan pulang sore hari, tapi ternyata itu tidak efektif. Aktifitas Hanin di dapur masih ada setelah pembantunya pulang. Dan Dewa tidak ingin Hanin repot sendirian. Biarlah dia membayar pembantu yang menginap agar Hanin bisa meminta tolong pada Bibi mengingat kondisinya yang sedang hamil. Untuk yang satu itu, Dewa memperhatikan dengan detail. Awalnya tujuannya hanya satu, yakni tidak ingin calon anaknya kenapa-napa. Tapi makin kemari, sedikit banyak muncul rasa sayangnya pada Hanin. Istri yang penurut, pengertian dan selalu ingin membuat suaminya bahagia. Sambil menemani Bibi menyiapkan sarapan, perut Hanin kembali sakit. Sakitnya hilang timbul dalam beberapa menit. Sampai Hanin sendiri heran. Kenapa mulasnya bisa datang dan pergi lalu datang lagi? “Kenapa, Mbak Hanin? Perutnya sakit, ya?” Bibi yang menyaksikan Hanin kesakitan tentu khawatir. “Bibi kasih tau Mas Dewa, ya,” sambung Bibi lagi. “J-jangan, Bi. Jangan ... Nanti Mas Dewa khawatir.” Hanin menggeleng, melarang pembantu rumah tangganya untuk berkata pada Dewa. “Tapi Bibi khawatir, Mbak. Siapa tau itu tanda-tanda mau melahirkan. Mbak Hanin harus terus diawasi sama bidan kalau sudah begini ceritanya.” Dugaan Bibi langsung kesana. Usianya yang sudah lanjut tentu tahu tanda-tanda mau melahirkan seperti apa. “Tapi Hanin gak mau bikin Mas Dewa khawatir, Bi. Hari ini dia akan berangkat ke kota M menghadiri pernikahan teman lamanya. Hanin gak mau gara-gara ini dia batal pergi. Pasti dia kecewa.” Hanin menjelaskan maksud hatinya pada Bibi. “Oalah, gusti! Istri yang mau melahirkan jauh lebih penting daripada pernikahan teman, loh, Mbak Hanin. Ini urusannya hidup dan mati. Kalau gak segera ditangani bahaya,” jelas Bibi lagi. “Gak apa-apa, Bi. Insya Allah Hanin baik-baik aja. Nanti kalau Mas Dewa sudah berangkat ke bandara, Bibi temani Hanin ke bidan, ya,” pinta Hanin. “Masya Allah, Mbak Hanin. Kui solehanya ndak kira-kira. Sampe yang genting begini masih berkorban demi kebahagiaan suami,” protes Bibi, tapi Hanin hanya senyum menanggapi. Selesai menyiapkan sarapan, Hanin duduk di meja makan menunggu Dewa keluar kamar. Tidak berapa lama lelaki itu muncul dengan sebuah tas ransel yang dijinjingnya. “Minum dulu tehnya, Mas.” Kebiasaan Dewa sebelum sarapan adalah meminum teh manis hangat lebih dulu. Setelah itu baru selera makannya muncul. Dewa menenggak tehnya hingga setengah cangkir. Matanya sesekali memandang Hanin. Ada yang aneh dengan istrinya itu. Apa iya Hanin cuci muka tapi bekas air di jidatnya tidak kering juga sampai detik ini? Rupanya Dewa kembali melihat dahi Hanin yang basah. Jelas sudah itu adalah keringat yang muncul saat dia menahan sakit di dapur tadi. Tapi Dewa tidak tahu perkara itu. Dengan santai Hanin menyendokkan nasi goreng ke piring Dewa. Menambahkan telur, irisan tomat, timun serta kerupuk, lalu dia serahkan pada Dewa. “Ayo, dimakan, Mas,” ucap Hanin dengan senyum. Mata Dewa masih memperhatikan Hanin sembari dia menyendokkan nasi goreng ke mulutnya. “Kamu gak makan juga, Nin?” tanya Dewa. Dilihatnya Hanin tidak mengambil nasi goreng untuk dirinya sendiri. “Aku tadi maem roti, Mas. Perutku kayak kenyang, gitu “ Begitu alasan Hanin, sebab perutnya yang mulas tidak ingin diisi makanan dulu Dewa menghabiskan nasi gorengnya dengan lahap. Memang sarapan seperti itu favoritnya. Sederhana tapi mengenyangkan. Saat suapan terakhir Dewa, tiba-tiba mulas perut Hanin datang lagi. Dia ingin pergi dari meja makan tapi tidak mungkin, harus alasan apa dengan Dewa sementara Dewa masih mengunyah suapan terakhirnya. Belum benar-benar selesai. Ya Allah, sakitnya ..., keluh Hanin dalam hati. Kembali dahi Hanin basah karena keringat. Tapi cepat-cepat dia usap sebelum Dewa melihat. Sungguh besar perjuangan Hanin kali ini. Semua dia lakukan demi Dewa. Rasa sakit sebesar apapun sanggup dia tahan agar tidak mengecewakan suaminya. Gak boleh! Mas Dewa gak boleh sampe tau! Hanin meyakinkan dirinya sendiri. Selesai makan Dewa tidak lupa menghabiskan teh manisnya. Dia juga sesekali mengecek ponsel, berkirim kabar dengan Adi kalau jam sebelas nanti dia akan lepas landas dari Bandung menuju kota M. Sementara itu keadaan Hanin sudah tidak karuan tanpa sepengetahuan Dewa. “Mas, aku ke kamar mandi dulu ya. Kebelet pipis.” Hanin buru-buru pergi dari situ menuju dapur. Di sana dia duduk sambil menggenggam tangan Bibi menahankan rasa sakitnya. “Bi, kalau mau melahirkan begini, biasanya berapa lama kita kesakitan?” tanya Hanin dengan suara lemah. “Ya Allah, gusti ..., Bibi gak tega liat Mbak Hanin begini. Ayo, sekarang kita pergi ke bidan, Mbak. Bibi gak bisa pastikan berapa lama, karena setiap orang beda-beda. Tergantung sudah pembukaan berapa bayinya,” jelas Bibi dengan wajah yang sedih. Dia tidak sanggup melihat Hanin seperti itu demi menutupinya dari Dewa. “Jangan sekarang, Bi. Satu jam lagi Mas Dewa akan berangkat ke bandara. Kita tunggu dia pergi dulu ya, Bi.” Permintaan Hanin sampai membuat Bibi meneteskan air mata. Bibi salut pada majikannya, demi suami Hanin rela melakukan itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD