Ibi Rindu Dewa

1218 Words
Dewa memutuskan untuk merahasiakan semuanya. Merahasiakan perbuatan haram yang telah dia lakukan. Apa yang telah terjadi dan tidak sengaja dia lakukan malam itu, dia simpan rapat-rapat. Bersyukur Tuhan selalu menutupi aib manusia. Jika Tuhan menunjukkannya, entah dimana dia harus bersembunyi. Beberapa minggu telah berlalu, Dewa pun berproses pelan-pelan. Dia menjadi pribadi yang lebih sabar, lebih menerima dan pasrah dengan ketentuan yang ada. Dewa fokus pada pekerjaannya. Dia juga sudah tidak terbawa perasaan galau luar biasa perkara Ibi. Walau sesungguhnya rasa cinta yang Dewa miliki pada Ibi belum sirna, tapi dia bisa mengontrol rasa itu. Menganggapnya sebagai kenangan indah yang tidak mungkin lagi bisa dia gapai. Sore hari saat weekend, ketika melihat di siaran televisi nasional, muncul berita tentang persiapan ujian akhir untuk anak SMA. Itu berarti Ibi juga akan menjalani ujian tersebut. Ujian yang nantinya akan mengubah status Ibi menjadi lulusan SMA, bukan lagi anak sekolahan. Seketika Dewa teringat dengan rencana besarnya terhadap Ibi dahulu. Ketika itu dia bertekad sabar menunggu hingga Ibi selesai sekolah lalu kemudian melamarnya untuk menikah. Tapi keadaan berpihak lain. Banyaknya masalah yang datang membuat hubungan mereka berakhir dengan menyisakan kehancuran di hati Dewa. Namun begitupun tidak membuatnya serta merta membenci Ibi. Rasanya cintanya pada gadis itu tidak main-main sampai sulit baginya untuk membenci walau sudah terlukai. Pasti Ibi lagi sibuk belajar sekarang. Dia harus lulus dengan nilai yang bagus agar bisa melanjutkan sekolah ke Mesir sesuai kemauan ayahnya. Kasihan ... Seandainya kita masih bersama, Bi. Aku akan wujudkan impian kamu menjadi fashion stylist sesuai dengan kemauan kamu waktu itu, batin Dewa. Jelas di dalam lubuk hatinya dia masih berharap untuk bersama dengan Ibi. Sementara itu di kota M, persis seperti dugaan Dewa, Ibi memang sibuk belajar. Dia mengikuti bimbingan belajar selama tiga bulan belakangan untuk persiapan menghadapi ujian akhir nasional. Setiap hari sepulang sekolah Ibi tidak pernah absen mengikuti bimbel (bimbingan belajar). Dia sunggt berharap bisa lulus dengan hasil ujian yang bagus. Bukan karena dia ingin mewujudkan cita-cita ayahnya yang menghendaki dia melanjutkan kuliah di Mesir, melainkan karena dia merasa bertanggung jawab untuk hidupnya sendiri. Apapun pilihan kuliahnya nanti, pokoknya dia harus lulus dengan nilai yang bagus. Tidak berbeda dengan Ibi, Zara juga mengikuti bimbel yang sama. Setiap hari dia selalu mengeluh capek dan stres melakukannya. Ya, Zara memang tidak berbakat dalam belajar. Bakatnya adalah bergaul dan menilai sifat laki-laki. Sungguh kelebihan yang langka. “Bi, tau gak, Bi. Hari ini aku tuh lagi seneng banget,” ucap Zara saat mereka sudah di dalam angkutan umum sepulang dari bimbel. Tumben Zara seneng, biasanya dia ngeluh, batin Ibi heran. “Kenapa, Ra? Pasti kamu berhasil jawab soal dari tutornya ya?” Begitu dugaan Ibi. “Ih, bukan. Kalau soal bimbel, aku gak akan pernah berhenti stres sampai kita lulus nanti,” saut Zara. “Terus kamu seneng gara-gara apa?” tanya Ibi lagi. “Adi, kamu inget Adi ‘kan, Bi?” Zara memastikan Ibi tahu lebih dulu sebelum dia menyambung ceritanya. Dan Ibi mengangguk. Mana mungkin dia lupa dengan teman Dewa yang satu itu. Baik dan kocak. “Dia ngajak aku nonton sabtu ini,” sambung Zara lagi. “Hah? Terus kamu mau?” Segera Zara mengangguk cepat. “Terus bimbelnya gimana? Masa kamu bolos, Ra? Dua minggu lagi kita ujian loh.” Ibi mengingatkan. “Ya, kan masih dua minggu lagi, Bi. Aku bolos sehari doang kok. Gak bakal masalah ‘lah. Paling juga ketinggalan pelajaran dikit doank. Ntar aku bisa tanya ke Nuri, temen sekelas bimbelku. Yang penting sabtu ini aku bisa jalan bareng Adi. Ah ..., sekian lama aku ngarepin itu loh, Bi. Sekian lama sampe bertahun-tahun. Semoga aja setelah ini hubungan kami makin dekat dan berlanjut. Amiiiin.” Zara mengoceh panjang lebar. Dia bahkan mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan seperti habis berdoa. Rupanya keterpikatan Zara terhadap Adi tidak pernah luntur. Walau kerap kali pesan singkatnya dicueki oleh Adi, tapi Zara tidak pernah putus harapan. Dia sungguh mengagumi sosok Adi yang blak-blakan, lucu dan seru di ajak ngobrol. Ditambah lagi dengan logat Betawinya yang kental bikin Zara tidak bisa lupa dengan lelaki itu. Ibi sampai geleng-geleng kepala dengan kelakuan sahabatnya itu. Dasar Zara, kalau udah ngomongin cowok, lupa segalanya. Bicara tentang Adi, sedikit banyaknya tentu mengingatkan Ibi pada Dewa. Dewa apa kabar ya? Dia pasti masih benci banget sama Ibi. Semua pesan yang pernah Ibi kirim gak dia balas sekalipun. Apa sedalam itu rasa sakit yang Ibi tinggalkan di hatinya? Tiba-tiba mata Ibi berkaca-kaca mengingat itu. Ibi mengingat pertemuan terakhirnya dengan Dewa beberapa bulan yang lalu. Ketika itu Ibi tidak tahu harus menjawab apa pada Dewa. Ibi bingung. Jika Ibi menjawab menganggap Dewa sebagai kakak, tentu dia pasti akan marah. Tapi jika Ibi menjawab menganggapnya sebagai pacar, entah bagaimana kelanjutannya nanti, Ibi belum siap akan itu. Pikiran gadis itu belum sampai kesana. Kegagalannya memiliki pacar terdahulu membuat Ibi jera akan status tersebut. Ibi bukan tidak memiliki perasaan pada Dewa. Dia jelas menyayangi lelaki itu. Begitu banyak kebaikan dan pengorbanan Dewa tentu hati Ibi tersentuh karenanya. Namun Ibi takut, Ibi belum siap menjalani hubungan yang disebut pacaran bersama dia. Dewa terlalu dewasa. Jarak usia diantara mereka juga terlalu jauh. Membuat Ibi akan canggung karena itu. Dan Ibi tidak ingin hubungannya dengan Dewa menjadi kaku setelahnya. Entahlah, tidak bisa Ibi jelaskan hubungan apa sebenarnya yang Ibi inginkan dari seorang Dewa. Hanya gadis seusianya yang paham. Yang pasti Ibi tidak ingin berpisah namun juga tidak ingin terikat oleh status. Biarlah terjalin rasa kasih diantara mereka seperti sebelumnya. Saling sayang, saling peduli dan saling perhatian. Selalu ada di saat dia butuh dan tidak pernah terasa jauh walau raganya memang terpisah jauh. Ibi sungguh-sungguh nyaman dengan keadaan itu. Walau sesekali ada juga sifat Dewa yang bertentangan dengan kemauannya tapi Ibi mencoba memaklumi. Contohnya seperti kegiatan ekskul yang menjadi masalah besar diantara mereka tempo hari. Sungguh Ibi tidak bermaksud melawan saran Dewa, Ibi juga tidak bermaksud dekat dengan laki-laki lain selain Dewa. Tidak sama sekali. Dia murni ingin mengembangkan diri serta mentalnya. Hanya itu. Namun Dewa berpikir terlalu jauh. Dewa tersakiti terlalu dalam untuk hal yang tidak fatal sama sekali dari Ibi. Dewa terlanjur menduga yang bukan-bukan. Terlepas dari rasa kecewa yang pernah Ibi torehkan sebelumnya pada Dewa. Usia Ibi yang pelan-pelan beranjak dewasa membuatnya mengerti akan arti menghargai pasangan. Membuatnya menjaga diri dari lelaki asing yang tentu akan menyelewengkan janjinya pada Dewa. Ibi paham akan itu. Tapi di sisi lain pengalaman tersakiti membuat Dewa sudah was-was lebih dulu. Pikirannya menghendaki Ibi untuk tidak kemanapun selain bersekolah dan belajar. Tidak boleh menambah teman terkhusus lawan jenis. Sungguh hal yang tidak mengenakkan. Ibi seolah dikekang jika Dewa bertahan dengan sikap seperti itu. Bukan lagi keharmonisan yang didapat dari hubungan Ibi dan Dewa, melainkan menjadi toxic diantara keduanya. Sekarang tidak ada lagi yang patut disesali. Memang sudah waktunya apa yang berawal dari pengkhianatan harus diakhiri dengan rasa sakit. Itu yang wajib didapat oleh Dewa. Sementara Ibi bisa menarik hikmah baik dari perihal ini. Mungkin memang sudah begini jalan yang ditunjukkan Tuhan pada mereka. Harus berpisah dan saling mendoakan untuk kebaikan masing-masing Baru saja Ibi sampai di rumah, ponselnya tiba-tiba berdering. Ada pesan singkat yang masuk. Ibi tidak langsung membuka pesan tersebut. Dia memilih bersih-bersih lebih dulu, berganti pakaian dengan baju tidur lalu kemudian mengecek ponselnya. Siapa lagi yang mengiriminya pesan terkecuali Zara atau teman-teman sekelasnya. Tidak tahunya, di luar dugaan tertulis nama berbeda di layar ponsel Ibi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD