BAB 12 : KECEMBURUAN REY

1876 Words
SELAMAT MEMBACA  *** Saat ini Rara sedang makan siang di sebuah restaurant mewah setelah rapat dengan client nya tadi. Rara bersama Rangga rekan kerja nya yang terlibat dalam Proyek ini. Sebelum nya mereka datang ber lima, namun karena ketiga rekan lainnya masih ada rapat di tempat lain, jadi nya tinggal Rangga dan Rara yang makan siang bersama. "Ra menurut mu apa Mr. Robertoz akan menerima kerja sama dengan perusahan kita ya?" tanya Rangga di sela - sela makan. "Entah lah, tapi menurut ku dia menerimanya. Kalau di lihat dari respon nya tadi sih ku rasa di tertarik dengan program yang kita buat " jawab Rara antusias. "Kita harus mendapatkan proyek ini, bagaimana pun cara nya. Karena ini adalah proyek besar, yang bisa memberikan kita keuntungan berlipat " ucap Rangga semangat. "Kamu tau Ga, apa yang kupikirkan tentang Mr. Robertos tadi." Tanya Rara pada Rangga. "Memangnya apa yang kamu pikirkan?" "Ku pikir dia orang nya masih muda, keren, ganteng, ehhh tau nya ..." Rara menggantung jawabannya dengan ekspresi lucu. "Hahahahaa dan ternyata " ucap Rangga menahan tawa nya. " Zonkkk hahahahaha " mereka pun tertawa bersama. Karena apa yang mereka pikirkan justru bertolak belakang dengan kenyataan nya. Mereka pun melanjutkan makan siang mereka dengan masih diselingi sedikit tawa. Tanpa mereka sadari sedari tadi ada sepasang mata yang tengah menahan amarah menatap mereka. Siapa lagi kalau bukan Rey, dia menatap Rara dengan kecemburuan yang teramat. Lalu dia pergi meninggalkan Restaurant itu dengan perasaan marah nya. *****   REY POV Saat ini aku sedang meeting dengan client ku yang berasal dari Malaysia, seusai meeting mereka pun berpamitan untuk pergi karena masih ada urusan. Karena ini sudah memasuki jam makan siang ku putuskan untuk makan siang sekalian. Ben pun bersama ku makan siang di sini, karena tadi dia ikut meeting dengan ku. " Maaf pak anda akan memesan apa?" Ben bertanya menu apa yang akan aku makan .. "Nasi goreng dan orange jus " jawab ku santai. Kemudian Ben memesankannya kepada pelayan. Saat tengah menunggu pesanan, tak sengaja pandanganku melihat sesosok yang sangat ku kenal. " Rara ..." kata ku pelan, bahkan hanpir tak terdengar. " Ada apa pak?" tanya Ben. " Bukan apa - apa." Ku perhatikan gerak - geriknya, dia tertawa sangat cantik. Tapi dia bersama dengan laki - laki lain. Makan siang bersama siapa dia. Itu lah pertanyaan yang terus berputar di otakku. Melihat ekpresi bahagia dan tawa lepas nya dengan pria lain membuat darah ku mendidih. Aku berusaha menahan amarah ku, agar tidak membuat kekacauan karena aku masih memiliki akal sehat dan urat malu untuk tidak menghancurkan tempat ini karena cemburu. Lebih baik aku segera pergi. " Anda ingin pergi kemana pak?" tanya Ben saat melihat ku beranjak ingin pergi. " Lanjutkan makan siang mu, saya ada urusan mendadak " jawab ku singkat. ***** Author POV Rara tengah mondar - mandir di depan meja kantor nya. Sejak tadi pikirannya merasa tidak tenang. Biasanya dalam sehari Rey bisa menghubunginya lebih dari 5 kali. Tapi ini jangan kan 5 kali, dalam sehari ini Rey belum sekalipun menghubungi nya . "Kamu kenapa sih Ra, kok dari tadi mondar - mandir aja. Sampai- sampai ku panggil nggak dengar." Kata Ryana yang bingung melihat sifat aneh sahabat nya itu. " Ehhh kamu Ry, nggak papa kok” jawab Rara " Cerita aja Ra, aku kan sahabat kamu. Masa nggak mau cerita." Ryana membujuk sahabat nya untuk berbagi beban fikiran. "Aku nggak papa kok Ry, aku cuma sedikit memikirkan seseorang." jawab Rara sambil mengukir senyum menenangkan sahabatnya. Ryana melihat sahabat dengan perasaan bingung, kemudian mengambil tangan Rara dan menenang kan nya. Namun sesaat Ryana tersadar akan suatu hal. "Wowww ini apa " ucap Ryana takjub. "Ada apa sih Ry " tanya Rara bingung. "Sumpah ini keren banget Ra, ini cincin apa. Kok aku baru sadar ya kalau kamu pakai cincin begini. Dari pacar kamu ya, sejak kapan kamu punya pacar Ra, setau ku kamu jomblo abadi." tanya Ryana menggebu. "Apaan sih, ini cuma cincin biasa kok, bukan apa - apa." "Bohong, udah jelas cincin nya keren banget, pasti mahal, kalau ngak cincin tunangan pasti pernikahan." Kata Ryana mencoba menebak. "Sembarangan, aku belum nikah kali " elak Rara. "Terus berarti ini cincin tunangan kan, iya kan, jujur, iya kan." masih dengan sifat ingin tau nya Ryana memberondong Rara dengan berbagai pertanyaan. "Iya " jawab Rara singkat. "Yaampun Ra, kapan kamu tunangan kok aku nggak diundang jahat kamu." Kata Ryana dengan nada nya merajuk. "Maaf Ry, waktu itu dadakan, bahkan aku pun nggak tau. Ini semua orang tua ku yang ngatur." Kata Rara sedikit menyesal. "Terus dia siapa Ra, ganteng nggak, kaya nggak, aku kenal nggak, kenalin Ra. Terus kamu kapan nikah nya?" Tanya Ryana memberondong. "Satu - satu tanya nya Ry " jawab Rara jengah. "Makanya cepetan jawab " kata Ryana tak sabaran. "Iya nanti aku kenalin, biar kamu tau jawabannya. Terus nanti kalau aku mau nikah, kamu orang pertama yang dapet undangannya " jawab Rara seadanya. "Beneran ya, aku marah besar kalau kamu nikah nanti aku nggak diundang. Berarti banyak yang patah hati Ra." " Jangan sampai ada yang tau kalau aku sudah tunangan Ry, apa lagi mau nikah. Pokok nya kamu diam aja, biar kan waktu yang memberitahu mereka " kata Rara memohon. " Oke deh, tapi jangan lupa kenalin siapa cowok yang udah ngasih cincin mahal itu ke kamu ya, jangan lupa lho. Aku mau pulang dulu, bye Rara." kata Ryana kemudian meninggalkan Ruangan Rara untuk pulang. " Oke, bye." jawab Rara singkat . Tiba- tiba Kring .... From: My Love Aku udah di depan kantor kamu, cepat keluar. Rara membaca pesan singkat dari Rey, lalu kemudian dia pergi. Sesampai nya di loby, Rara melihat mobil Rey sudah ada depan. Rara langsung masuk ke dalam mobil. " Sore Rey …" sapa Rara ceria " Sore ..." jawab Rey singkat Rara bingung, dengan sikap cuek Rey sore ini. Tidak biasa nya Rey bersikap sedingin itu dengan nya. Memang sikap Rey dingin dan cuek, tapi tidak saat dia bersama Rara. Saat bersama Rara, Rey akan berubah menjadi pribadi yang hangat. Tapi sikap nya sore ini sungguh membingungkan. Biasanya saat bertemu dengan Rara, Rey akan langsung mencium kening Rara dan menyapa nya. “Kamu kok tumben tadi seharian nggak telpon aku ?” Tidak ada jawaban dari lawan bicara nya Rey tetap diam tanpa menjawab Rara kembali bicara. "Kamu kenapa sih Rey?" tanya Rara “Kamu tanya aku kenapa ?”Rey masih berusaha menormalkan suara nya  dia tidak ingin sampai lepas kendali dengan keadaannya . “ Iya kamu kenapa , nggak biasanya kamu cuek sama aku. Kamu seharian ini tadi juga gak telp aku, bahkan kirim pesan pun enggak. Kamu nggak tanya aku udah makan siang apa belum, seharian ini kamu beda.” “ Untuk apa aku tanya, kalau aku sudah tau jawabannya .” Rey membuang muka setelah menjawab . “Hey maksud kamu apa sih, kamu kenapa, kamu marah sama aku ?” Rey tetap diam tanpa menjawab . “STOPPP .....” tiba – tiba Rara berteriak untuk berhenti . “Hey lihat aku, bilang kalau aku ada salah jangan diam dan cuekin aku. Aku nggak bakalan faham kalau kamu nggak bilang.” Rara mengusap halus wajah kekasihnya dia tau ada yang tidak beres dengan sikap tunangannya hari ini. Tapi Rey tetap diam tanpa mau merespon. “Yaudah kalau kamu tetap nggak mau bicara aku turun disini. Aku nggak mau kamu cuekin, jadi pelampiasan amarah kamu sedangkan aku nggak faham dimana letak kesalahan ku.” Rara berharap Rey akan menahan tanggannya tapi hidup tidak seperti di film kan dan kenyataannya Rey tidak menahan seperti yang Rara bayangkan. Dengan perasan dongkol dia keluar dari mobil dan membanting pintu dengan keras. Tanpa menunggu lama Rey meninggalkan Rara sendiri di pinggir jalan . Rara benar – benar jengkel sekarang dia berdiri di pinggir jalan dan tidak ada satupun taksi yang lewat  padahal hari belum malam . “Kemana sih taksi kok nggak ada yang lewat satupun. Ini juga punya tunangan satu aja aneh nggak ada apa – apa tau – tau ngambek.” Rara hanya bisa mengomel sendiri. Tak lama kemudian Rara melihat sebuah mobil yang berhenti didepannya. Kemudian turun dua orang laki – laki dengan pakaian Rapi serba hitam. “Maaf nona Sera kami diminta tuan Rey untuk menjemput anda dan mengantarkan anda selamat sampai rumah .” Seorang membuka pintu dan meminta Rara untuk masuk. “ Kalian siapa jangan macam – macam sama saya, saya tidak akan ikut kalian siapa tau kalian mau culik saya sana pergi .”  Belum sempat Rara pegi tiba – tiba ada pesan masuk ke dalam ponsel nya . Kring .... From: My Love Cepat masuk dan pulang. Setelah menerima pesan Rara  segera masuk kedalam mobil itu lalu pulang . **** Rara sampai di Apartemen langsung masuk kedalam kamar nya dia merasa sangat lelah entah badannya atau pikirannya yang lelah, yang jelas dia sangat ingin istirahat untuk saat ini. Namun tiba – tiba Rara kepikiran dengan tunangannya , setelah mandi dan bersih – bersih dia segera pergi kerumah Rey . Tok tok tok ... Ternyata yang membuka pintu adalah mom Tiara . “ Ehhh ada Rara, kenapa sayang kesini malam – malam ?” Mom Tiara mengajak Rara untuk masuk .   “Rey nya ada mom ?” “Lho Rey belum pulang sayang, kamu tadi kesini nggak sama Rey, terus kamu kesini sama siapa ?” “Tadi pulang sama aku mom, tapi aku nya di turunin di pinggir jalan. Aku bawa mobil sendiri mom.” “Kenapa lagi anak itu, bahaya sayang anak gadis pergi sendiri malam – malam, tunggu sebentar lagi mungkin  Rey nya pulang .” Tak lama kemudian terdengar suara mobil memasuki pekarangan rumah. “Itu sepertinya Rey pulang, selesaikan masalah kalian mom percaya kalian sudah dewasa mom tinggal kedalam ya sayang.” “ Iya mom .” Rara membukakan pintu sebelum ada ketukan pintu . “ Ngapain disini ?” Rey bertannya dengan cuek  nya. “ Kamu kenapa sih dari tadi aneh deh .” “ Sana pulang sudah malam, biar sopir yang mengantar mu .” “ Tidak perlu, aku bisa pulang sendiri .” Rara segera masuk kedalam mobil namun sebelum dia sempat menutup pintu Rey sudah lebih dulu menahan pintu mobil tersebut . " Siapa yang tadi siang." tanya Rey tiba - tiba. " Siapa?" tanya Rara bingung. " Yang makan siang sama kamu tadi." " Kamu tau." " Siapa?" " Teman kantor ku.” " Cuma teman, tapi makan berdua." "Iya, tadi rame – rame kok tapi yang tiga pulang duluan " jawab Rara gugup, dia bisa merasakan aura intimidasi dari Rey. Dia meraka Rey tengah marah dan cemburu. "Tapi kamu kelihatan bahagia sama dia, kamu tertawa lepas dengannya tapi lihat saat bersama ku apa yang kamu lakukan ?" " Kamu marah Rey." "Aku nggak marah, aku cuma nggak suka lihat kamu makan berdua sama laki - laki lain. Ketawa sama laki-laki lain. Sedangkan kalau sama aku kamu pasti cuek."  Rey mengeluarkan uneg – uneg nya . "Tapi kan cuma teman." "Nggak ada tapi - tapian." "Iya aku nggak ulangin lagi, kamu jangan marah ya. Maafin aku ." kata Rara membujuk " Udah aku maafin tapi tidak ada kata lain kali " jawab Rey tersenyum . “ Jadi dari tadi kamu marah – marah gak jelas sama aku cuma karena cemburu .” Rara mulai menggoda Rey atas sikap nya yang barusan. “ Jangan ulangi lagi, ayo aku antar pulang.” Rey segera mambawa Rara duduk di kursi penumpang mobilnya sedang kan mobil Rara di tinggal. Tak ada percakapan lagi di antara   mereka masing - masing larut dengan pikirannya. " Udah sampai sayang." kata Rey memecah keheningan. "Maksih ya Rey, kamu nggak mampir dulu " tanya Rara saat ingin keluar dari mobil. " Enggak sayang, lain kali aja aku mau langsung istirahat." " Yaudah kamu langsung pulang, terus istirahat ya." Cuppp ... . " Tadi aku belum sempat cium kamu." " Maka nya jangan pemarahan, yaudah aku masuk ya." Rara langsung masuk apertement nya.  ******BERSAMBUNG ****** JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK KALIAN ....  WNG, 16 JULI 2020  SALAM E_PRASETYO 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD